D., Dharsono
ISI Surakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

ESENSI DAN NILAI SENI POSTER PAGELARAN WAYANG KULIT KARYA GESTISUTIS Ryan Sheehan Nababan; G., Guntur; Aton Rustandi Mulyana; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (931.365 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i1.1745

Abstract

Poster tidak hanya sebagai media publikasi acara maupun media kampanye. Poster dapat menjadi mediaekspresi estetis yang mencitrakan pengalaman dan ideologi seniman. Poster Pagelaran Wayang Kulit merupakansalah satu bentuk poster yang diciptakan atas dasar persepsi, pengalaman estetis, serta ideologi dari kelompokGestiSutis. Masalah yang dikaji dalam penelitian ini adalah bagaimana latar belakang pengalaman, ragambentuk visual poster, serta esensi dan nilai dari pengalaman GestiSutis dalam karya-karya posternya. Penelitianini menggunakan pendekatan fenomenologi dengan menggunakan analisis fenomenologi persepsi dari Merleau-­Ponty. Hasil menunjukkan bahwa: pertama, dalam pembentukan persepsi dan pengalamannya terhadap duniaseni tradisi pertunjukan wayang kulit dan dunia seni poster, GestiSutis dipengaruhi oleh faktor historisitas dantemporalitas. Kedua, ragam bentuk Poster Pagelaran Wayang Kulit disusun oleh GestiSutis atas dasar prosespersepsinya yang kreatif, yaitu imajinasi, ekspresi, gaya visual, dan bahasa visual. Ketiga, GestiSutis memilikipengalaman estetis terhadap dunia pewayangan dan dunia poster. Dalam kontruksi nilai, GestiSutis memaknaiPoster Pagelaran Wayang Kulit sebagai kualitas ekspresi estetis, kualitas dokumentasi dan informasi budaya,kualitas edukasi, dan kualitas artist merchandise.Kata kunci: seni poster, wayang kulit, fenomenologi persepsi, Merleau-Ponty.
MISE EN SCENE PROGRAM JAGONGAN SAR GEDHE DAN PEMAKNAANNYA Citra Ratna Amelia; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1073.193 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2074

Abstract

Artikel ini merupakan hasil dari penelitian yang ingin mengungkapkan makna yang terkandung dalam mise en scene program Jagongan Sar Gedhe. Permasalahan yang dikaji dalam penelitian ini diantaranya adalahbagaimana latar belakang penciptaan program Jagongan Sar Gedhe?, bagaimana mise en scene program Jagongan Sar Gedhe? Bagaimana makna yang terkandung dalam mise en scene program Jagongan SarGedhe?.Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotik Roland Barthes dengan melakukan pendekatan signifikansi dua tahap, yaitu tahap denotatif dan konotatif terhadap mise en scene program Jagongan Sar Gedhe. Hasil penelitian ini diantaranya: program Jagongan Sar Gedhe diciptakan sebagai sebuah wadahkomunikasi dan wadah pengkritisan bagi para pemangku kebijakan. Budaya lokal disisipkan dalam unsur mise en scene program Jagongan Sar Gedhe, di mana setting yang digunakan menggunakan ikon pasar Gede sebagai background, setting tempat duduk dibuat lesehan dengan menambahkan gerobak HIK dan alat musik gamelan sebagai backdropnya, kostum yang digunakan para pengisi acara antara lain kemeja batik, lurik, dan kebaya dengan tata rias yang natural. Makna dalam unsur mise en scene program Jagongan Sar Gedhe antara lain makna kebebasan berdemokrasi dan toleransi, makna keegaliteran, makna kesederhanaan dan keakraban, serta makna harmoni.Kata Kunci: Mise En Scene, Program Jagongan Sar Gedhe.The article constitutes a research finding trying to reveal the meaning contained in mise en scene of the program Jagongan sar Gedhe. The problem studied in the research includes how the background of creating the program Jagongan sar Gedhe is, how mise en scenein Jagongan Sar Gedhe is, and how the meaningcontained in mise en scene of program Jagongan Sar Gedhe is. This research applies semiotic approach of Roland Barthes by conducting two stages of significant approach including denotative and connotative stagestowards mise en scene in program Jagongan Sar Gedhe. The research finding shows that program Jagongan Sar Gedhe is created as a media of communication and criticizing the decision makers. Local culture is inserted in mise en scene of program Jagongan Sar Gedhe where the setting uses the icon of Pasar Gedhe as background. The seat setting is lesehan (sits at plaited mat or floor) added by a cart of HIK and gamelan instruments as backdrop. The costumes used by the event participants among other things are batik, lurik(cloth with small line motive), and kebaya (usually worn with a sarong) with natural make up. The meaning of elements in mise en scene program Jagongan Sar Gedhe covering the meaning of freedom of democracy and tolerance, the meaning of egalitarian, simplicity and intimacy, and also the meaning of harmony.Keywords: Mise En Scene, program Jagongan Sar Gedhe.
STRUKTUR DRAMATIK DAN ESTETIK FILM ANIMASI THE LITTLE KRISHNA Cahya Surya Harsakya; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 2 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (799.422 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i2.2075

