Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

PENGARUH VARIABEL PELINDIAN TERHADAP EKSTRAKSI NIKEL DALAM PELINDIAN BIJIH NIKEL LATERIT Wahab, Wahab; Deniyatno, Deniyatno; Ismayanti, Windi; Supriatna, Yayat Iman
JST (Jurnal Sains dan Teknologi) Vol 10, No 2 (2021)
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (763.012 KB) | DOI: 10.23887/jst-undiksha.v10i2.33125

Abstract

Pelindian bijih nikel laterit pada tekanan atmosfir menjadi perhatian karena memiliki beberapa kelebihan yaitu biaya operasional dan kebutuhan energi yang rendah. Dalam penelitian ini akan dipelajari pengaruh temperatur, konsentrasi asam, dan waktu pelindian terhadap persen ekstraksi nikel. Dalam penelitian ini variabel yang digunakan yaitu temperatur (80⁰C, 90⁰C, 100⁰C), konsentrasi asam sulfat (0,8 molar, 1,1 molar, 1,4 molar) dan waktu pelindian (80 menit, 90 menit, 100 menit). Agen pelindi yang digunakan yaitu larutan asam sulfat. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh persen ekstraksi nikel tertinggi yaitu 91,430% pada temperatur 100⁰C dan waktu pelindian 180 menit. Hasil Analysis of Variance (ANOVA) menunjukkan urutan variabel yang paling yaitu konsentrasi asam sulfat (B), temperatur (A), waktu pelindian (C), interaksi temperatur-waktu pelindian (AC), interaksi temperatur-konsentrasi asam sulfat (AB), interaksi temperatur-konsentrasi asam sulfat-waktu pelindian (ABC), dan interaksi temperatur-waktu pelindian (BC).
Pengaruh Struktur Geologi Terhadap Endapan Nikel Laterit Di Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Hasria, Hasria; Anshari, Erwin; Restele, La Ode; Deniyatno, Deniyatno; Firdaus, Firdaus; Muliddin, Muliddin; Okto, Ali; Suparwi, Suparwi
JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi) Vol 5, No 1 (2021): JAGAT (Jurnal Geografi Aplikasi dan Teknologi)
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33772/jagat.v5i1.17079

Abstract

Abstrak: Penelitian yang dilakukan di daerah Morombo, Kabupaten Konawe Utara  Sulawesi Tenggara, Indonesia  bertujuan untuk mengindentifikasi struktur geologi yang berkembang dan menganalisis hubungan struktur geologi dengan kadar nikel (Ni) dan besi (Fe) pada endapan nikel laterit daerah penelitian. Penelitian ini melakukan  pengamatan dan pengambilan sampel yang representatif secara langsung di lapangan pada bulan Juli-Desember tahun 2019.  Sampel dianalisis menggunakan analisis X-Ray Fluoresence (XRF), untuk mengetahui sebaran kadar nikel (Ni) dan (Fe) dan pengaruh struktur terhadap endapan nikel laterit. Hasil analisis  menunjukkan bahwa sebaran kadar  Ni dan Fe sangat bervariasi dengan kadar rata-rata sebesar 15.42 %.  Struktur geologi yang berkembang  adalah kekar berupa kekar gerus dan kekar tarik. Hasil analisis tegasan umum struktur geologi dengan kadar Ni dan  Fe menunjukkan bahwa kadar  Ni  meningkat  pada daerah yang memiliki struktur dengan mengikuti orientasi struktur geologi karena unsur ini memiliki tingkat daya larut yang tinggi sehingga mudah bergerak ke arah sepanjang struktur geologi. Sebaliknya, kadar Fe tidak terlalu berpengaruh terhadap orientasi struktur geologi karena unsur ini bersifat immobile dan tidak mudah larut karena memiliki kestabilan yang lebih tinggi. Kata Kunci : Struktur geologi, nikel, besi, nikel laterit, X-Ray Fluoresence.
Kinetics Study of Leaching Ore Nickel Laterite Using Hydrochloric Acid in Atmosphere Pressure Wahab Wahab; Deniyatno Deniyatno; Marthines Saranga; Yayat Iman Supriyatna
JURNAL RISET GEOLOGI DAN PERTAMBANGAN Vol 32, No 1 (2022)
Publisher : Indonesian Institute of Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14203/risetgeotam2022.v32.1163

