Masiadi, Masiadi
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

EKSISTENSI BUDAYA PENCAK SILAT (MANSA’A) DI DESA TINDOI KECAMATAN WANGI-WANGI KABUPATEN WAKATOBI Masiadi, Masiadi; Roslan, Suharty; Jabar, Aryuni Salpiana
SOCIETAL Vol 7, No 2 (2020): Edisi Oktober
Publisher : SOCIETAL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilaksanakan secara kualitatif di Desa Tindoi Kecamatan Wangi-Wangi Kabupaten Wakatobi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa Eksisnya Budaya Pencak Silat (Mansa’a) karena merupakan budaya sejak dulu dan sifatnya turun temurun kemudian diwariskan dari generasi ke generasi. Ada 2 macam Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) yaitu tatanan nilai dana tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan). Tatanan nilai, masyarakat Desa Tindoi dulunya dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) masih memahami, menjaga, mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan) dan sekarang tidak lagi memahami, menjaga, dan mewarisi nilai-nilai solidaritas sosial (kemanusiaan). Tatanan kenyataan (pelaksanaan kegiatan) ada 3 macam yaitu waktu pelaksanaan, pakaian yang digunakan, dan proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a). Dalam pelaksanaan kegiatan, dilaksanakan pada hari-hari yang tidak ditentukan waktunya, dan sekarang dilaksanakan pada hari-hari yang ditentukan yang sifatnya resmi atau sah seperti dalam acara pesta adat kampung. Pakaian yang digunakan dalam memainkan Pencak Silat (Mansa’a) dulunya masih menggunakan pakaian adat seperti peci adat dan sarung tenun adat dan sekarang tidak lagi menggunakan pakaian seperti peci dan sarung tenun adat terkecuali pada acara festival budaya. Sedangkan pada proses pelaksanaan Pencak Silat (Mansa’a), dulunya masyarakat masih memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang memukul gendang dan sekarang masyarakat tidak lagi atau jarang sekali memberikan sikap hormat terhadap orang tua ataupun orang yang memukul gendang ketika masuk untuk memulai memainkan Pencak Silat (Mansa’a). Faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan nilai-nilai sosial terhadap Eksistensi Budaya Pencak Silat (Mansa’a) di Desa Tindoi yaitu ada 3 faktor yaitu penyimpangan sosial, teknologi, dan modernisasi.
Naskah Teori Pendidikan Islam Al-Qur’an, Hadist dan Klasik Fakhrunnisa, Asmi; Masiadi, Masiadi; Zulfikri, Andi; Sumiati, Sumiati
IQRA : JURNAL PENDIDIKAN ISLAM Vol. 5 No. 2 (2025): DESEMBER, IQRA: JURNAL PENDIDIKAN ISLAM
Publisher : IQRA : JURNAL PENDIDIKAN ISLAM

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendidikan Islam dimaksudkan sebagai Upaya sadar dan sistematis untuk membetuk individu yang tidak hanya cerdas secara akademis tetapi juga memilki integritas keimanan, kompetensi agama, serta akhlak yang mulia. Pendidikan Islam bersumber dari tiga landasan yaitu: Al-Qur’an, Hadist dan pandangan Ulama klasik al-Qur’an dan Hadist berfungsi sebagai fondasi utama yang menetapkan kerangka dasar Pendidikan Islam, di mana tujuan utamanya Adalah taqarrub (mendekatkan diri) kepada Allah SWT dan mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat. Konsep-konsep seperti tarbiyah, ta’lim dan ta’dib merupakan terminologi kunci yang mendasari proses pembinaan, pengajaran, dan pembentukan adab/akhlak peserta didik. Sementara pemikiran klasik (seperti Al-Ghazli, Ibn Sina atau Ibn Khaldun) berperan penting sebagai konstruksi interprenatif dan implementatif. Pandangan mereka menjadi pengelola, pengatur, dan penuntun arah Pendidikan Islam, yang mengembangkan konsep-konsep dasar Al-Qur’an dan Hadist menjadi kerangka kurikulum dan metodologi yang komprensif. Oleh karena itu, teori pendidikan Islam mendasarkan dirinya pada kerangka tauhid dan risalah ilahiyah, menjadikannya berbeda secara signifikan dari sistem pendidikan. Kata Kunci: Al-Qur’an; Hadist; Pendidikan Islam; Teori Pendidikan; Ulama Klasik.