Keselamatan pasien merupakan isu global yang sangat dipengaruhi oleh kualitas komunikasi tenaga kesehatan, khususnya dalam pelayanan gawat darurat yang memiliki tingkat kompleksitas dan risiko tinggi. Rendahnya pemahaman dan keterampilan komunikasi terstruktur pada calon perawat berpotensi meningkatkan kejadian miskomunikasi yang berdampak pada keselamatan pasien. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas mahasiswa keperawatan sebagai mitra melalui pengembangan kemampuan komunikasi efektif berbasis metode SBAR (Situation, Background, Assessment, Recommendation) sebagai bagian dari upaya promotif–preventif keselamatan pasien. Kegiatan dilaksanakan pada 91 mahasiswa keperawatan angkatan 2023 menggunakan pendekatan edukasi partisipatif melalui ceramah interaktif, diskusi studi kasus, dan simulasi praktik SBAR yang kontekstual dengan situasi gawat darurat. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai perubahan pengetahuan dan pemahaman peserta. Hasil menunjukkan peningkatan rata-rata skor dari 82,08 menjadi 94,07 (peningkatan 14,61%) serta peningkatan proporsi peserta pada kategori “sangat baik” dari 48,35% menjadi 91,21%. Selain peningkatan kognitif, kegiatan ini mendorong terbentuknya kesadaran kolektif peserta tentang pentingnya komunikasi terstruktur sebagai budaya keselamatan pasien. Pengabdian ini berkontribusi pada penguatan kapasitas mahasiswa keperawatan sebagai agen perubahan dalam menerapkan komunikasi efektif di lingkungan klinik, serta berpotensi mendukung terciptanya praktik pelayanan gawat darurat yang lebih aman dan berorientasi pada keselamatan pasien.