This Author published in this journals
All Journal Multikultura
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

KRITIK HEIDEGGER TERHADAP ESENSI TEKNOLOGI MODERN SEBAGAI TITIK TOLAK PENGEMBANGAN ETIKA BARU Kuntjoro, Antonius Puspo
Multikultura Vol. 2, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan yang tejadi di era digital ini memerlukan adanya pendekatan baru dalam etika karena keterbatasan etika tradisional, seperti deontologi dan utilitarianisme serta etika keutamaan, dalam menghadapi isu-isu kontemporer. Kritik filsuf Martin Heidegger terhadap esensi teknologi modern berpotensi menjadi titik awal pengembangan etika baru guna merespons persoalan-persoalan kontemporer terkait lingkungan, hegemoni teknologi, dan implikasi bisnis. Menurut Heidegger esensi teknologi modern adalah menampakkan segala sesuatu sebagai suku cadang yang siap digunakan atau dimanfaatkan untuk kepentingan subjek. Esensi teknologi modern ini menimbulkan bahaya karena bersifat eksploitatif yang berujung krisis ekologis dan alienasi sosial. Menanggapi masalah-masalah kontemporer, etika Heideggerian dapat dikembangkan berdasarkan pemahaman tentang dwelling dan keterbukaan kontemplatif terhadap eksistensi. Etika ini akan menekankan keterhubungan antara manusia, alam, dan dunia, yang akan membimbing kepada hubungan etis dengan sesama manusia dan lingkungan. Menjadikan filsafat Heidegger sebagai titik tolak pengembangan etika baru tidak tanpa tantangan yang serius, namun pengembangan filsafat Heidegger oleh para penerusnya di ranah teknologi dan lingkungan menunjukkan bahwa kemungkinan positif sangat bisa diharapkan.
FILSAFAT TEKNOLOGI BORGMANN SEBAGAI TITIK TOLAK ETIKA BISNIS BARU Kuntjoro, Antonius Puspo
Multikultura Vol. 4, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kelit kelindan antara teknologi dan bisnis telah menghasilkan kekuatan amat besar yang membentuk tatanan baru dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Kekuatan tersebut terwujud dalam perusahaan-perusahaan raksasa berbasis teknologi yang sering disebut sebagai Big Tech, beberapa di antaranya: Amazon, Google, Meta, dan Microsoft. Big Tech memainkan peran sentral dalam mengubah aturan dan nilai dalam masyarakat. Perusahaan-perusahaan besar ini telah memanfaatkan teknologi untuk mengurangi biaya tenaga kerja dan meningkatkan marjin keuntungan. Hal ini makin memperkuat posisi dominan mereka di pasar global. Lebih daripada itu, Big Tech mendorong transisi ke dunia tanpa pekerjaan (post-work world) dengan mengembangkan teknologi yang mengurangi ketergantungan pada tenaga manusia seperti sistem otomatis di gudang Amazon. Pengembangan etika baru khususnya di dunia bisnis dirasakan perlu untuk menanggapi kekuatan-kekuatan besar ini beserta dampaknya terhadap masyarakat luas. Tulisan ini mencoba menjajaki pengembangan pendekatan etika bisnis baru dengan bertitik tolak dari filsafat teknologi Borgmann yang tinjauan kritisnya menyentuh unsur penting dari kedua kekuatan besar yang membentuk kehidupan modern ini, yaitu komodifikasi yang menjadi tujuan teknologi dan dirayakan oleh bisnis.
TUBUH SEBAGAI SUBYEK DALAM DUNIA: KAJIAN ATAS SKEMA TUBUH DAN INTENSIONALITAS MOTORIK MENURUT MERLEAU-PONTY Kuntjoro, Antonius Puspo
Multikultura Vol. 4, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article explores Maurice Merleau-Ponty's thought on the role of the body in shaping human experience, focusing on two key concepts: body schema and motor intentionality. Contrasting with the dualistic approach of modern Western philosophy that separates body and consciousness, Merleau-Ponty asserts that the body is not merely an object but an active subject in the world. The body schema is understood as a dynamic and pre-reflective structure that enables individuals to perceive the position and movement of their bodies within a situational space. Motor intentionality, as illustrated through the case of Schneider, shows that the body has the capacity to project meaning and respond directly to the world without cognitive reflection. This writing emphasizes the need to rehabilitate the role of the body in contemporary philosophical discourse, particularly in understanding the human-world relationship holistically.