Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Keanekaragaman Serangga dan Jumlah Kerusakan Tanaman pada Kebun Masyarakat Kampung Anggra, Pegunungan Arfak, Papua Barat Palayukan, Magdalena Rara'; Panjaitan, Rawati; Fretes, Yance de; Entama, Aluisius
Igya ser hanjop: Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol 6 No 2 (2024)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Papua Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47039/ish.6.2024.91-100

Abstract

Serangga adalah organisme yang dapat menimbulkan kerusakan pada tanaman dan menurunkan kualitas hasil panen, sehingga dapat menimbulkan kerugian ekonomi bagi masyarakat. Saat ini belum banyak penelitian atau pengetahuan tentang serangga yang sering menjadi hama pada kebun masyarakat dan cara masyarakat menanggulangi hama tersebut. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui keanekaragaman serangga dan jumlah kerusakan yang ditimbulkan pada kebun masyarakat. Penelitian secara dilakukan secara acak pada 4 kebun masyarakat di Kampung Anggra, Distrik Minyambouw, Kabupaten Pegunungan Arfak. Keragaman serangga dihitung dengan menggunakan Shanon-Weiner Diversity Indeks, kesemerataan dan Soronsen Indeks Similarity untuk menilai komposisi spesis pada tiap kebun. Hasil penelitian mencatat 60 spesies serangga dari 37 famili (391 individu) pada 122 tanaman (95 tanaman kol dan 27 tanaman sawi). Tanaman diserang adalah Brassica rapa (sawi putih) dengan jumlah kerusakan 25,47%.
Butterflies (Lepidoptera: Papilionoidae) in Fef Forest, Tambrauw District, Southwest Papua Panjaitan, Rawati; Dolorosa, Via; Fretes, Yance de; Krey, Keliopas
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 11 (2025): November
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i11.13318

Abstract

Butterflies of the superfamily Papilionoidae, or true butterflies, play a crucial role as indicators of ecosystem health and pollinators, and in the Papuan biogeographic region. The diversity of butterflies depends on habitat quality. A high ecosystem composition will support high butterfly diversity. Data on butterfly diversity is not yet available from the Fef forest in Tambrauw, making this research crucial. The composition of butterflies will also determine the condition of the forest, as they are used as bioindicators of forest quality. The forests in the Fef District are classified as secondary and primary forests. The research was conducted over six days of observation, from 8:00 AM to 5:00 PM. The study used a scan sampling method along predetermined transects. Butterflies and dragonflies were captured using insect nets, then photographed and identified. This study aims to understand the diversity and species richness in the region and determine the composition of forest richness in Fef. The research in the Ibu forest in the Fef District identified 96 butterfly species (1.87 individuals). The butterflies found were spread across six transects observed over six days. Transects were established in secondary and primary forest habitats. The Shannon-Wiener index for butterfly diversity was high (H’=3.98). 
Analisis Keragaman Pohon dan Potensi Hutan pada Tiga Hutan Desa di Papua Barat Dolorosa, Via; Benu, Nitanel M. H.; Rachim, Armansyah; Jitmau, Veo; Mergwar, Isma R. H.; Fretes, Yance de
Igya ser hanjop: Jurnal Pembangunan Berkelanjutan Vol 7 No 2 (2025)
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Papua Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47039/ish.7.2025.125-141

Abstract

Penelitian ini menganalisis keragaman potensi hasil hutan kayu (HHK) dan hasil hutan bukan kayu (HHBK) pada tiga Hutan Desa (HD) di Papua Barat: Senderawoi, Wartutin, dan Tanggaromi. Pengambilan sampel vegetasi dilakukan pada 25 plot berukuran 20 × 20 m, dengan indeks Shannon–Wiener digunakan untuk menghitung keragaman hayati. Penyusunan peta kerja dilakukan melalui teknik tumpang susun (layout) berbagai peta tematik biofisik, diikuti dengan proses query untuk menentukan zona berdasarkan kriteria sesuai peraturan yang berlaku. Wawancara dengan tokoh masyarakat dilakukan untuk mengidentifikasi pemanfaatan HHBK. Penentuan jenis kayu mengacu pada Peraturan Menteri Kehutanan RI No. 163/Kpts-II/2003. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketiga HD memiliki keanekaragaman hayati tinggi, dengan berbagai jenis tumbuhan bernilai ekonomi dan ekologis. Tutupan lahan didominasi hutan primer, terutama di Tanggaromi, yang mengindikasikan kondisi ekosistem yang relatif baik. HHBK yang umum dimanfaatkan mencakup tanaman obat, tanaman hias, bahan pangan, dan bahan kerajinan. Namun, potensi HHBK untuk pengembangan ekonomi berkelanjutan masih terbatas, kecuali di HD Wartutin yang memiliki komoditas pala. Pengembangan agroforestri direkomendasikan untuk meningkatkan potensi HHBK, khususnya di HD Tanggaromi dan HD Senderawoi.