Abstract

Leaching of nickel laterite ore at atmospheric pressure is a leaching method that can be operated at >100⁰C temperatures in an atmospheric pressure, which is applicable to a low-grade laterite ore. This research aimed to study the effect of temperature, acid concentration, and leaching time on nickel extraction percentage and the leaching kinetics. Hydrochloric acid (HCl) was used as a leaching agent and several variables were applied, i.e., temperature (80⁰C, 90⁰C, 100⁰C), HCL concentration (5 M, 6 M, 7 M), and leaching duration (120 minutes, 150 minutes, 180 minutes) to investigate their effect on nickel extraction percentage. In addition, the kinetics of the leaching process was studied using a Shrinking Core Model. The results showed that the percentage of nickel extraction increased with increasing temperature, HCl concentration, and leaching time. The lowest percentage of nickel extraction of 51.29% was obtained when 80⁰C, five molar HCl, and 120 minutes leaching duration were applied. In contrast, The highest percentage of nickel extraction of 97.22% was obtained at 100⁰C, seven molar HCl, and 180 minutes of leaching time. The kinetics study results show that diffusion through the unreacted solid product layer controls the nickel leaching rate.
PRESIPITASI BESI DARI LARUTAN HASIL PELINDIAN BIJIH NIKEL LATERIT Wahab Wahab; Dandy Ashari; Deniyatno Deniyatno; Firdaus Firdaus; Erwin Anshari; Marwan Zam Mili; Rizky Awaliah Nafiu; Alrum Armid
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 18, No 3 (2022): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi September 2022
Publisher : Puslitbang tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol18.No3.2022.1176

Abstract

Presipitasi besi dari larutan hasil pelindian bijih nikel laterit merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum larutan diolah lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varibel proses terhadap presipitasi besi serta mempelajari kinetika proses presipitasi. Dalam penelitian ini, presipitasi besi dilakukan menggunakan senyawa natrium hidroksida (NaOH). Variabel yang diamati yaitu temperatur (25, 40, 55, 70, dan 85°C) konsentrasi NaOH (10, 20, 30, dan 40% w/v), dan waktu (15, 30, 45, 60, dan 75 menit). Studi kinetika mengacu pada persamaan reaksi homogenous irreversible orde I, orde II dan orde III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan temperatur, konsentrasi NaOH, dan waktu meningkatkan persentase presipitasi besi. Persentase presipitasi besi tertinggi sebesar 84,868% dicapai pada pada temperatur 85°C, konsentrasi NaOH 40% w/v, dan waktu 75 menit. Studi kinetika menunjukkan bahwa reaksi presipitasi besi dari larutan hasil pelindian mengikuti reaksi irreversible orde III.
Pemberdayaan mayarakat Desa Bendewuta menuju Desa Tangguh Bencana Iradat Salihin; Muliddin Muliddin; Firdaus Firdaus; Deniyatno Deniyatno; Al Rubaiyn
Jurnal Abdidas Vol. 3 No. 6 (2022): December Pages 944 - 1124
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v3i6.707

Abstract

Desa Bendewuta merupakan daerah yang dilanda bencana banjir hampir setiap tahun. Ancaman/bahaya yang ada ini bertemu dengan kondisi sosial-budaya, ekonomi, fisik, dan lingkungan yang rentan tanpa didukung oleh kapasitas pemerintah dan masyarakat yang baik, menjadikan ancaman tersebut dapat menjelma menjadi risiko bencana. Pengabdian ini bertujuan untuk mewujudkan ketanguhan desa Bendewuta dalam penghadapi bencana dengan cara pendampingan dan pemberdayaan desa menjadi desa tangguh bencana (Destana). Metode yang digunakan adalah Focused Group Discussion (Diskusi Kelompok Terarah) serta lokal latih yang megutamakan patisipasi pemerintah dan masyarakat desa. Kegiatan yang dilakukan berupa pengkajian risiko partisipatif, penguatan regulasi, penguatan pengelolaan risiko bencana, penguatan kualitas layanan dasar, dan penguatan sistem kesiapsiagaan untuk mendukung kegiatan tanggap darurat, rehabilitasi dan rekonstruksi paska bencana. Terlaksananya program-program dari tahapan kegiatan menunjukan bahwa Desa Bendewuta telah memenuhi indikator yang menggambarkan ketangguhan Desa terhadap bencana meliputi komponen legislasi, perencanaan, kelembagaan, pengembangan kapasitas, dan penyelenggaraan penanggulangan bencana. Hal ini menunjukan keberhasilan pemberdayaan desa Bendewuta menjadi Desa Tangguh bencana.
Status kawasan laut akibat aktivitas pertambangan nikel di Kecamatan Lasolo Kepulauan, Kabupaten Konawe Utara, Sulawesi Tenggara Deniyatno Deniyatno; Armid Armid
OPHIOLITE : Jurnal Geologi Terapan Vol 4, No 2 (2022): OPHIOLITE
Publisher : Program Studi Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56099/ophiolite.v4i2.37282

