Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

PENDEKATAN EMPATI-SALUTOGENIK DALAM PERANCANGAN FASILITAS PERAWATAN MASA NIFAS Carissa, Cindy; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27449

Abstract

Postnatal care centers play an important role in facilitating a woman's physical and emotional recovery after giving birth. This journal discusses the integration of salutogenic and empathetic design principles within postnatal care centers, with the goal of providing an environment that comprehensively nurtures the health and well-being of postnatal mothers. Salutogenic design focuses on promoting health and resilience, while empathic design centers on recognizing and addressing individual needs. This paper explores the fundamental aspects of salutogenic design, including personalized spaces, exposure to natural light, access to natural elements, acoustic comfort and the integration of positive distractions. In addition, this journal emphasizes the importance of clear spatial organization and the provision of privacy within postnatal care centers to pay attention to psychological aspects. Simultaneously, empathetic design considerations involve creating spaces that support mothers' emotional well-being during the postpartum period that is vulnerable to physical and emotional instability. Incorporating these design principles within a postnatal care center can produce a therapeutic environment that not only supports physical recovery but also maintains emotional resilience. The research uses qualitative methods to look for relationships and impacts that can be produced by the application of salutogenics in the design process. The journal aims to provide application and determine the impact of implementing empathetic and salutogenic aspects into the design of postpartum facilities such as the integration of green areas, customized programs for the mother's physical and mental recovery, as well as customized units based on needs. Keywords:  Empathic; Post partum; Salutogenic Abstrak Pusat perawatan masa nifas memegang peran penting dalam memfasilitasi pemulihan fisik dan emosional wanita setelah melahirkan. Jurnal ini membahas integrasi prinsip-prinsip desain salutogenik dan empatik di dalam pusat perawatan pasca melahirkan, dengan tujuan menyediakan lingkungan yang secara komprehensif memelihara kesehatan dan kesejahteraan para ibu pasca melahirkan. Desain salutogenik berfokus pada promosi kesehatan dan ketahanan, sementara desain empatik berpusat pada pengenalan dan penanganan kebutuhan individu. Makalah ini mengeksplorasi aspek mendasar desain salutogenik, mencakup ruang yang dipersonalisasikan seesuai kebutuhan, paparan cahaya alami, akses ke elemen alami, kenyamanan akustik, dan integrasi distraksi positif. Selain itu, jurnal ini menekankan pentingnya organisasi spasial yang jelas dan penyediaan privasi di dalam pusat perawatan masa nifas untuk memperhatikan aspek psikologis. Secara bersamaan, pertimbangan desain empatik melibatkan penciptaan ruang yang mendukung kesejahteraan emosional para ibu selama masa nifas yang rentan akan ketidakstabilan fisik dan emosional. Penggabungan prinsip-prinsip desain ini di dalam pusat perawatan pasca melahirkan dapat menghasilkan lingkungan terapeutik yang tidak hanya mendukung pemulihan fisik tetapi juga memelihara ketahanan emosional. Penelitian menggunakan metode kualitatif untuk mencari hubungan dan dampak  yang dapat dihasilkan oleh penerapan salutogenik  dalam proses perancangan. Jurnal bertujuan untuk memberikan penerapan dan mengetahui dampak penerapan aspek empati dan salutogenik kedalam desain fasilitas masa nifas seperti integrasi area hijau, program yang disesuaikan untuk pemulihan fisik dan mental ibu, serta unit yang terkostumisasi berdasarkan kebutuhan.
KONSEP DIGITAL HYBRID PADA RANCANGAN UNIT KIOS DI PASAR GROGOL - JAKARTA BARAT Elise, Angela Czarina; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27450

