Supriyanto, Supriyanto
Institut Seni Indonesia Surakarta

Published : 8 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

Pendidikan Karakter Dalam Matakuliah Koreografi Mahasiswa Tari Di Isi Surakarta Supriyanto Supriyanto
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 17, No 2 (2019)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (481.131 KB) | DOI: 10.33153/glr.v17i2.2659

Abstract

Koreografi merupakan matakuliah praktek yang harus ditempuh selama berjenjang sampai dengan semester 7 dengan beban 15 SKS. Matakuliah ini merupakan dasar bagi mahasiswa tari untuk bisa menciptakan sebuah tari. Koreografi dipandang mampu sebagai pembentukan pendidikan karakter di ISI Surakarta. Di dalam matakuliah ini sarat akan nilai-nilai kebersamaan, kerja sama, menghargai sesama, saling bertukar pikiran, dan empati. Penelitian ini akan merumuskan beberapa persoalan yaitu bagaimana model pembelajaran koreografi di ISI Surakarta dan nilai-nilai dalam pendidikan karakter apa saja yang terkandung dalam matakuliah koreografi. Tujuan dari penelitian ini adalah Mendeskripsikan model pembelajaran matakuliah koreografi di Institut Seni Indonesia Surakarta dan menemukan nilai-nilai pendidikan karakter yang terkandung dalam matakuliah koreografi. Penelitian merupakan jenis penelitian pustaka dengan memanfaatkan berbagai literatur kepustakaan seperti buku, jurnal, hasil penelitian, makalah, maupun dari internet. Hasil penelitian ini nanti menjadi sampel bagi pendidikan karakter mahasiswa di ISI Surakarta.  
Angguk Warga Setuju sebagai Tari Ritual Desa Bandungrejo Kecamatan Ngablak Kabupaten Magelang Soemaryatmi Soemaryatmi; Mukhlas Alkaf Mukhlas Alkaf; Suharji Suharji; Supriyanto Supriyanto
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 18, No 2 (2020)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/glr.v18i2.3028

Abstract

ABSTRAK Tari Angguk Warga Setuju  merupakan tari yang bertemakan ke Islaman yang digunakan untuk ritual bersih Desa Bandungrejo. Tujuan penelitian adalah untuk mendeskripsikan pelaksanaan pertunjukan Tari Angguk yang digunakan untuk kegiatan ritual desa setempat.Penelitian Tari Angguk menggunakan metode kualitatif, seluruh data yang diambil berupa  kegiatan seperti adat istiadat, pendukung pertunjukan. Tekhnik pengumpulan data menggunakan prosedur observasi, wawancara, dan dokumentasi. Tekhnik analisis data menggunakan analisis bentuk fungsi dan makna.Hasil penelitian  yang diperoleh Pertama, Masyarakat  Desa Bandungrejo,  secara umum merupakan masyarakat tradisional yang masih dipengaruhi nilai-nilai tradisi leluhurnya. Masyarakat  sebagian besar  menganut agama Islam akan tetapi sisa-sisa kepercayaan animisme, dinamisme  dan totemisme yang berbaur kepercayaan Hindu dan Budha masih terasa, hal ini tercermin pada sesaji dan doa-doa yang disajikan.  Aktivitas dalam upacara merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan secara adat yang didasari oleh ajaran-ajaran para leluhur untuk mencapai tingkat selamat.Kedua, Para pelaku Tari Angguk dan penonton menjadi bagian integral seni pertunjukan ritual dan bukan nilai estetis yang akan dicapai tetapi berupa nilai religius yang ditujukan kepada pencipta alam agar  dengan tari mendatangkan kedamaian, kesuburan tanah pertanian, dan kebahagian.  Tari Angguk  selalu dikaitan dengan kekuatan magis simpatetis  sehingga menarik minat penonton. Gerak tari bersifat energik, dengan iringan vokal berisi doa-doa dan musik terbangan. Keyword: angguk, ritual, tari, bersih desa. ABSTRACT Angguk Warga Setuju Dance is a dance with Islamic theme for ritual bersih desa at Bandungrejo Village. This research proposed to describe how to perform Angguk Warga Setuju Dance as ritual activity at local.The research about Angguk Dance is conducted by qualitatively method, which is collection data included all activities such as customs and supporting performance. Data sampling techniques are observation, interview, and documentation. This research uses analysis for function and meaning as its technique of data analysis.Research results shows: Firstly, generally, people of Bandungrejo Village are traditional societies which still affected by their ancestor’s tradition value. Most of them are belief in Islamic. However, there is remaining belief from animism, dynamism, and totemism that blend in Hindhu and Budha belief that still feel; it reflected in sesaji and prayer presented. Activities within a ceremony have been customary habits based on ancestor’s belief to get safety.Secondly, performers and audiences of Angguk Dance are integral part of ritual performance; which is not to reach aesthetic value but religious just for Creator, at mean, a dance will result in peace, field fertility, and happiness. Angguk Dance always in relation with magical sympathetic strength, so it attracts audiences’ interest. Dance movements are energetic and accompanied by vocal included prayers and terbangan music. Keywords: angguk, ritual, dance, bersih desa
BENTUK ESTETIK ONDEL-ONDEL S., Supriyanto; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.318 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2071