Abstract

Aktivitas pertambangan mengalami perkembangan yang sangat pesat di Provinsi Sulawesi Tenggara, termasuk wilayah Kabupaten Konawe Utara. Salah satu wilayah tambang di daerah ini terletak di Desa Boedingi, Lasolo Kepulauan. Studi ini dilakukan untuk mengkaji status kawasan laut di wilayah Desa Boedingi akibat aktivitas pertambangan. Sebanyak 2 titik sampel (AL-01 dan AL-02) ditetapkan untuk analisis air laut dan 3 titik (TK-01, TK-02 dan TK-03) untuk kajian kesehatan terumbu karang. Parameter fisik air laut diukur secara langsung saat sampling, sedangkan parameter kimia dianalisis menggunakan metode spektrofotometri. Pengamatan kondisi terumbu karang dilakukan dengan metode Line Intercept Transect (LIT). Hasil studi menunjukkan bahwa nilai TSS pada titik pengamatan lebih besar dibanding nilai ambang batas. Khusus titik AL-01, nilai TSS yang terukur (38,95 mg/L) hampir 2 kali lipat di atas nilai ambang batas (20 mg/L); kemungkinan hal ini disebabkan oleh peningkatan aliran permukaan pada lahan bukaan tambang yang masuk ke wilayah perairan laut. Nilai persentase terumbu karang hidup (life coral) sebesar 18,4%, 15,67%, dan 13,03%, masing-masing untuk titik pengamatan TK-01, TK-02, dan TK-03, termasuk dalam kategori buruk. Studi ini merekomendasikan kepada pemerintah Kabupaten Konawe Utara untuk melakukan pengawasan yang sitematis dalam upaya untuk menjaga kelestarian lingkungan laut sebagai dampak langsung dari kegiatan pertambangan di daerah ini.
PRESIPITASI BESI DARI LARUTAN HASIL PELINDIAN BIJIH NIKEL LATERIT Wahab Wahab; Dandy Ashari; Deniyatno Deniyatno; Firdaus Firdaus; Erwin Anshari; Marwan Zam Mili; Rizky Awaliah Nafiu; Alrum Armid
Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Vol 18 No 3 (2022): Jurnal Teknologi Mineral dan Batubara Edisi September 2022
Publisher : Balai Besar Pengujian Mineral dan Batubara tekMIRA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30556/jtmb.Vol18.No3.2022.1176

Abstract

Presipitasi besi dari larutan hasil pelindian bijih nikel laterit merupakan tahapan yang harus dilakukan sebelum larutan diolah lebih lanjut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh varibel proses terhadap presipitasi besi serta mempelajari kinetika proses presipitasi. Dalam penelitian ini, presipitasi besi dilakukan menggunakan senyawa natrium hidroksida (NaOH). Variabel yang diamati yaitu temperatur (25, 40, 55, 70, dan 85°C) konsentrasi NaOH (10, 20, 30, dan 40% w/v), dan waktu (15, 30, 45, 60, dan 75 menit). Studi kinetika mengacu pada persamaan reaksi homogenous irreversible orde I, orde II dan orde III. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan temperatur, konsentrasi NaOH, dan waktu meningkatkan persentase presipitasi besi. Persentase presipitasi besi tertinggi sebesar 84,868% dicapai pada pada temperatur 85°C, konsentrasi NaOH 40% w/v, dan waktu 75 menit. Studi kinetika menunjukkan bahwa reaksi presipitasi besi dari larutan hasil pelindian mengikuti reaksi irreversible orde III.
Potensi Likuifaksi Di Kabupaten Konawe Utara Sulawesi Tenggara Berdasarkan Metode Susceptibility Rating Factors (SRF) Cendra Jaya, Rio Irhan Mais; Deniyatno
OPHIOLITE: Jurnal Geologi Terapan Vol 6 No 1 (2024): APRIL 2024
Publisher : Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56099/ophi.v6i1.p11-18