Abstract

In the era of digital e-commerce, traditional market vendors face challenges in adapting to changes in consumer preferences and technological advancements. These vendors, who have long relied on face-to-face transactions and local customers, are now compelled to establish an online presence. Building trust with online customers is another key aspect of adaptation in this digital era. Adapting to the digital age also involves addressing logistical challenges. With changing shopping trends and evolving consumer preferences, there's a strong push to alter the capacity of kiosk units. Many markets have adopted a more flexible approach by offering customizable and modular kiosk units. This transformation brings traditional markets into a more modern and adaptive era, enabling vendors to be more responsive to changes in market demand and providing space for innovation and business growth. In conclusion, traditional market vendors must undergo a complex transition into the digital e-commerce era. They face challenges related to technology integration, product diversification, pricing strategies, customer trust, and logistics. Success in this ever-changing landscape depends on their ability to adapt, embrace technology, and strategically position themselves in the online market. Adapting to the digital age is not only crucial for the survival of traditional market vendors but also provides them with opportunities to access a larger market share. Keywords:  Electronic trading; Hybrid Market; traditional market; Trader Abstrak Dalam era digital e-commerce, pedagang pasar tradisional menghadapi tantangan dalam beradaptasi dengan perubahan preferensi konsumen dan kemajuan teknologi. Pedagang pasar tradisional, yang selama ini bergantung pada transaksi tatap muka dan pelanggan lokal, kini terpaksa untuk mendirikan kehadiran online. Di era digital ini, membangun kepercayaan dengan pelanggan online adalah aspek kunci lain dari adaptasi. Beradaptasi dengan era digital juga melibatkan penanganan tantangan logistik. Dengan adanya perubahan tren belanja dan preferensi konsumen yang semakin berubah, terdapat dorongan kuat untuk mengubah kapasitas unit kios. Banyak pasar telah mengadopsi pendekatan yang lebih fleksibel dengan menawarkan unit kios yang dapat disesuaikan dan lebih modular. Transformasi ini membawa pasar tradisional ke dalam era yang lebih modern dan adaptif, memungkinkan pedagang untuk lebih responsif terhadap perubahan permintaan pasar serta memberikan ruang bagi inovasi dan pertumbuhan usaha. Sebagai kesimpulan, pedagang pasar tradisional harus menjalani transisi yang kompleks ke dalam era digital e-commerce. Mereka menghadapi tantangan terkait integrasi teknologi, diversifikasi produk, strategi penetapan harga, kepercayaan pelanggan, dan logistik. Keberhasilan dalam lanskap yang terus berubah ini bergantung pada kemampuan mereka untuk beradaptasi, merangkul teknologi, dan menempatkan diri secara strategis dalam pasar online. Beradaptasi dengan era digital bukan hanya penting untuk kelangsungan hidup pedagang pasar tradisional, tetapi juga memberi mereka kesempatan untuk mengakses pangsa pasar yang lebih luas dan tetap relevan dalam ekonomi global yang semakin terhubung.
PENDEKATAN ARSITEKTUR AUTISME DALAM PERANCANGAN MUSEUM EDUKASI Stefanie, Marcella; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 1 (2024): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i1.27451

Abstract

Autism has received global attention due to communication limitations, social interaction difficulties, and repetitive behavior. Comprehensive understanding reduces stigma and discrimination, allows people to be more empathetic and provide better support. Knowledge about autism also supports early help and community understanding through architectural interventions. This research explores the factors of therapy methods, the importance of understanding autism through architecture, and the integration of autism architecture in educational design. Understanding autism strengthens community support, improves resources and services, encourages better education and treatment programs, and promotes inclusivity and welcoming communities. Therefore, understanding autism is not only the task of health professionals or educators, but also the responsibility of the general public. An educational museum was created to depict the characteristics of autism through supporting installations, providing in-depth insight into the experiences of children with autism. Keywords: Describe; Disease; Stigmatism Abstrak Autisme mendapat perhatian global karena keterbatasan komunikasi, kesulitan interaksi sosial, dan perilaku repetitif. Pemahaman menyeluruh mengurangi stigma dan diskriminasi, memungkinkan masyarakat lebih empatik dan memberikan dukungan lebih baik. Pengetahuan tentang autisme juga mendukung bantuan dini dan pemahaman masyarakat melalui intervensi arsitektural. Penelitian ini mengeksplorasi faktor metode terapi, pentingnya pemahaman autisme melalui arsitektur, dan integrasi arsitektur autisme dalam desain edukasi. Pemahaman tentang autisme memperkuat dukungan masyarakat, meningkatkan sumber daya dan layanan, mendorong program pendidikan dan perawatan yang lebih baik, serta mempromosikan inklusivitas dan masyarakat yang ramah. Oleh karena itu, memahami autisme bukan hanya tugas profesional kesehatan atau pendidik, tetapi juga tanggung jawab masyarakat umum. Sebuah museum edukasi didirikan untuk menggambarkan karakteristik autisme melalui instalasi-instalasi pendukung, memberikan wawasan mendalam tentang pengalaman anak-anak dengan autisme.
PENERAPAN KONSEP MULTISENSORI DALAM PERANCANGAN RUANG INTERPRETASI BERBASIS TEKNOLOGI DI SUNDA KELAPA Salis, Ralph Louis; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30896

