Penelitian ini membahas estetika instrumen kempur dalam gamelan Kaklentingan pada upacara piodalan di Pura Kahyangan Jagat Luhur Natar Sari, Desa Apuan, Baturiti, Tabanan. Instrumen kempur dipilih sebagai fokus kajian karena memiliki keunikan dalam fungsinya sebagai penanda dimulainya prosesi ritual, pemegang tempo, serta sarana komunikasi simbolis antara umat dan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk, fungsi, dan makna instrumen kempur dengan menggunakan perspektif estetika menurut Djelantik pada sukerta, yang menekankan pada wujud (form), bobot (isi/fungsi), dan penampilan (makna). Metode penelitian yang digunakan adalah observasi lapangan, wawancara dengan pemangku setempat, serta studi kepustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen kempur memiliki nilai estetika kompleks: (1) dari segi wujud, kempur merupakan instrumen berpencon laras pelog yang berperan penting dalam struktur musikal gamelan Kaklentingan; (2) dari segi fungsi, kempur berperan sebagai sarana pendukung upacara, alat komunikasi ritual, serta penguat suasana religius; (3) dari segi makna, kempur dimaknai secara religius, estetis, dan pelestarian, sehingga keberadaannya tidak hanya sekadar artefak seni, tetapi juga simbol spiritual yang terus dijaga oleh masyarakat. Penelitian ini menyimpulkan bahwa instrumen kempur merupakan elemen vital dalam gamelan Kaklentingan yang memiliki kedudukan strategis dalam menjaga kesakralan upacara Dewa Yadnya, sekaligus menjadi media pelestarian tradisi musikal dan spiritual masyarakat Bali. Kata kunci: Estetika, Kempur, Gamelan Kaklentingan, Upacara Piodalan