Abstract

The liquefaction disaster that occurred in Palu, Central Sulawesi, was caused by a 7.5 SR. The movement of the Palu-Koro Fault triggered the earthquake which was then followed by liquefaction. North Konawe Regency, Southeast Sulawesi, is crossed by the Lawanopo Fault which is a continuation of the Palu-Koro Fault, so that North Konawe Regency has the potential for liquefaction. BMKG seismic data records that >90% of earthquake events in North Konawe are triggered by movements of the Lawanopo Fault. This research focuses on the potential for liquefaction that can be triggered by earthquake activity in North Konawe Regency. Susceptibility Rating Factor (SRF) method is used by calculating the liquefaction susceptibility index (ISL) based on historical parameters, geological data, soil texture and composition, and hydrogeological data. North Konawe Regency has 5% areas with high liquefaction potential, 2% medium potential, 6% low potential, and 87% very low potential. Areas with high potential (5%) and medium potential (2%) are densely populated areas because they are located in the center of the capital city of North Konawe Regency. This area is a basin formed due to the activity of the Lawanopo Fault.
Analisis Rencana Biaya Reklamasi Berdasarkan Kesesuaian Jenis Tanaman di PT. JR: Reclamation Cost Plan Analysis by Plant Type in PT. JR Andi Deddy Setiawan; Wd Rizky Awaliah; Deniyatno Deniyatno
Jurnal Teknologi Sumberdaya Mineral Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Program Studi Teknik Pertambangan Fakultas Teknik Universitas Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19184/jeneral.v3i1.31459

Abstract

Salah satu tujuan mengelola industri pertambangan adalah memperoleh keuntungan sebesar-besarnya mengingat pentingnya dalam mengetahui biaya yang akan dikeluarkan bagi perusahaan. Mulai dari biaya penambangan dan produksi hingga upah karyawan seta biaya reklamasi (pasca tambang). Salah satu komponen biaya reklamasi yang perlu diperhitungkan adalah revegasi tanaman. Pemilihan tanaman dilakukan berdasarkan analisis sampel tanah blok G PT. JR. Didapatkan hasil bahwa Khaya Anthotheca (Mahoni Uganda) dan A. Carssicarpa cocok untuk ditanam. Perhitungan biaya reklamasi dimulai dari menghitung luas area reklamasi, penataan lahan, revegetasi. Untuk penataan lahan terdiri dari terdiri dari biaya penggunaan alat, maintenance alat, dan pengendalian erosi dan pengelolaan air. Biaya revegasi terdiri dari biaya untuk analisis kualitas tanah, jumlah kebutuhan tanaman, proses pembibitan tanaman, proses pemupukan dan proses pemeliharaan. Berdasarkan hasil penelitian luas area yang akan direklamasi sebesar 52.467m2 . Jumlah material yang akan di pindahkan sebesar 393.574 m³. Waktu kegiatan penataan lahan adalah 180 hari. Dengan jenis tanaman yang ditetapkan butuh waktu 714 hari penyiraman agar tumbuhan dapat tumbuh dengan baik. Dan total biaya kegiatan reklamasi tersebut adalah Rp. 1.985.499.777,-.
Identification Clean Water Sources in Mining Areas at Amohola Village Moramo sub-district South Konawe Firdaus; Awaliah Nafiu, Wd Rizky; Anshari, Erwin; Wahab; Deniyatno; Mili, Marwan Zam
Majalah Pengabdian Indonesia Vol. 2 No. 1 (2025): April 2025
Publisher : Teras Kampus as a member of PT Palem Edukasi Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.69616/maindo.v2i1.251

Abstract

In order to meet the daily water needs of the Amohola Village community who currently rely on dug well water mixed with sediment and odor, community service has been carried out by the Mining Engineering Department of Halu Oleo University. The purpose of this service is to find clean water sources through groundwater exploration using the geoelectric method. Based on the results of groundwater measurements with the geoelectric method, it can be interpreted that the groundwater aquifer is located at a depth of 15-45 meters, with a low resistivity value of 371 ohm.m. This indicates that this groundwater layer can be considered a depressed aquifer, which is characterized by low resistivity. The low resistivity is likely caused by impermeable rock types such as clay around the aquifer. Based on these findings, it is recommended that the village government and community conduct groundwater drilling at a depth of 15 to 45 meters. By drilling at this depth, it is hoped that the Amohola Village community can gain access to a safer and higher quality clean water source for their daily needs. In the drilling process, it is also necessary to pay attention to technical and environmental factors to ensure the success of this project and preserve the local environment.