Abstract

Indonesia is an archipelagic country with seas covering 70% of its territory so that people's activities at sea are quite busy, one of which is buying and selling activities on sea routes. This can be seen from the spread of port points in Indonesia. Sunda Kelapa Harbor is one of Indonesia's ancient ports, located in North Jakarta. Historically, this port was the main port for buying and selling activities on the island of Java. In the 19th century, this port experienced shallowing so that this port began to be replaced and busy community activities at Sunda Kelapa Harbor began to decline and the value of this port as a 'place' began to fade. Therefore, this research was carried out to look for architectural solutions with spatial experience and accompanied by supporting facilities that are more in demand in this century. The research carried out resulted in a solution in the form of designing an interpretation center supported by other programs. The design was carried out using a multisensory design method involving technology as an adaptation to the times so that it is more interesting and interactive. Keywords: interpretation, sunda kelapa, place, technology Abstrak Indonesia merupakan negara kepulauan dengan lautan seluas 70% dari wilayahnya sehingga aktivitas masyarakat di laut cukup padat salah satunya kegiatan jual beli jalur laut. Hal ini dapat dilihat dari tersebarnya titik pelabuhan di Indonesia. Pelabuhan Sunda Kelapa merupakan salah satu pelabuhan kuno Indonesia yang terletak di Jakarta Utara. Pada sejarahnya, pelabuhan ini merupakan pelabuhan utama dalam kegiatan jual beli di Pulau Jawa. Pada abad ke-19 pelabuhan ini mengalami pendangkalan sehingga pelabuhan ini mulai tergantikan dan kesibukan aktivitas masyarakat di Pelabuhan Sunda Kelapa mulai menurun dan nilai pelabuhan ini sebagai ‘tempat’ mulai memudar. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mencari solusi arsitektural dengan pengalaman ruang dan disertai dengan fasilitas penunjang yang lebih diminati pada abad ini. Dari penelitian yang dilakukan menghasilkan solusi berupa perancangan pusat interpretasi yang didukung program lainnya. Perancangan dilakukan dengan metode desain multisensori yang dilibatkan dengan teknologi sebagai salah satu penyesuaian terhadap zaman sehingga lebih menarik dan interaktif.
PENERAPAN KONSEP ARSITEKTUR NARATIF PADA EKSTENSI MUSEUM BAHARI Elia Kadang, Yegar Sahaduta; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30897

Abstract

The Maritime Museum plays a crucial role in preserving and disseminating knowledge about maritime culture and history. In an effort to expand the functions and appeal of this museum, the application of the right architectural concept is paramount. This research explores how the application of the narrative architecture concept can be used to design an extension of the Maritime Museum. Narrative architecture, which incorporates storytelling elements into its design, allows visitors to experience and understand maritime history more deeply and interactively. Through case study analysis and field observations, this research identifies key elements that must be considered in the design of the extension. The research findings show that integrating elements of maritime culture and history into architectural design can enhance visitor experience, strengthen the museum's identity, and support cultural conservation efforts. The narrative architecture approach not only enriches the aesthetic value of the building but also significantly contributes to the education and preservation of maritime heritage. Recommendations include involving the local community and maritime experts in the design process, as well as adopting new technologies to create more interactive and engaging spaces for various visitor groups. Additionally, education programs and community-based activities focused on maritime culture are suggested to increase public engagement and support the preservation of maritime heritage. Thus, the Maritime Museum can become a dynamic, relevant, and inspiring center for education and cultural preservation for all generations. This inclusive and collaborative approach will not only enhance the museum's appeal but also ensure that the values of maritime culture and history remain alive and understood by the wider society. Keywords: extension; maritime culture; maritime history; narrative architecture Abstrak Museum Bahari memegang peran penting dalam pelestarian dan penyebaran pengetahuan mengenai budaya dan sejarah bahari. Dalam upaya untuk memperluas fungsi dan daya tarik museum ini, penerapan konsep arsitektur yang tepat menjadi sangat krusial. Penelitian ini mengeksplorasi bagaimana penerapan konsep arsitektur naratif dapat digunakan untuk merancang ekstensi Museum Bahari. Arsitektur naratif, yang menggabungkan elemen-elemen cerita dalam desainnya, memungkinkan pengunjung untuk merasakan dan memahami sejarah bahari secara lebih mendalam dan interaktif. Melalui analisis kasus studi, observasi lapangan, penelitian ini mengidentifikasi elemen-elemen kunci yang harus dipertimbangkan dalam perancangan ekstensi tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa integrasi elemen-elemen budaya bahari dan sejarah bahari dalam desain arsitektur dapat meningkatkan pengalaman pengunjung, memperkuat identitas museum, dan mendukung upaya konservasi budaya. Pendekatan arsitektur naratif tidak hanya memperkaya nilai estetika bangunan, tetapi juga memberikan kontribusi signifikan terhadap edukasi dan pelestarian warisan bahari. Saran yang diberikan mencakup melibatkan komunitas lokal dan pakar maritim dalam proses desain, serta mengadopsi teknologi baru untuk menciptakan ruang yang lebih interaktif dan menarik bagi berbagai kalangan pengunjung. Selain itu, program pendidikan dan aktivitas berbasis komunitas yang berfokus pada budaya bahari juga disarankan untuk meningkatkan keterlibatan publik dan mendukung pelestarian warisan maritim. Dengan demikian, Museum Bahari dapat menjadi pusat edukasi dan pelestarian budaya yang dinamis, relevan, dan menginspirasi bagi semua generasi. Pendekatan yang inklusif dan kolaboratif ini tidak hanya akan memperkuat daya tarik museum tetapi juga memastikan bahwa nilai-nilai budaya dan sejarah bahari tetap hidup dan dipahami oleh masyarakat luas.
ARSITEKTUR BUDAYA TUGU: SEBUAH KONSEP PENGEMBANGAN KAWASAN SEJARAH PERKAMPUNGAN PORTUGIS DI JAKARTA UTARA Natasya, Shela; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30898