Abstract

Studi tentang keberadaan Ondel-ondel di Jakarta sebagai sajian dan fungsi Ondel-ondel. Penelitian ini menjelaskan bentuk dan pemaknaan Ondel-ondel dikaji dengan pendekatan estetik digunakan teori De Witt H. Parker. Pembahas masalah tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif. Analisis data menggunakan interaksi analisis dan interprestasi analisis tekstual. Keberadaan Ondel-ondel di Jakarta berdasarkan dari latar belakang sejarah Ondel-ondel sebelumnya bernama Barongan setelah mendapatkan kembang kelapa (ronceronce) yang terbuat dari kertas nama Barongan diganti dengan Ondel-ondel. Barongan di yakini masyarakat Betawi memiliki kekuatan magis berkarakter seram berfungsi sebagai penolak mara bahaya (sedekah desaatau sedekah bumi) dan peresmian gedung pada masa lalu. Tetapi sekarang Ondel-ondel dengan bentuknya yang ramah berfungsi sebagai hiburan seremonial dan dekorasi untuk tujuan estetis.Kata kunci: Ondel-Ondel, Estetik.It is a study on the existence of Ondel-ondel in Jakarta as an entertainment and a function of Ondel-ondel. This research tells about the form and meaning of Ondel-ondel. It is analyzed through aesthetic approach of De Witt H. Parker’s theory and uses qualitative method. Data is analyzed by using interaction analysis and textual analysis interpretation. Based on the historical background of Ondel-ondel, it is previously named Barongan and after getting coconut flower (ronce-ronce) made of paper, it is changed to Ondel-ondel.People inBetawi believe that Barongan has a magic power with scary character functioning to avoid danger (offerings to village or earth)) and building inauguration in the past. But nowadays,Ondel-ondel with a kindly form becomesa ceremonial entertainment and decorations for aesthetic meaning.Keywords: Ondel-ondel, Aesthetic.
SENI PERTUNJUKAN WAYANG TOPENG GAYA YOGYAKARTA S., Supriyanto
Greget Vol 14, No 2 (2015)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (968.416 KB) | DOI: 10.33153/grt.v14i2.1711