Abstract

Fokus permasalahan yang menjadi pokok pembahasan penelitian ini adalah struktur dramatik dan sisi estetik film dalam serial animasi The Little Krishna dengan kajian intepretasi analisis wacana estetik. Jenis penelitianini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Penelitian ini berusaha untuk memahami plot (alur cerita) pada program acara anak yaitu film animasi pada objek penelitian yang terkait. Untuk mengkaji alur cerita dalamserial animasi The Little Krishna, digunakan pendekatan struktur dramatik dan estetik film. Data diperoleh melalui observasi pengamatan film, wawancara, dan studi pustaka. Proses analisis data dilaksanakan melalui beberapa tahap, yaitu: pengumpulan data, reduksi, analisis data dan kesimpulan. Kajian unsur dramaturgi antara lain: plot (alur cerita), struktur dramatik, tema, tokoh cerita (karakter dan motivasi), setting, bahasa (teks), genre dan warna. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan struktur dramatik dalam serial animasi The Little Krishna terdiri dari exposition (bagian awal), inciting-action (peristiwa awal), conflication (peningkatan eksposisi), crisis (perkembangan menuju klimaks), climax (peristiwa dramatik), resolution (bertemunyapermasalahan), conclusion (tahap akhir). Analisis estetika merupakan analisa yang terdiri dari, kesatuan (unity) yang berupa alur cerita (plot) merupakan suatu analisis cerita yang menimbulkan kesatuan setting lokasi,kerumitan (complexity) dialog antar tokoh yang menimbukan struktur alur cerita dramatik, dan terakhir kesungguhan (intensity) yang merupakan pergerakan tokoh. Dari keseluruhan teori tersebut ditemukan hasil analisis estetik film animasi The Little Krishna episode The Darling of Vrindavan.Kata kunci: film animasi The Little Krishna, struktur dramatik, dan analisis estetik Film.The research focuses on the analysis of dramatic structure and aesthetic side in the series of animation film The Little Krishna through the interpretative study of aesthetic discourse analysis. It is a qualitative descriptive research. The research tries to understand the plot of the children program, animation film, at the related object in the research. The research applies dramatic structure and film aesthetics approach to analyze the plot of animation series The Little Krishna. Data is collected through observation, interview, and library study.Process of data analysis goes through several steps covering: data collection, reduction, data analysis and conclusion. The study of dramaturgi elements includes plot, dramatic structure, theme, the story characters (characters and motivations), setting, language (text), genre and color. The research finding tells that the applied dramatic structure in animation series The Little Krishna consists of exposition, inciting-action, confliction, crisis, climax, resolution, and conclusion.Aesthetic analysis shows an analysis that consists of unity that represents the plot, a story analysis that creates a unity of location setting; complexity of the dialogues between the characters that leads to dramatic plot structure; and finally intensity that shows the character movements. Based on the above theories, this research produces an aesthetic analysis on animation film The Little Krishna episode The Darling of Vrindavan.Keywords: animation filmThe Little Krishna, dramatic structure, aesthetic analysis of film.
BENTUK ESTETIK ONDEL-ONDEL S., Supriyanto; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 15, No 1 (2017)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1246.318 KB) | DOI: 10.33153/glr.v15i1.2071