Abstract

Kampung Tugu is one of the oldest villages in Jakarta, having been established in 1678. Kampung Tugu is known as a Christian-Portuguese village which is a cultural heritage area. The cultural heritage in Tugu Village is in the form of a building known as the Tugu Church. Currently, Kampung Tugu is undergoing changes, with most of the surrounding land now being used for container parking and industrial activities. As a result, Kampung Tugu area looks less attractive, and not many people know about this tourist area and create a placeless impression. The purpose of this research is to develop the historical tourism area in an effort to revive the memory of Tugu Culture consisting of Mande-Mande and Rabo-Rabo traditions as well as Keroncong music, which are the characteristics of the area of Kampung Tugu which must be preserved. Developing the tourist area and insight of Kampung Tugu by adding cultural attractions in the form of a cultural space that focuses on preserving keroncong music and introducing typical culinary delights from Kampung Tugu. It is hoped that this cultural space can become the new face of Kampung Tugu to maintain the continuity of its existence, revive the character of the area and open new spaces in the hope that it can accommodate the surrounding area and become an attraction for the outside community. The design uses an adaptive and contextual design approach to the surroundings that responds to modern conditions. Keywords:  cultural heritage; historical tourism; kampung tugu; tugu culture Abstrak Kampung Tugu termasuk sebagai kampung tertua di Jakarta, yang sudah ditetapkan sejak tahun 1678. Kampung Tugu dikenal sebagai kampung Kristen – Portugis yang termasuk kawasan cagar budaya. Cagar budaya yang ada di Kampung Tugu berupa sebuah bangunan yang dikenal sebagai Gereja Tugu. Saat ini Kampung Tugu mengalami perubahan, dengan sebagian besar lahan di sekitarnya kini digunakan untuk parkir kontainer dan kegiatan industri. Adanya perubahan membuat Kawasan Kampung Tugu menjadi terlihat kurang menarik, tergolong tidak banyak yang mengetahui mengenai kawasan sejarah ini dan terciptanya kesan placeless. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan kawasan menjadi wisata sejarah sebagai upaya membangkitkan kembali memori dari budaya tugu yang terdiri dari, Tradisi Mande-Mande dan Rabo-Rabo serta musik Keroncong, yang menjadi karakter kawasan dari Kampung Tugu yang harus dilestarikan. Mengembangkan area wisata dan wawasan Kampung Tugu dengan penambahan atraksi budaya dalam bentuk ruang kebudayaan yang berfokus pada pelestarian musik keroncong dan mengenalkan kuliner khas dari Kampung Tugu. Ruang kebudayaan ini diharapkan dapat menjadi wajah baru Kampung Tugu untuk menjaga keberlanjutan dari eksistensi untuk menghidupkan karakter kawasan dan membuka ruang baru dengan harapan dapat mewadahi sekitar dan menjadi daya tarik bagi masyarakat luar. Perancangan menggunakan metode pendekatan desain yang adaptif dan kontekstual terhadap sekitar yang merespon kondisi modern.
RUANG EKSPRESI DAN APRESIASI BAGI MUSISI JALANAN DI KAWASAN SENEN, JAKARTA PUSAT Yuono, Glorius Timoty; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30970