Abstract

Wayang Topeng Pedalangan is one of the links in the chain of history of the performing arts in Java and is believed to have been in existence since the 7th century. The art oftopeng Panji, or the Panji masked dance, first emerged after the appearance of the Panji stories inthe middle of the 13th century during the era of the Singasari Dynasty. During the era of theDemak Dynasty, in the 15th century, topeng Panji was developed by a number of religious leaders,including Sunan Kalijaga. The 16th century marked the beginning of the masked dance beingpreserved and developed by traditional puppet masters, or dalang, and their relatives. These dalangpassed on the art of topeng from generation to generation through their network of relatives whoare referred to as Trah Dalang. The role and function of the dalang is connected with the style ofthe performance which is known as Pedalangan style. The influence of the dalang in topengPanji is still evident today in the areas of Yogyakarta, Klaten, Malang, and Cirebon, each of whichis of course adapted to suit its own regional style. Around the middle of the 20th century, the artof topeng pedalangan was revived and reinterpreted by Krida Beksa Wirama to become a classicalversion of topeng in Yogyakarta style. A number of refinements were made to the techniques andform of the dance which adopted the style of classical Yogyakarta dance. Over time, and with thegrowth of various dance groups which performed classical Yogyakarta style dance, such as YayasanSiswa Among Beksa, Mardawa Budaya, Pamulangan Beksa Ngayogyakarta, and Suryokencana,the classical style of masked dance was perfected by the artists of Yogyakarta.Keywords: Topeng, Dalang, Classical.
PERTUNJUKAN OPERA AGNUS PERDITUS KARYA MATHEUS WASI BANTOLO Estherlita Priskanike Yudiaernanda; Supriyanto Supriyanto
Greget Vol. 20 No. 1 (2021)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/grt.v20i1.4034

Abstract

Agnus Perditus is a dance genre opera, Agnus Perditus is taken from Latin means lost sheep. The work of Agnus Perditus was directed by Matheus Wasi Bantolo for a joint Christmas event between the Indonesian Institute of the Arts Surakarta and Sebelas Maret University which was held at Teater Besar of the Indonesian Art Institute, Surakarta. In 2016 the combined Christmas was directed by Matheus Wasi Bantolo. The theoretical basis in this study uses the concept of working on Rahayu Supanggah which examines the process of working on an art, as well as the theory of form approach from Suzanne K. Langer in her book entitled "Problematic Art" which is translated by F.X Widaryanto. This research is a qualitative research with analytical descriptive method, which describes the results of the observations clearly based on the actual situation. The data collection stage was carried out through observation, interviews, and literature study. The purpose of this research is to reveal the form of the work of Matheus Wasi Bantolo's Agnus Perditus. Opera Agnus Perditus was presented in a joint Christmas celebration event between the Indonesian Institute of the Arts Surakarta and the Sebelas Maret University Surakarta. The work is inspired by the New Testament Bible story in the Gospel of Luke 15: 11-32, which tells of a lost sheep and the film "Prodigal Son" which tells of a lost sheep or a lost child has been found, so it is used as an idea to work on creation the work of Agnus Perditus.Keywords: Dance form, working process, opera, Matheus Wasi Bantolo.
TARI BEDAYA WIWAHA SANGASKARA PERSPEKTIF WIRAGA WIRAMA DAN WIRASA Supriyanto Supriyanto; Suharji Suharji
Jurnal Sitakara Vol 7, No 1 (2022): Jurnal Sitakara
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/sitakara.v7i1.7463

Abstract

Penelitian bertujuan untuk mendeskripsikan Tari Bedaya Wiwaha Sangaskara, dengan fokus  pesrpektif Wiraga, Wirama, dan Wirasa. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif yang bersifat deskriptif, untuk menguraikan hasil penelitian yang berupa aspek wiraga, wirama, dan wirasa yang tergambar dalam pertunjukan Tari Bedaya Wiwaha Sangaskara. Salah satu teori yang digunakan adalah dari Suryobrongto tentang filsafat joged mataram yang berkaitan dengan unsur wiraga, wirama, dan wirasa. Data-data dikumpulkan melalui teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi dalam perolehan datanya dianalisis secara deskriptif. Kajian ini menyimpulkan bahwa, pada Bedaya Wiwaha Sangaskara wiraga dapat dilihat melalui ragam gerak atau motif gerak yang terdapat pada tari Bedaya Wiwaha Sangaskara. Disamping itu wiraga juga dapat dilihat melalui sikap dari seorang penari.  Sikap dan gerak yang baik bagi penari dapat dilihat dari aturan dan kaidah-kaidah tari gaya Yogyakarta yang dilakukan penari. Kepekaan irama gending dan irama gerak yang dilakukan oleh penari Bedaya Wiwaha Sangaskara akan memiliki kesan luwes, pantes, mungguh dan resik.
KESENIAN SRANDUL DALAM UPACARA BERSIH DESA BULU KALURAHAN KARANGMOJO KECAMATAN KARANGMOJO KABUPATEN GUNUNGKIDUL YOGYAKARTA Supriyanto Supriyanto
Jurnal Sitakara Vol 5, No 2 (2020): Jurnal Sitakara
Publisher : Universitas PGRI Palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31851/sitakara.v5i2.4777

