Prabowo, Yusak Sigit
Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Published : 12 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search

Dari Areopagus ke Nusantara: Teologi Apologetik Paulus dalam Merumuskan Moderasi Beragama di Indonesia Prabowo, Yusak Sigit; Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Santo, Joseph Christ
Miktab: Jurnal Teologi dan Pelayanan Kristiani Vol. 4 No. 1 (2024): Juni 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Torsina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33991/miktab.v4i1.566

Abstract

Artikel ini mengkaji relevansi teologi apologetik Paulus dalam merumuskan konsep moderasi beragama di Indonesia yang multikultural dan plural. Latar belakang penelitian ini berangkat dari tantangan narasi keagamaan ekstremis yang kerap mengancam kohesi sosial dan kerukunan antar umat beragama di Nusantara. Sementara wacana moderasi beragama telah menjadi agenda nasional, landasan teologis yang kuat dan terintegrasi sering kali kurang mendapat perhatian. Oleh karena itu, artikel ini menawarkan sebuah pendekatan teologis yang berakar pada orasi Paulus di Areopagus (Kis. 17:16-34) sebagai kerangka kerja untuk memperkaya dan memperkuat diskursus moderasi beragama. Kebaruan penelitian ini terletak pada pemanfaatan analisis eksegetis terhadap orasi Paulus yang secara tradisional dipahami sebagai model misiologi atau apologetika, untuk kemudian diterapkan secara spesifik dalam konteks tantangan pluralisme kontemporer di Indonesia. Paulus tidak hanya mengkritik kekosongan spiritualisme Helenistik, tetapi ia juga menunjukkan sikap hormat terhadap keyakinan lokal – bahkan menggunakan altar "kepada Allah yang tidak dikenal" sebagai titik tolak untuk memperkenalkan Injil. Sikap ini merefleksikan sebuah model apologetika yang tidak konfrontatif, melainkan dialogis dan enkulturatif. Pendekatan ini merupakan antitesis terhadap narasi apologetika yang bersifat eksklusif dan cenderung menyalahkan tradisi keagamaan lain. Oleh karena itu, artikel ini berargumen bahwa prinsip-prinsip teologis Paulus ini – pengakuan terhadap kebaikan partikular dalam tradisi lain, pengalihan fokus dari perdebatan identitas keagamaan ke esensi spiritual, dan penggunaan bahasa yang empatik – adalah landasan teologis yang solid bagi moderasi beragama. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi dan menganalisis prinsip-prinsip teologis dari orasi Paulus di Areopagus, kemudian mengkontekstualisasikannya menjadi seperangkat etika teologis untuk praktik moderasi beragama di Indonesia. Secara khusus, penelitian ini bertujuan untuk menunjukkan bahwa moderasi beragama bukan sekadar kompromi sosiologis atau politik, melainkan juga memiliki legitimasi teologis yang kuat. Metode penelitian yang digunakan adalah studi teologis-biblika dengan pendekatan analisis naratif dan eksegetis terhadap teks Kisah Para Rasul 17:16-34. Hasil analisis ini kemudian dipadukan dengan analisis kontekstual terhadap isu-isu pluralisme dan moderasi beragama di Indonesia. Pendekatan interdisipliner ini memungkinkan penulis untuk menjembatani jurang antara teks suci dan realitas sosial, menghasilkan sebuah sintesis yang relevan dan praktis. Sebagai kesimpulan akhir, artikel ini menemukan bahwa teologi apologetik Paulus di Areopagus menyediakan blueprint bagi umat beragama di Indonesia untuk terlibat secara konstruktif dengan “yang lain.” Moderasi beragama, dalam perspektif ini, adalah ekspresi ketaatan yang mempromosikan kebenaran universal sambil tetap menghargai manifestasi iman dalam beragam bentuk. Dengan mengadopsi model Paulus, umat beragama dapat menjadi agen dialog dan perdamaian, bukan lagi agen konflik, dengan cara yang tetap setia pada ajaran iman mereka.
Membangun Strategi Gereja Berdasar Kisah Para Rasul 4:1-31 Terhadap Gerakan Keagamaan yang Konfrontatif Sumiwi, Asih Rachmani Endang; Prabowo, Yusak Sigit
Angelion Vol 6 No 2 (2025): Desember 2025
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jan.v6i2.1028

Abstract

This study aims to formulate a church strategy in dealing with confrontational religious movements by using a contextual hermeneutic approach to Acts 4:1-31. The issues behind this research are polarization and challenges to religious freedom that require the church to not only remain silent but respond wisely. This qualitative research uses contextual hermeneutic methods to analyze the text, then formulate relevant theological principles and strategies. The results of the study show that the response of the early church was not physical resistance, but rather a response rooted in a strong theological foundation, namely the absolute sovereignty of God (Despotes) and community solidarity. This results in the courage (parrhesia) to continue to testify. Based on these findings, the study formulated three elements of strategies for the church: (1) Faith-Based Strategies to strengthen congregational understanding, (2) Community-Based Strategies to build internal solidarity, and (3) Testimonial-Based Strategies to act with compassionate courage. Thus, this study concludes that effective church responses are proactive and transformative, not reactive and confrontational. This aims to maintain the testimony, harmony, and integrity of the church in the midst of a pluralistic society. Penelitian ini bertujuan untuk merumuskan strategi gereja dalam menghadapi gerakan keagamaan yang konfrontatif dengan menggunakan pendekatan hermeneutika kontekstual terhadap Kisah Para Rasul 4:1-31. Isu-isu yang melatarbelakangi penelitian ini adalah adanya polarisasi dan tantangan terhadap kebebasan beragama yang menuntut gereja untuk tidak hanya berdiam diri, tetapi merespons secara bijaksana. Penelitian kualitatif ini menggunakan metode hermeneutika kontekstual untuk menganalisis teks, kemudian merumuskan prinsip-prinsip teologis dan strategi yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa respons gereja mula-mula bukanlah perlawanan fisik, melainkan respons yang berakar pada fondasi teologis yang kuat, yaitu kedaulatan mutlak Allah (Despotes) dan solidaritas komunitas. Hal ini menghasilkan keberanian (parrhesia) untuk terus bersaksi. Berdasarkan temuan ini, penelitian merumuskan tiga elemen strategi bagi gereja: (1) Strategi Berbasis Iman untuk menguatkan pemahaman jemaat, (2) Strategi Berbasis Komunitas untuk membangun solidaritas internal, dan (3) Strategi Berbasis Kesaksian untuk bertindak dengan keberanian penuh kasih. Dengan demikian, penelitian ini menyimpulkan bahwa respons gereja yang efektif adalah yang proaktif dan transformatif, bukan reaktif dan konfrontatif. Hal ini bertujuan untuk menjaga kesaksian, kerukunan, dan integritas gereja di tengah masyarakat plural.