Abstract

The city of Jakarta has a profession called Street Musician. However, many streets are affected by economic pressures in the development of the city of Jakarta. Street musicians have no platform and are starting to be neglected. There is a need for space to accommodate the activities of street musicians in the city of Jakarta. The aim is to help develop quality musicians and entertainment spaces for the city of Jakarta, where currently music is embedded in everyday lifestyle. Based on data collected through interviews and observations, there is a formation process that represents the reality of the perpetrators, namely street musicians themselves. From various kinds of phenomena, facts and rules, the author can use them as a reference to define space in accordance with existing discourse. There are several factors that influence a musician's performance, including sound factors, lighting factors, performance space, and audience and circulation space. If these factors are taken into account properly, they can support musicians in presenting works that visitors can enjoy well too. If there is space for the musicians and the audience, they can enjoy the musicians' expressions comfortably so that they will naturally appreciate the musicians' performances. These spaces need to be combined well because they have different identities, namely spatial (architecture) and musical. Pasar Senen, which used to have a rich artistic culture, will be re-emerged as a space for musicians to express themselves, creating spaces for musicians to gather and improving the quality of musicians at Pasar Senen and in its surroundings. Keywords: appreciation space; expression space; street musicians Abstrak Kota Jakarta memiliki salah satu profesi yang di sebut Musisi Jalanan. Namun musisi jalanan terkena dampak tekanan ekonomi dalam perkembangan kota Jakarta. Musisi Jalanan tidak memiliki wadah dan mulai terabaikan. Perlu adanya ruang untuk mewadahi aktifitas dari musisi jalanan di kota jakarta. Tujuannya adalah untuk membantu mengembangkan kualitas musisi dan ruang hiburan bagi kota Jakarta, dimana saati ini musik sudah melekat dalam gaya hidup sehari-hari. Berdasarkan data-data yang terkumpul melalui wawancara dan pengamatan, terdapat proses pembentukan yang merepresentasikan realitas pelaku yaitu musisi jalanan sendiri. Dari berbagai macam fenomena, fakta dan aturan, penulis dapat menjadikannya sebagai acuan untuk mendefinisikan ruang yang sesuai dengan wacana yang ada. Terdapat beberapa faktor yang berpengaruh pada penampilan musisi, diantaranya adalah fakor suara, faktor pencahayaan, ruang penampilan, dan ruang penonton dan sirkulasi. Faktor-faktor tersebut apabila di perhitungkan dengan baik dapat mendukung musisi menampilkan karya yang dapat dinikmati pengunjung dengan baik juga. Apabila ruang musisi dan penonton terpenuhi mereka dapat menikmati ekspresi musisi dengan nyaman sehingga dengan sendirinya mereka akan memberikan apresiasi dari penampilan musisi. Ruang-ruang ini perlu dikombinasikan dengan baik karena memiliki identitas yang berbeda yaitu keruangan (Arsitektur) dan musik. Pasar senen yang dulunya memiliki kekayaan budaya seni, akan dimunculkan kembali sebagai ruang untuk musisi berekspresi, menciptakan ruang-ruang untuk para musisi berkumpul dan meningkatkan kualitas musisi di Pasar Senen maupun di sekitarnya.
PRESERVASI BUDAYA OTOMOTIF MELALUI MUSEUM SEJARAH DI KEMAYORAN, JAKARTA Putra, Samuel Losan; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 1 (2025): APRIL
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i1.33928