Abstract

Studi tentang keberadaan Ondel-ondel di Jakarta sebagai sajian dan fungsi Ondel-ondel. Penelitian ini menjelaskan bentuk dan pemaknaan Ondel-ondel dikaji dengan pendekatan estetik digunakan teori De Witt H. Parker. Pembahas masalah tersebut menggunakan metode penelitian kualitatif. Analisis data menggunakan interaksi analisis dan interprestasi analisis tekstual. Keberadaan Ondel-ondel di Jakarta berdasarkan dari latar belakang sejarah Ondel-ondel sebelumnya bernama Barongan setelah mendapatkan kembang kelapa (ronceronce) yang terbuat dari kertas nama Barongan diganti dengan Ondel-ondel. Barongan di yakini masyarakat Betawi memiliki kekuatan magis berkarakter seram berfungsi sebagai penolak mara bahaya (sedekah desaatau sedekah bumi) dan peresmian gedung pada masa lalu. Tetapi sekarang Ondel-ondel dengan bentuknya yang ramah berfungsi sebagai hiburan seremonial dan dekorasi untuk tujuan estetis.Kata kunci: Ondel-Ondel, Estetik.It is a study on the existence of Ondel-ondel in Jakarta as an entertainment and a function of Ondel-ondel. This research tells about the form and meaning of Ondel-ondel. It is analyzed through aesthetic approach of De Witt H. Parker’s theory and uses qualitative method. Data is analyzed by using interaction analysis and textual analysis interpretation. Based on the historical background of Ondel-ondel, it is previously named Barongan and after getting coconut flower (ronce-ronce) made of paper, it is changed to Ondel-ondel.People inBetawi believe that Barongan has a magic power with scary character functioning to avoid danger (offerings to village or earth)) and building inauguration in the past. But nowadays,Ondel-ondel with a kindly form becomesa ceremonial entertainment and decorations for aesthetic meaning.Keywords: Ondel-ondel, Aesthetic.
ESTETIKA FORMALISME RITA WIDAGDO Marah Adiel; D., Dharsono
Gelar : Jurnal Seni Budaya Vol 14, No 1 (2016)
Publisher : Institut Seni Indonesia Surakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (743.3 KB) | DOI: 10.33153/glr.v14i1.1741

Abstract

Tulisan yang berjudul Estetika formalisme Rita Widagdo, menganalisis bagaimana estetika karya patung RitaWidagdo yang terdapat di Palembang. Tujuan untuk menjelaskan estetika formalism patung karya Rita Widagdodi Palembang, dengan metode kualitatif data diperoleh menginterpretasi analisis patung karya Rita Widagdoyang terdapat di Palembang. Rita Widagdo salah seorang pematung wanita yang konsisten dengan karyapatung abstraknya. Pada tahun 1973 ia mulai dipercaya oleh pimpinan PT Pusri Palembang untuk merancangdan membangun patung-patung monumen pabrik Pupuk Sriwijaya, seperti patung Harapan (1974), patungTaqwa (1976), Patung Syukur (1976), dan monumen PON XVI-2004, patung Tugu Prameswara (2004). Keempatpatung monumen tersebut berukuran besar, mengguna berbagai medium, karakter estetika yang tidak samadan wujud yang ditampilkan abstrak formal dengan prinsip-prinsip dasar geometris; garis, bidang, dan ruangditata dengan kesatuan bentuk yang sempurna, tingkat kesungguhan dan intensitas yang menghasilkan karyaakhir yang sempurna.Kata Kunci: Patung, Abstrak, Rita Widagdo, Palembang.