Abstract

ABSTRAK Kesenian Srandul merupakan kesenian rakyat yang tumbuh dan berkembang di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Kesenian ini sampai sekarang masih sering dipentaskan, baik sebagai upacara bersih desa maupun sebagai tontonan sekuler. Kesenian Srandul di desa Bulu, Karangmojo, Gunungkidu Yogyakarta, dipentaskan satu tahun sekali dalam rangkaian upacara bersih desa. Masyarakat dusun Bulu masih percaya tentang mitos bahwa wilayahnya dijaga oleh cikal bakal dusun Bulu yaitu Kyai Mojo. Srandul merupakan tari kelompok yang lebih sebagai dramatari, dimana dalam penyajiannya  terdapat tarian, dialog, dan nyanyian yang diiringi dengan musik terbang, angklung, dan kecrek. Upacara bersih desa ini dilakukan dengan tiga tahapan yaitu persiapan, pelaksanaan, dan penutupan. Penelitian ini bersifat kualitatif, metode yang digunakan deskriptif analitis dengan pendekatan etnokoreologi. Pendekatan ini memandang tari sebagai produk budaya non barat, maka di dalam pendekatan ini, presentasi data dipaparkan secara visual fotografi. Kata Kuci : Kesenian Srandul, Upacara Bersih Desa.
BENTUK TARI BEDHAYA KAWUNG KARYA M.G. SUGIYARTI Bella Twoaras Merdekawati; Supriyanto Supriyanto
Greget Vol. 21 No. 1 (2022)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33153/grt.v21i1.4436

Abstract

Tari bedhaya merupakan tarian yang hidup dan tumbuh di lingkungan keraton. Bedhaya adalah salah satu bentuk tarian sakral di keraton, khususnya di Jawa. Tarian bedhaya ini dibawakan pada acara-acara resmi keraton. Tari Bedhaya adalah bentuk tarian berkelompok yang biasanya ditarikan oleh sembilan orang penari wanita. Tari Bedhaya masih dilestarikan di keraton Yogyakarta dan Surakarta. Penelitian ini mengungkap dua permasalahan yaitu bagaimana proses penciptaan tari Bedhaya Kawung dan bagaimana bentuk tari Bedhaya Kawung karya M.G. Sugiyarti. Penelitian ini bersifat kualitatif dengan pendekatan koreografi, metode yang digunakan adalah deskriptif analisis. Dalam membedah masalah proses penciptaan karya tari Bedhaya Kawung menggunakan teori dari B.P.H. Suryodiningrat, sedangkan untuk membedah masalah bentuk tariannya menggunakan teori R.M. Soedarsono. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses penciptaan tari Bedhaya Kawung memiliki tiga tahapan, yaitu: latar belakang tari Bedhaya Kawung, ide atau gagasan, aturan penyusunan tari Bedhaya Kawung gaya Yogyakarta. Sumber gerak tari Bedhaya Kawung menggunakan gaya Yogyakarta. musik yang digunakan adalah seperangkat gamelan tala pelog, kendang dan terompet. Riasan yang digunakan cantik, sedangkan busana yang digunakan adalah rompi tanpa lengan dan motif kain dengan motif kawung. pola garap gerak tari Bedhaya Kawung yang dikembangkan sesuai dengan pola garap gerak tari.