p-Index From 2021 - 2026
0.562
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Teknik ITS
Santoso, Eko Budi
Departemen Perencanaan Wilayah dan Kota Institut Teknologi Sepuluh Nopember Surabaya

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Faktor Prioritas Pengembangan Minawisata Di Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik Kurniawan, Jefriansyah Bayu; Santoso, Eko Budi
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 2 (2024): IN PRESS (Artikel masih bisa bertambah)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i2.124267

Abstract

Hampir di setiap sudut daerah Indonesia terdapat kawasan pesisir yang terkenal sebagai ekosistem perairan dengan sumberdaya yang melimpah, potensi budidaya perikanan, keanekaragaman hayati, dan daya tarik wisata bahari. Seperti kepingan logam yang saling bersatu, sektor perikanan dan pariwisata merupakan dua hal yang saling melengkapi satu sama lain. Terdapat dua pola pemanfaatan ruang dan sumberdaya dalam minawisata, yaitu gabungan pemanfaatan ruang dan irisan pemanfaatan ruang serta sumberdaya perikanan dan pariwisata yang terintegrasi. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan faktor prioritas pengembangan minawisata di Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik. Metode yang digunakan adalah metode analisis delphi untuk mengetahui variabel-variabel yang berpengaruh dalam pengembangan minawisata, setelah itu menggunakan metode Analytical Hierarchy Process (AHP) guna mengetahui faktor-faktor prioritas pengembangan minawisata di Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa faktor prioritas pengembangan minawisata di Kecamatan Ujungpangkah Kabupaten Gresik ada 4 faktor prioritas sebagai berikut, 1. Aksesibilitas; 2. Sumber daya manusia; 3. Daya dukung lingkungan; 4. Kelembagaan.
Pengembangan Ekonomi Lokal Berbasis Produk Olahan Bandeng Pulau Mengare Kabupaten Gresik Rahmawati, Ayunda; Santoso, Eko Budi
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 2 (2024): IN PRESS (Artikel masih bisa bertambah)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i2.124947

Abstract

Komoditas bandeng merupakan salah satu produk unggulan Pulau Mengare, Kabupaten Gresik. Namun, komoditas bandeng di Pulau Mengare masih belum dikembangkan secara maksimal karena kondisi masyarakat yang masih awam dalam hal berinovasi dan pemasaran serta peran kelembagaan yang kurang optimal. Tujuan dari penelitian ini untuk merumuskan arahan pengembangan produk olahan komoditas bandeng dengan pendekatan Pengembangan Ekonomi Lokal (PEL) di Pulau Mengare. Untuk mencapai tujuan tersebut, diawali dengan pencarian variabel/faktor yang berpengaruh terhadap PEL dengan metode analisis Delphi, hasilnya terdapat 21 variabel/faktor-faktor yang berpengaruh terhadap pengembangan ekonomi lokal berbasis produk olahan komoditas bandeng di Pulau Mengare. Kedua, dari variabel-variabel tersebut kemudian dianalisis dengan metode Content Analysis, ditemukan beberapa potensi seperti tenaga kerja yang terampil dalam bidang pengolahan, kualitas dan kuantitas bahan baku olahan yang baik, adanya peluang CSR, terdapat beberapa lembaga permodalan, serta infrastruktur pendukung yang memadai. Namun masih terdapat permasalahan lain seperti turunnya minat kelompok muda dalam bidang pengolahan ikan, kurangnya perhatian pada inovasi serta kompetensi, tidak aktifnya kelompok masyarakat dalam bidang perikanan dan pengolahan, teknologi pengolahan dan sistem pemasaran yang masih tradisional, kemitraan serta branding produk yang belum terlalu kuat, BUMDES yang masih belum bisa memberikan peminjaman modal usaha, adanya persepsi rumit dalam mengurus perizinan legalitas usaha dan persyaratan peminjaman modal, serta akses jalan yang kurang memadai untuk aksesibilitas kegiatan perekonomian. Terakhir, menyusun arahan pengembangan dengan metode triangulasi untuk menyelesaikan permasalahan serta memaksimalkan potensi yang ada di Pulau Mengare terkait pengolahan komoditas bandeng, di antaranya mengadakan pelatihan kewirausahaan, mendorong penggunaan teknologi pengolahan yang ramah tenaga kerja, mengoptimalkan fungsi BUMDES dalam pemberian bantuan modal, membentuk inclusive society terutama peningkatan kerja sama pihak swasta dan litbang, memperluas jaringan pemasaran melalui segmentasi pasar (identifikasi pasar) dan mengoptimalkan strategi pemasaran secara online melalui E-Commerce dan media sosial, dan sebagainya.
Identifikasi Permasalahan dalam Pengembangan Sentra Industri Batik Tulis Toket di Desa Toket Kabupaten Pamekasan Maisyaro, Rhosa Puri; Santoso, Eko Budi
Jurnal Teknik ITS Vol 13, No 2 (2024): IN PRESS (Artikel masih bisa bertambah)
Publisher : Direktorat Riset dan Pengabdian Masyarakat (DRPM), ITS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.12962/j23373539.v13i2.125170

Abstract

Desa Toket merupakan salah satu desa di Kecamatan Proppo Kabupaten Pamekasan yang memiliki potensi motif khas toket yang diwariskan secara turun menurun dan diproduksi sendiri oleh masyarakat Desa Toket. Meskipun potensi tersebut dapat menjadi pendorong perekonomian Kabupaten Pamekasan namun pengembangan sentra industri batik toket masih belum optimal. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi permasalahan dalam pengembangan sentra industri batik toket. Metode analisis yang digunakan adalah Analisis Delphi dan Analisis Root Cause. Hasil analisis menunjukkan bahwa terdapat permasalahan pada faktor infrastruktur dan sarana, faktor pemasaran, dan faktor kelembagaan. Pada faktor infrastruktur dan sarana terdapat permasalahan yaitu aksesibilitas jalan yang buruk, tidak adanya alat pengelolaan limbah, serta minimnya fasilitas pendukung. Lalu pada faktor pemasaran terdapat permasalahan yaitu kurangnya strategi promosi dan luas pasar yang dicapai masih kurang jauh. Sedangkan pada faktor kelembagaan terdapat permasalahan dampak kebijakan pemerintah tidak dirasakan pengrajin, pengadaan pelatihan tidak dilakukan secara rutin, belum adanya pelatihan pengembangan diri atau manajemen bisnis, kurang baiknya kerja sama stakeholder, serta terdapat kelompok usaha yang masih belum memiliki proses produksi hingga akhir.