Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Investasi Bisnis Porang di Perum Perhutani KPH Bondowoso Perspektif Hukum Ekonomi Syari’ah Mohammad Samsul Arifin
Istidlal: Jurnal Ekonomi dan Hukum Islam Vol 5 No 1 (2021)
Publisher : Program Pascasarjana Universitas Ibrahimy

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.336 KB) | DOI: 10.35316/istidlal.v5i1.305

Abstract

Dalam rangka meningkatkatkan sumber daya hutan, Perum Perhutani Bondowoso membuka kesempatan untuk melakukan mitra kerjasama. Dalam hal ini, PT Bumi Nusantara Coconut telah melakukan perjanjian kerjasama dengan Perhutani dan LMDH Sumber Mas yang berkongsi khusus pembibitan porang. Ada beberapa bentuk kemitraan bagi hasil pengelolaan sumberdaya hutan dengan proses dan ketentuan bagi hasil yang diatur dalam perjanjian, Pertama; Perum Perhutani dengan LMDH bagi hasilnya 70% LMDH, 30% Perhutani. Kedua; ketika melibatkan investor, bagi hasilnya 40% Perhutani, 40% Investor dan 20% LMDH sesuai kesepakatan perjanjian. Sementara, investasi bisnis porang yang terjadi di RPH Pakisan, ketentuan bagi hasilnya masih kurang jelas. Perhutani 30%, Investor 65%, sedangkan LMDH 5% sampai 10%, tergantung pemberian dari Perhutani. Dari hasil analisis data peneliti dapat menyimpulkan bahwa proses dan ketentuan bagi hasil investasi bisnis porang adalah sah, berdasarkan perjanjian kerja sama dan praktek yang terjadi dilapangan, karena tidak bertentangan dengan konsep hukum ekonomi syari’ah yang proses kegiatannya termasuk akad syirkah ‘inan. Kata Kunci: Investasi, Bisnis Porang, Hukum dan Ekonomi Syari’ah.
The Validity Of Contracts And Ethics Of Tiktok Affiliate Marketing From The Perspective Of Fiqh Muamalah Mohammad Samsul Arifin; Muhammad Juhariyanto; Alfiyanto
SOUTHEAST ASIA JOURNAL oF GRADUATE OF ISLAMIC BUSINESS AND ECONOMICS Vol. 4 No. 3 (2026): January
Publisher : Pascasarjana, Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/sajgibe.v4i3.4467

Abstract

The TikTok Affiliate Program, integrated within the TikTok Shop ecosystem, has become a significant digital business phenomenon in Indonesia, particularly among the Muslim community. This study aims to examine the validity of contracts (akad) within the TikTok affiliate program based on the principles of fiqh muamalah, and to evaluate digital business ethics according to maqasid al-shariah and the characteristics of Islamic marketing. Using a normative qualitative approach, this research analyzes classical fiqh literature, electronic commerce regulations, and TikTok affiliate practices. The findings indicate that the TikTok affiliate program can be classified as an agreement of ju‘alah or samsarah, which is considered valid under Islamic law as long as it fulfills the conditions of lawful objects, contract transparency, and the absence of gharar (uncertainty) or riba (usury). However, ethical challenges such as misleading promotions and regulatory violations—necessitate the strengthening of sharia-based guidelines. This study recommends fiqh muamalah education for affiliates and the development of sharia-based regulations by the TikTok platform to ensure ethical digital business practices.