Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

GAMBARAN PENYAKIT MATA YANG MENYERTAI PENYAKIT DIABETES MELLITUS TIPE II PADA LANSIA Indawaty, Septiani Nadra; Ningsih, Ena Aprita; Purwoko, Mitayani
Syifa'Medika Vol 10, No 2 (2020): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v11i1.2183

Abstract

Diabetes Melitus (DM) didefinisikan sebagai penyakit kronis akibat kegagalan pankreas menghasilkan insulin atau ketika tubuh tidak dapat menggunakan insulin dengan efektif. Prevalensi DM di Indonesia pada tahun 2013 adalah sebesar 13%. Adanya komplikasi mikrovaskular dapat menyerang organ mata dan menimbulkan berbagai penyakit mata. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran penyakit mata yang menyertai lansia yang menderita DM tipe II sepanjang tahun 2016 di RS Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilakukan dengan menilik rekam medik di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang selama periode 1 Januari - 31 Desember 2016. Pengambilan sampel menggunakan teknik simple random sampling. Penyakit mata yang menyertai penderita DM tipe II adalah katarak, glaukoma, dan miopia. Oleh karena itu, pihak pelayanan kesehatan perlu memberi edukasi kesehatan mengenai hal ini bagi para penderita DM tipe II agar dapat mengontrol kadar gulanya sehingga terhindar dari penyakit mata.
FAKTOR RISIKO TIMBULNYA LOW VISION PASCA OPERASI KATARAK DENGAN TEKNIK EKSTRAKSI KATARAK EKSTRAKAPSULAR Nurjanah, Rizki Anisa; Indawaty, Septiani Nadra; Purwoko, Mitayani
Syifa'Medika Vol 10, No 1 (2019): Syifa' MEDIKA: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan
Publisher : Faculty of Medicine

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/sm.v10i1.1689

Abstract

Tajam penglihatan adalah daya lihat yang mampu dilakukan seseorang. Tajam penglihatan normal adalah apabila seseorang dapat melihat huruf, angka, maupun bentuk dalam berbagai macam ukuran pada kartu Snellen dengan jarak 20 kaki (20/20). Katarak merupakan salah satu penyebab terjadinya gangguan penglihatan terbanyak kedua setelah gangguan refraksi yang tidak terkoreksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi timbulnya low vision setelah operasi bedah katarak di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang. Penelitian ini menggunakan desain penelitian deskriptif kuantitatif dengan pendekatan cross sectional menggunakan data rekam medis pasien yang sudah menjalani operasi katarak di Rumah Sakit Muhammadiyah Palembang periode Januari 2017-April 2018. Besar sampel penelitian ini adalah 31 orang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada kontrol keempat pasca operasi, ada 38,7% subjek yang tetap memiliki low vision. Subjek penelitian sebagian besar terdiri dari individu lansia akhir (74,2%), terdapat 2 orang subjek yang mengalami komplikasi intra operasi (6,4%), dan terdapat 9 orang subjek yang mengalami komplikasi pasca operasi (29,1%). Timbulnya lowvision setelah operasi katarak tidak dipengaruhi oleh usia (p = 1,000) dan komplikasi intraoperasi (p = 1,000), namun dipengaruhi oleh adanya komplikasi pasca operasi (p = 0,043). Faktor risiko timbulnya lowvision pasca operasi katarak adalah adanya komplikasi pasca operasi. Oleh karena itu, perlu upaya pencegahan dari berbagai sisi agar tidak terjadi komplikasi pasca operasi katarak.
Skrining Gangguan Refraksi Mata dan Buta Warna Pada Pelajar SMK Negeri 8 Palembang Purwoko, Mitayani; Indawaty, Septiani Nadra; Rodhiaty, Fera Yunita; Rizki, Putri Nersi; Alifah, Haura Zatty; Jamaiyah, Miranda; Utami, Dhiya Luthfiyyah; Miranda, Mira
Pengabdian Masyarakat Sumber Daya Unggul Vol. 2 No. 1 (2024): Volume 2 Nomor 1 Tahun 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Publikasi Ilmiah, Yayasan Almahmudi Bin Dahlan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37985/pmsdu.v2i1.331

Abstract

Skrining gangguan penglihatan (visus) dimaksudkan untuk mencegah kejadian gangguan ketajaman penglihatan. Pemeriksaan tajam penglihatan dilakukan dengan kartu Snellen (Snellen Chart) yang berisikan berbagai ukuran huruf atau angka yang ditempatkan pada jarak 6 meter di depan pasien. Selain gangguan penglihatan, pelajar juga mungkin mengalami buta warna yang dapat menghambat pilihan studinya di masa depan. Buta warna bersifat diturunkan dari ibu kepada anak laki-lakinya. Pemeriksaan buta warna dilakukan dengan menggunakan Buku Ishihara. Hasil skrining pada 20 orang pelajar didapatkan 10 orang (50%) mengalami kelainan refraksi mata dan 1 orang pelajar laki-laki (5%) menderita buta warna parsial. Ada banyak faktor yang dapat menyebabkan seorang pelajar mengalami kelainan refraksi. Hal ini dapat diatasi dengan koreksi visus menggunakan kacamata yang sesuai. Buta warna bersifat genetik sehingga tidak dapat disembuhkan, namun penderita telah diberi edukasi terkait dampak dari penyakitnya tersebut.