Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pembelajaran Kitab Nihayatuz Zain Metode Syawir Dalam Penguatan Pengetahuan Fikih Santri Di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember Lailatul Azizah; Zainal Anshari
Akademika Vol 19 No 1 (2025): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/adk.v19i1.2495

Abstract

This study addresses the limited fiqh understanding among students at Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember due to time constraints. The Nihayatuz Zain book is used for its relevant content, while the syawir method is applied to enhance comprehension. The research aims to describe the implementation of kitab learning, the use of the syawir method, and the improvement of students’ fiqh knowledge. The focus of this research includes: (1) How is the Nihayatuz Zain book taught at Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember? (2) How is the syawir method implemented in the learning process? (3) How is students’ fiqh knowledge strengthened at the pesantren. The research objectives are: (1) To describe the process of book learning at Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember, (2) To explain how the syawir method is applied in the learning activities, and (3) To describe how students’ understanding of fiqh is reinforced through the learning process.. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data analysis involved data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings show that: (1) Nihayatuz Zain learning is well-planned, covering time, place, objectives, and relevant material. (2) The syawir method runs in three stages: opening, discussion, and closing. (3) Students' fiqh understanding improves through better comprehension, argumentation with Islamic sources, and real-life application of Islamic rulings
Penerapan Model Reciprocal Teaching Dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fikih Kelas 7 Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Banyuwangi Shella Firdaus; Zainal Anshari
Akademika Vol 19 No 2 (2025): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/adk.v19i2.2676

Abstract

Keaktifan belajar siswa harus selalu dikembangkan, beberapa siswa masih kurang aktif dalam proses pembelajaran fikih di kelas. Namun, ditemukan juga potensi keaktifan siswa di kelas 7i, sehingga mendorong diterapkannya model Reciprocal Teaching guna mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam bertanya, berdiskusi, dan mencari informasi. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis perkembangan keaktifan belajar siswa melalui penerapan model Reciprocal Teaching. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di MTsN 3 Banyuwangi dengan subyek guru mata pelajaran fikih dan siswa kelas 7i. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana meliputi kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini melaporkan bahwa: 1) Dari pertemuan pertama dan kedua, terdapat 2 kelompok menunjukkan perkembangan frekuensi pertanyaan dari satu menjadi dua pertanyaan. 2) Pada pertemuan pertama, 6 kelompok terlibat aktif dalam diskusi, lalu keterlibatan aktifnya berkembang menjadi 8 kelompok pada pertemuan kedua setelah adanya scaffolding dari guru. 3) Pada pertemuan pertama siswa menggunakan buku UKBM sebagai sumber informasi. Pada pertemuan kedua, keaktifan siswa mencari informasi berkembang, terlihat dari inisiatif siswa membawa laptop untuk mencari informasi yang lebih luas. Disimpulkan bahwa model Reciprocal Teaching terbukti efektif dapat mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebaiknya guru mata pelajaran fikih lebih sering menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa selama proses belajar di kelas, salah satunya dapat melalui penerapan model Reciprocal Teaching.
Perempuan, Mahluk Paling Super Dalam Islam : Women, The Most Superbe Creatures In Islam Zainal Anshari
An-Nisa' Journal of Gender Studies  Vol. 8 No. 1 (2015): An Nisa' : Jurnal Kajian Perempuan dan Keislaman
Publisher : Institute for Research and Community Service, Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember, East Java, Indonesia.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The issue of women experiencing discrimination in life does not only occur in one particular religion and is not a matter of interpretive bias as alleged by some Muslim scholars and Orientalists. However, discrimination is a human issue that occurs among all groups of people, regardless of religion and background. It is not only women who experience violence; it is not uncommon for men to also experience violence perpetrated by women. Similarly, violence against children is not only perpetrated by men, but also by women/mothers against their children. Therefore, in this context, Islam specifically gives women a very honorable place. As the Prophet said, first, a righteous woman is better than 70 righteous men. Second, whoever brings joy to his daughter, his status is like that of a person who constantly weeps out of fear of Allah (and those who fear Allah will be spared the fire of Hell). Therefore, it is unwise to blame Islam for its treatment of women. Masalah perempuan yang mengalami diskriminasi dalam kehidupan ini, bukan saja terjadi dalam satu agama tertentu dan bukan masalah keberpihakan tafsir sebagaimana dituduhkan oleh sebagian ilmuan muslim dan orientalis. Namun masalah diskriminasi adalah masalah kemanusiaann yang terjadi pada semua golongan manusia apapun agama dan latar belakangnya. Yang mengalami kekerasan bukan hanya perempuan, bahkan tidak jarang laki-laki juga mengalami kekerasan yang dilakukan oleh perempuan. Demikian juga kekerasan pada anak, bukan saja dilakukan oleh laki-laki, tapi juga dilakukan oleh perempuan / ibu kepada anak-anaknya. Oleh karenanya, dalam konteks ini, Islam secara spesifik memberikan ruang yang sangat terhormat kepada perempuan. Sebagaimana arahan nabi berikut ini, pertama, wanita yang solehah (baik) itu lebih baik daripada 70 orang pria yang soleh. Kedua, barang siapa yang menggembirakan anak perempuannya, maka derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah Swt (dan orang yang takut kepada Allah akan diharamkan api neraka atas tubuhnya). Sehingga tidak bijak, jika agama Islam dipersalahkan dalam perlakuannya kepada perempuan.
Pembelajaran Kitab Nihayatuz Zain Metode Syawir Dalam Penguatan Pengetahuan Fikih Santri Di Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember Lailatul Azizah; Zainal Anshari
Akademika Vol 19 No 1 (2025): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/adk.v19i1.2495

