Gede Rudita, I Ketut
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGEMBANGAN TABUH TARI WALI SANGGAR SENI PARI GADING DESA PUPUAN SAWAH, KECAMATAN SELEMADEG, KABUPATEN TABANAN Gede Rudita, I Ketut; Sumardiana, I Putu Gede Padma; Sari, Ida Ayu Putu
WIDYANATYA Vol. 1 No. 2 (2019): WIDYANATYA
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/gmejkz25

Abstract

In general, what is meant by percussion has to do with sounding the gamelan. Maybe by hitting, blowing, swiping and others. Tet Port or percussion is interpreted by the sound of gamelan music in a performance, as a supporter of a ceremony or accompaniment of a dance. Specifically in Balinese musical meaning, what is meant by percussion is the result of the artist's ability to achieve a balance of the game in realizing a repertoire (reportoar) to match the soul, taste and purpose of the composition. Beating does not mean the origin of hitting the gamelan following a melody, but hitting the gamelan with all the rules or procedures that have been determined so that the sound of the gamelan can be heard beautifully. The beauty arising from the sound of the gamelan, not only depends on one factor, for example, because the composition of the song is played well, but the beauty occurs due to a balance between the song composition factors, the sound of the gamelan itself including the barrel, the procedures or rules for voicing the gamelan, skills and the artist's ability to animate the song's play. The implementation of religious traditions in the Pupuan Sawah Village is always accompanied by percussion or gamelan to show an aesthetic or beauty and contain the full meaning of sacredness.
ESTETIKA INSTRUMEN KEMPUR DALAM GAMELAN KAKLENTINGAN DI PURA KAHYANGAN JAGAT LUHUR NATAR SARI DESA APUAN BATURITI TABANAN Agung Sari Wiguna, Kadek; Jaya Subandi, I Made; Gede Rudita, I Ketut; Surianta, I Nyoman
WIDYANATYA Vol. 7 No. 2 (2025): Widyanatya: Pendidikan Agama dan Seni
Publisher : UNHI PRESS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32795/93eph023

Abstract

Penelitian ini membahas estetika instrumen kempur dalam gamelan Kaklentingan pada upacara piodalan di Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari, Desa Apuan, Baturiti, Tabanan. Instrumen kempur dipilih sebagai fokus kajian karena memiliki keunikan dalam fungsinya sebagai penanda dimulainya prosesi ritual, pemegang tempo, serta sarana komunikasi simbolis antara umat dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna instrumen kempur dengan menggunakan perspektif estetika menurut Djelantik pada sukerta, yang menekankan pada wujud (form), bobot (isi/fungsi), dan penampilan (makna).       Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan, wawancara dengan pemangku setempat, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen kempur memiliki nilai estetika kompleks: (1) dari segi wujud, kempur merupakan instrumen berpencon laras pelog yang berperan penting dalam struktur musikal gamelan Kaklentingan; (2) dari segi fungsi, kempur berperan sebagai sarana pendukung upacara, alat komunikasi ritual, serta penguat suasana religius; (3) dari segi makna, kempur dimaknai secara religius, estetis, dan pelestarian, sehingga keberadaannya tidak hanya sekadar artefak seni, tetapi juga simbol spiritual yang terus dijaga oleh masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa instrumen kempur merupakan elemen vital dalam gamelan Kaklentingan yang memiliki kedudukan strategis dalam menjaga kesakralan upacara Dewa Yadnya, sekaligus menjadi media pelestarian tradisi musikal dan spiritual masyarakat Bali. Kata kunci: Estetika, Kempur, Gamelan Kaklentingan, Upacara Piodalan