Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perlindungan Hak Anak Dibawah Umur dalam Gugatan Warisan Thurfah Bilqis Sa’iidah; Ria Anggraini; Muhamad Wildan Alfarezi; Rizha Claudilla Putri
Politika Progresif : Jurnal Hukum, Politik dan Humaniora Vol. 3 No. 1 (2026): Maret : Politika Progresif : Jurnal Hukum, Politik dan Humaniora
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62383/progres.v3i1.2929

Abstract

Protecting the rights of children in inheritance cases is very important in Indonesian civil law. It involves things like legal ability, who takes care of the child, and making sure the child's rights are properly respected and met. This study looks into how the law protects young people in fights over inheritance, including how guardians are used, any problems where someone might benefit unfairly, and how judges should make sure the child's best interests are always considered. The study uses a normative legal approach, looking at laws and ideas by checking related civil law rules and child protection guidelines. The study shows that children cannot make their own legal decisions in court and need their parents or guardians to act on their behalf. But in real situations, there can be problems where the parents' interests might conflict with what's best for the child, which could affect the child's right to inherit property. Judges are important in checking if the guardian has the right to be in the case and making sure the claim doesn't harm the child. Legal protection in inheritance matters needs to be both official, by having proper representatives, and real, by ensuring fair treatment, clear laws, and special care for children's rights as legal beings who need extra protection.
NORMALISASI BAHASA NEGATIF MELALUI MEDIA SOSIAL PADA MILENIAL, GEN Z, DAN GEN ALPHA Sutriyaningsih ,; Ria Anggraini; Chynta Permata Olivia; Wilden Defran Alkahfi Septian
Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah, dan Asing Vol 9 No 2 (2026): Silampari Bisa: Jurnal Penelitian Pendidikan Bahasa Indonesia, Daerah dan Asing
Publisher : LPPM Universitas PGRI Silampari Lubuklinggau

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31540/silamparibisa.v9i2.4101

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses normalisasi bahasa negatif melalui media sosial pada tiga generasi digital, yaitu Milenial, Generasi Z, dan Generasi Alpha. Media sosial tidak hanya berfungsi sebagai sarana komunikasi, tetapi juga sebagai ruang sosial yang membentuk pola interaksi dan nilai kebahasaan penggunanya. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif. Prosedur penelitian meliputi observasi, pencatatan, dan dokumentasi terhadap tuturan, komentar, dan unggahan media sosial, kemudian dilanjutkan dengan pengelompokan serta analisis data. Data penelitian berupa satuan bahasa tertulis yang mengandung unsur bahasa negatif, seperti kata kasar, ejekan, sindiran, dan ungkapan merendahkan. Sumber data diperoleh dari platform media sosial Instagram, TikTok, dan WhatsApp, serta didukung oleh artikel jurnal nasional yang relevan. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan simpulan dengan mempertimbangkan konteks sosial dan karakteristik masing-masing generasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media sosial berperan signifikan dalam menormalisasi bahasa negatif melalui mekanisme imitasi, pengulangan, dan budaya viral. Bahasa negatif cenderung diterima sebagai hal wajar dan menjadi bagian dari gaya komunikasi generasi digital, dengan pola yang berbeda pada setiap generasi. Simpulan penelitian menegaskan bahwa normalisasi bahasa negatif di media sosial berpotensi menurunkan kualitas etika berbahasa, sehingga diperlukan penguatan literasi digital dan pembinaan etika berbahasa lintas generasi.