Abstract

This study addresses the limited fiqh understanding among students at Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember due to time constraints. The Nihayatuz Zain book is used for its relevant content, while the syawir method is applied to enhance comprehension. The research aims to describe the implementation of kitab learning, the use of the syawir method, and the improvement of students’ fiqh knowledge. The focus of this research includes: (1) How is the Nihayatuz Zain book taught at Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember? (2) How is the syawir method implemented in the learning process? (3) How is students’ fiqh knowledge strengthened at the pesantren. The research objectives are: (1) To describe the process of book learning at Pondok Pesantren Nurul Hidayah Mangli Jember, (2) To explain how the syawir method is applied in the learning activities, and (3) To describe how students’ understanding of fiqh is reinforced through the learning process.. This study uses a qualitative method with a case study approach. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The data analysis involved data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The findings show that: (1) Nihayatuz Zain learning is well-planned, covering time, place, objectives, and relevant material. (2) The syawir method runs in three stages: opening, discussion, and closing. (3) Students' fiqh understanding improves through better comprehension, argumentation with Islamic sources, and real-life application of Islamic rulings
Penerapan Model Reciprocal Teaching Dalam Mengembangkan Keaktifan Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Fikih Kelas 7 Madrasah Tsanawiyah Negeri 3 Banyuwangi Shella Firdaus; Zainal Anshari
Akademika Vol 19 No 2 (2025): Akademika
Publisher : Universitas Islam Lamongan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30736/adk.v19i2.2676

Abstract

Keaktifan belajar siswa harus selalu dikembangkan, beberapa siswa masih kurang aktif dalam proses pembelajaran fikih di kelas. Namun, ditemukan juga potensi keaktifan siswa di kelas 7i, sehingga mendorong diterapkannya model Reciprocal Teaching guna mengembangkan keaktifan belajar siswa dalam bertanya, berdiskusi, dan mencari informasi. Sehingga tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan dan menganalisis perkembangan keaktifan belajar siswa melalui penerapan model Reciprocal Teaching. Metode penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian deskriptif. Lokasi penelitian di MTsN 3 Banyuwangi dengan subyek guru mata pelajaran fikih dan siswa kelas 7i. Teknik pengumpulan data menggunakan wawancara semi-terstruktur, observasi partisipasi pasif, dan dokumentasi. Analisis data menggunakan analisis interaktif Miles, Huberman, dan Saldana meliputi kondensasi data, penyajian data, penarikan kesimpulan dan verifikasi. Keabsahan data penelitian ini menggunakan triangulasi teknik dan triangulasi sumber. Hasil penelitian ini melaporkan bahwa: 1) Dari pertemuan pertama dan kedua, terdapat 2 kelompok menunjukkan perkembangan frekuensi pertanyaan dari satu menjadi dua pertanyaan. 2) Pada pertemuan pertama, 6 kelompok terlibat aktif dalam diskusi, lalu keterlibatan aktifnya berkembang menjadi 8 kelompok pada pertemuan kedua setelah adanya scaffolding dari guru. 3) Pada pertemuan pertama siswa menggunakan buku UKBM sebagai sumber informasi. Pada pertemuan kedua, keaktifan siswa mencari informasi berkembang, terlihat dari inisiatif siswa membawa laptop untuk mencari informasi yang lebih luas. Disimpulkan bahwa model Reciprocal Teaching terbukti efektif dapat mengembangkan keaktifan belajar siswa. Sebaiknya guru mata pelajaran fikih lebih sering menerapkan model pembelajaran yang dapat mengaktifkan siswa selama proses belajar di kelas, salah satunya dapat melalui penerapan model Reciprocal Teaching.