Sulpiana
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Literature Review: Faktor Penyebab Stunting di Indonesia Hidayati, Nur; Luvi Dian Afriyani; Iswardani, Ratih; Muskhofah Oviyanti; Ulfiana, Alfa; Sulpiana; Lallo, Polina; Sani, Nur Qhomaril Andrea; Handayani, Dwi; Murwanti; Muchtar, Warni
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 1 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stunting is a condition of chronic malnutrition in children over an extended period, resulting in impaired growth, marked by a height that is shorter than the average for their age (Fitriani et al., 2022). UNICEF reported that in 2022, approximately 148.1 million children under five experienced stunting (UNICEF et al., 2023).  This research aimed to identify the factors that affect the prevalence of stunting in toddlers.  This research is based on a review of the literature derived from five articles selected in accordance with the research objectives. The literature was sourced from databases including Google Scholar, PubMed, Journal Center, and Sinta, covering the period from 2020 to 2025. The terms employed are factors and stunting. The literature study concludes that the determinants of stunting incidence in toddlers include nutritional status, dietary intake, nutritional status during pregnancy, family income, and environmental sanitation. Recommendations for Public Health Center to educate mothers of toddlers regarding appropriate nutrition, to regularly supply supplementary food for toddlers, to inform families about their crucial role, to disseminate knowledge on the significance of maintaining good environmental sanitation for children's optimal growth and development, and to consistently monitor children's nutritional status to prevent stunting.   Abstrak Stunting ialah kekurangan nutrisi pada anak dalam jangka waktu lama sehingga pertumbuhan anak menjadi terhambat yang ditandai dengan tinggi badan yang lebih rendah dibandingkan usianya (Fitriani et al. 2022). UNICEF mencatat di tahun 2022 sebanyak 148,1 juta balita mengalami stunting (UNICEF et ai., 2023). Penelitian ini  dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya stunting pada balita. Penelitian ini di review dari literatur yang telah di identifikasi dari 5 artikel yang telah diseleksi sesuai dengan tujuan penelitian, adapun literatur yang direview melalui database yang digunakan  dalam pencarian artikel adalah google scholar, Pubmed, journal center,  dan sinta antara tahun 2020-2025.  Kata kunci yang digunakan yaitu faktor-faktor dan stunting. Kesimpulan dari literatur yang di teliti bahwa faktor yang mempengaruhi kejadian stunting pada balita adalah status gizi, pola makan, status gizi saat hamil, pendapatan keluarga dan sanitasi lingkungan. Saran bagi Puskesmas agar meberikan edukasi ataupun pemahaman kepada para ibu yang memiliki balita tentang pola makan yang benar, memberikan makanan tambahan bagi balita secara rutin, memberikan edukasi pentingnya peran keluarga, memberikan informasi lebih lanjut tentang sanitasi lingkungan yang baik terhadap lingkungan anak-anak agar tumbuh dan kembang anak lebih optimal sesuai usia,  rutin memantau status gizi anak agar anak tercegah dari kejadian stunting.
Pijat Tuina untuk Meningkatkan Nafsu Makan pada Balita Sulpiana; Ratih Iswardani; Nasifah, Isri
Prosiding Seminar Nasional dan CFP Kebidanan Universitas Ngudi Waluyo Vol. 4 No. 2 (2025): Prosiding Seminar Nasional dan Call for Paper Kebidanan Universitas Ngudi Waluy
Publisher : Universitas Ngudi Waluyo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Appetite problems in toddlers remain a common health issue in the community and can affect nutritional intake, nutritional status, and the child’s growth and development process. Poor appetite over a prolonged period may increase the risk of growth disorders and decreased immunity. One non-pharmacological approach that can be applied to address this problem is Tuina massage, a complementary therapy originating from Traditional Chinese Medicine that is beneficial in stimulating the digestive system and improving physical comfort in children. Objective: This community service activity aimed to increase mothers’ knowledge and skills in applying Tuina massage and to improve toddlers’ appetite in a safe and independent manner. Methods: The activity was conducted in the partner area with 20 mothers who had toddlers aged 1–5 years experiencing appetite problems. The implementation method consisted of preparation, implementation, and evaluation stages, beginning with a pre-test questionnaire, followed by health education and demonstration of Tuina massage, hands-on practice by the mothers, and ending with a post-test questionnaire and observation of changes in toddlers’ appetite. Results: Pre-test results indicated that most mothers had a low level of knowledge regarding Tuina massage. After the education and training sessions, post-test results showed an increase in the average knowledge score from the poor to good category. In addition, there was a decrease in the percentage of toddlers with poor appetite and an increase in those with moderate and good appetite after the routine application of Tuina massage. Conclusion: Tuina massage proved to be an effective complementary therapy in improving toddlers’ appetite as well as enhancing mothers’ knowledge and skills. This activity can serve as a promotive and preventive intervention that is safe, easy to implement, and sustainable in supporting toddlers’ health and growth within the community.   Abstrak Masalah nafsu makan pada balita masih menjadi permasalahan kesehatan yang sering dijumpai di masyarakat dan dapat berdampak pada asupan gizi, status gizi, serta proses tumbuh kembang anak. Nafsu makan yang rendah dalam jangka waktu lama berisiko menyebabkan gangguan pertumbuhan dan penurunan daya tahan tubuh. Salah satu upaya nonfarmakologis yang dapat dilakukan untuk mengatasi masalah tersebut adalah pijat Tuina, yaitu terapi komplementer yang berasal dari pengobatan tradisional Tiongkok dan bermanfaat dalam merangsang sistem pencernaan serta meningkatkan kenyamanan tubuh anak. Tujuan: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita dalam menerapkan pijat Tuina serta meningkatkan nafsu makan balita secara aman dan mandiri. Metode: Kegiatan dilaksanakan di wilayah mitra dengan peserta sebanyak 20 ibu yang memiliki balita usia 1–5 tahun dengan permasalahan nafsu makan. Metode pelaksanaan meliputi tahap persiapan, pelaksanaan, dan evaluasi yang diawali dengan pengisian kuesioner pre-test, pemberian edukasi dan demonstrasi pijat Tuina, praktik langsung oleh ibu balita, serta pengisian kuesioner post-test dan observasi perubahan nafsu makan balita. Hasil: Hasil pre-test menunjukkan bahwa sebagian besar ibu balita memiliki tingkat pengetahuan yang masih rendah mengenai pijat Tuina. Setelah dilakukan edukasi dan pelatihan, hasil post-test menunjukkan peningkatan nilai rata-rata pengetahuan ibu dari kategori kurang menjadi baik. Selain itu, terjadi penurunan persentase balita dengan nafsu makan kurang serta peningkatan balita dengan nafsu makan cukup dan baik setelah penerapan pijat Tuina secara rutin. Kesimpulan: Pijat Tuina terbukti efektif sebagai terapi komplementer dalam meningkatkan nafsu makan balita serta meningkatkan pengetahuan dan keterampilan ibu balita. Kegiatan ini dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi promotif dan preventif yang aman, mudah diterapkan, dan berkelanjutan dalam mendukung kesehatan dan tumbuh kembang balita di masyarakat.