Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Exposure Analysis of Heavy Metals in Dugs Well Water of Telutu Jaya Village Community, Tinanggae District, South Konawe Regency Firdaus, Firdaus; Ambarsari, Ika Sartika; Anshari, Erwin; Wahab, Wahab; Saputra, Irfan
ASTONJADRO Vol. 13 No. 3 (2024): ASTONJADRO
Publisher : Universitas Ibn Khaldun Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32832/astonjadro.v13i3.15474

Abstract

The ideal drinking water requirement is clean water that is colorless, odorless, and tasteless, doe not contain pathogenic germs, does not contain chemicals or heavy metals, does not endanger the health of living things, and is not economically harmful. The ARKL study is intended to calculate or predict the risk to human health, including identification of the presence of uncertainty factors, tracing to specific exposures, taking into account the inherent characteristics of the agent of concern, and the characteristics of specific targets. Based on the ARKL study, the minimum RQ and maximum RQ values for each risk agent are <1 (safe). This study used dug-well water from the community of Telugu Jaya Village. The purpose of the study was to assess the risk of exposure to heavy metals contained in dug-well water. Measurement parameters were carried out in the form of Ph, TSS, and nine heavy metal elements (Cu, Cd, Cr6+, CrT, Pb, Ni, Fe, Zn, and Co). After the measurement, the risk of heavy metal exposure to local community-dug well water was analyzed. The results showed that HI <1, so it was concluded that the level of heavy metal intake from the dug well was still below the reference dose (RfD), which means that the exposure limit was still safe.  
Kajian Pengolahan Air Asam Tambang Menggunakan Kapur Tohor (Ca(OH)2) di Kolam Pengendapan Lumpur (Settling Pond) Daerah Kalimantan Selatan Ambarsari, Ika Sartika; Sunandar, Suwarto; Setiawan, Muhammad Dedin
Mining Science And Technology Journal Vol 2 No 2 (2023): Mining Science and Technology Journal
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54297/minetech-journal.v2i2.482

Abstract

Provinsi Kalimantan Selatan dikenal sebagai salah satu daerah penambangan batubara terbesar di Indonesia, yang dilakukan dengan sistem tambang terbuka. Penambangan batubara dimulai dengan pembersihan lahan, pengupasan tanah penutup (overburden), hingga penggalian batubara. Akibat kegiatan penggalian batubara mengakibatkan mineral - mineral sulfida seperti pirit (FeS2) akan mengalami oksidasi sulfidasi, dimana terjadi reaksi antara mineral sulfida dengan oksigen dan air sehingga menghasilkan air asam tambang (AAT). Dalam memenuhi baku mutu lingkungan sesuai dengan peraturan perundang – undangan yang berlaku maka perlu dilakukan pengolahan AAT sehingga dapat memiliki kualitas yang sesuai dengan pemanfaatannya di lingkungan. Teknologi pengolahan AAT telah banyak dikembangkan, salah satunya adalah metode aktif menggunakan bahan kimia yang bersifat alkalin (bahan penetral kalsium dan ammonia). Penelitan ini difokuskan pada penggunaan dosis kapur tohor (Ca(OH)2) untuk menaikkan pH air asam tambang di Kolam Pengendapan Lumpur/KPL (settling pond). Pengkajian dilakukan pada skala laboratorium dan pengamatan langsung dilapangan. Dari hasil analisa laboratorium dan pengujian lapangan didapat dosis kapur tohor (Ca(OH)2) yang efektif untuk menaikkan pH air asam tambang dari pH awal 4 yaitu 0,4 gr/l.
Optimasi Dimensi Paritan Berdasarkan Debit Rencana Pada Area Tambang Terbuka Pit Jamrud Ambarsari, Ika Sartika; Setiawan, Arif
Mining Science And Technology Journal Vol 5 No 1 (2026): Mining Science and Technology Journal
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan, Fakultas Teknik, Universitas Sulawesi Tenggara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54297/minetech-journal.v5i1.1458

Abstract

Kegiatan penambangan terbuka sangat dipengaruhi oleh kondisi hidrologi, terutama dalam pengelolaan air permukaan agar tidak mengganggu operasional. Salah satu komponen penting dalam sistem penyaliran adalah paritan yang berfungsi mengalirkan limpasan air hujan secara terkendali. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dimensi paritan yang optimal berdasarkan debit rencana sehingga mampu mengalirkan air secara efektif tanpa menimbulkan erosi maupun sedimentasi berlebih. Metode yang digunakan meliputi analisis hidrologi untuk memperoleh debit rencana dari data curah hujan, dilanjutkan dengan analisis hidraulika menggunakan pendekatan persamaan Manning guna menentukan kapasitas aliran saluran. Variabel yang dikaji mencakup luas daerah tangkapan hujan, koefisien limpasan, kemiringan saluran, serta kekasaran permukaan. Proses optimasi dilakukan dengan membandingkan beberapa alternatif dimensi paritan hingga diperoleh kombinasi yang memenuhi kriteria kapasitas aliran dan kestabilan saluran. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dimensi paritan yang dirancang berdasarkan debit rencana mampu meningkatkan efisiensi sistem penyaliran serta meminimalkan potensi genangan pada area tambang. Selain itu, desain yang optimal juga berkontribusi dalam mengurangi risiko kerusakan saluran akibat kecepatan aliran yang tidak terkendali. Dengan demikian, pendekatan ini dapat dijadikan acuan dalam perencanaan sistem penyaliran tambang terbuka yang lebih efektif dan berkelanjutan