Limbu, Anggun Permata Indah
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

HARMONISASI CIPTAAN DALAM AL-QURAN, ALKITAB SERTA ABHIDAMMA Limbu, Anggun Permata Indah
Pute Waya : Sociology of Religion Journal Vol. 1 No. 2 (2020): Desember
Publisher : Program Studi Sosiologi Agama, Fakultas Seni dan Ilmu Sosial Keagamaan, Institut Agama Kristen Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51667/pwjsa.v1i2.351

Abstract

Tulisan ini hendak untuk mengelaborasikan tiga pandangan kitab-kitab keagamaan yakni Al-Quran, Alkitab serta Abdhidamma dalam menanggapi fenomena dalam masyarakat yang urgent belakangan ini. Fenomena tersebut ialah keberlangsungan hidup manusia dan alam yang senantiasa berdampingan. Di samping itu kitab-kitab keagamaan digunakan sebagai acuan bagi umat beragama dalam merealisasikan hidupnya. Dalam penulisannya, kitab-kitab keagamaan sedikit banyak memuat dikotomi terhadap perkembangan dan keutuhan lingkungan hidup dari cara pandang antroposentrisme sekaligus ekosentrisme. Hal tersebut menjadi stimulan dan rangsangan bagi setiap umat untuk bertindak terhadap lingkungan hidup di sekitarnya. Tindakan tersebut dapat direalisasikan dalam wujud menguasi alam secara antrophos atau bertindak secara ekosentris. Berdasarkan sikap manusia terhadap alam, maka deep ecology hadir sebagai suatu paradigma yang muncul juga dalam pandangan Ekoteologi maupun Ekosufisme dalam rangka mewujudkan harmonisasi seluruh ciptaan melalui stimulan dilandaskan pada kitab keagamaan. Di samping itu juga, deep ecology nampak dalam dari perspektif Buddha melalui Abhidamma. Data-data yang didapatkan dalam penulisan ini berdasarkan studi literatur dari berbagai penulis yang membahas tentang hubungan manusia dan alamnya. Oleh sebab itu, melalui kitab keagamaan, wacana-wacana tentang lingkungan hidup semakin hari dikabarkan bagi setiap pendengarnya. Dari kitab keagamaan, muncul gerakan cinta lingkungan yang terus diwartakan dalam setiap peribadahan agar tercapainya harmonisasi tersebut. Akan tetapi, wacana tersebut nyatanya belum dihayati secara benar dalam setiap lapisan masyarakat. Kitab keagamaan sebagai Power of Religion dengan pemahaman yang keliru dapat membangun paradigma-paradigma baru menuju kepada kehancuran lingkungan hidup. Disharmonisasi seluruh ciptaan dapat terjadi jikalau kata “menguasai” dan cara pandang manusia sebagai makhluk super power di salah tafsirkan dalam kehidupan seharinya. Oleh sebab itu, melalui tulisan ini menawarkan beberapa sudut pandang yang dapat dibangun dalam mencapai harmonisasi seluruh ciptaan.
Interreligious Education Model: The Model of Religious Education of Teachers at SMAK BPK PENABUR Jakarta in Responding the Policy of Compulsory Religious Education in Indonesia Nenohai, Jear; Limbu, Anggun Permata Indah
Satya Widya: Jurnal Studi Agama Vol 7 No 2 (2024): Studi Agama
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian pada Masyarakat Institut Agama Hindu Negeri Tampung Penyang Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33363/swjsa.v7i2.1155

Abstract

Research on compulsory religious education policies in Indonesia, criticized for their normative and pedagogically lacking nature, primarily functions as religious instruction due to their mono-religious focus (Bagir: 2011, Suhadi et al.: 2013, Yusuf and Sterkens: 2016). Consequently, the existing religious education model in Indonesia falls short in fostering tolerance and mutual respect among students of diverse faiths, particularly within the school setting. The mono-religious approach not only presents pedagogical challenges but also hinders the development of dialogue between teachers and students of differing beliefs. This paper attempts to narrate teachers' experiences in teaching religious education to students of various religions, utilizing qualitative methods such as literature review and interviews. The study focuses on Christian religion teachers at SMAK BPK PENABUR Jakarta. The findings reveal that teachers face challenges in bridging knowledge gaps between themselves and students, prompting the need for negotiation and transformation of the religious education classroom into an interreligious education space, fostering dialogue between teachers and students of different faiths.