Abstract

The Kemayoran area has a unique history and culture. The automotive culture, with its history in Kemayoran, is a hidden aspect that has left a significant impression on automotive enthusiasts in this century, which is gradually being forgotten as interest in automotive activities among the residents of Kemayoran declines. This journal aims to explore how architectural science can be used to preserve and potentially revive automotive culture and interest in Kemayoran. With the understanding of the phrase "Placeless Place," it can be seen that Kemayoran is starting to lose its significance as an ideal area for automotive-themed activities. By employing placemaking methods and examining the history of the Kemayoran area while focusing on the present, a review of how to preserve historical elements through architecture emerges. Through these methods and in-depth studies, iconic points of Kemayoran automotive history and ideal forms of historical preservation were obtained. An architectural design in the form of a historical museum building with complementary facilities in the form of entertainment and commercial, can help maintain and give birth to automotive interests that are starting to fade for residents of the Kemayoran area. The history of Kemayoran automotive culture can be preserved through architecture. Keywords:  automotive culture; history museum; interest; placeless place; preservation Abstrak Wilayah Kemayoran memiliki berbagai sejarah dan budaya yang cukup unik. Budaya otomotif dengan sejarahnya di daerah Kemayoran merupakan sebuah aspek tersembunyi yang cukup berkesan abad ini bagi para penggemar automotif, yang secara perlahan dilupakan dengan berkurangnya minat kegiatan otomotif penduduk Kemayoran. Jurnal ini bertujuan untuk meneliti cara ilmu arsitektur bisa digunakan untuk menjaga dan kemungkinan membangkitkan budaya dan minat otomotif di Kemayoran. Dengan pemahaman kalimat “Placeless Place”, dapat dilihat bahwa Kemayoran mulai kehilangan makna sebagai kawasan ideal untuk kegiatan bertema otomotif. Dengan metode placemaking, melihat sejarah kawasan Kemayoran dan memfokuskan pada masa sekarang, maka muncul sebuah ulasan cara preservasi bagian sejarah melalui arsitektur. Melalui metode dan pendalaman tersebut, dipetik poin-poin ikonis sejarah otomotif kemayoran dan bentuk preservasi sejarah yang ideal. Sebuah perancangan arsitektur berupa bangunan fungsi museum sejarah dengan fasilitas pelengkap berupa hiburan dan komersil, bisa membantu menjaga dan melahirkan minat otomotif yang mulai pudar bagi para penduduk wilayah Kemayoran. Sejarah budaya otomotif Kemayoran dapat dipreservasi melalui arsitektur.
HARMONISASI PROGRAM RUANG PANTI WREDA: STRATEGI DALAM MENINGKATKAN KESEJAHTERAAN LANSIA Buntarman, Caren; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35550

Abstract

The global phenomenon of an increasing elderly population has given rise to issues regarding the lack of facilities that comprehensively accommodate the physical and psychological needs of the elderly. In Indonesia, the primary problem is the limited availability of nursing homes (panti wreda) that offer optimal services for elderly well-being, particularly in terms of mental health, which is often neglected. The objective of this design project is to create a regenerative architecture-based nursing home with a well-being approach to holistically improve the quality of life for the elderly. The method employed is a symbiotic approach combined with holistic architectural design, focusing on creating mutually beneficial relationships between humans, space, and the environment by integrating natural elements that support ecosystem balance and elderly well-being. The design steps include selecting a site in Cadas Ngampar that supports tranquility and accessibility, developing a spatial program based on elderly needs, and integrating the concept of therapeutic gardening through regenerative hydroponics as a meaningful activity. The result is a nursing home design that provides housing tailored to elderly conditions, spaces for physical and psychological therapy, an educational sensory gallery, and herbal hydroponic gardening areas. The findings indicate that spaces designed with a regenerative approach can effectively address mental health issues and enhance elderly social interaction. The spatial novelty lies in the integration of healing functions, public education, and elderly engagement in regenerative activities, which also strengthen intergenerational relationships and raise awareness about life in old age. Keywords:  harmony, hydroponics, regenerative, senior care home, well-being Abstrak Fenomena meningkatnya populasi lansia secara global melahirkan isu tentang kurangnya fasilitas yang mampu mengakomodasi kebutuhan lansia secara fisik dan psikologis secara menyeluruh. Masalah yang muncul di Indonesia adalah minimnya panti wreda yang memberikan pelayanan optimal terhadap kesejahteraan lansia, terutama dalam aspek kesehatan mental yang kerap terabaikan. Tujuan dari perancangan ini adalah menciptakan panti wreda berbasis arsitektur regeneratif dengan pendekatan well-being untuk meningkatkan kualitas hidup lansia secara holistik. Metode yang digunakan adalah simbiosis dengan pendekatan perancangan arsitektur holistik yang diterapkan untuk menciptakan program ruang yang mampu merespons kebutuhan landia secara melalui hubungan yang harmonis dan simbiosis. Langkah perancangan meliputi pemilihan tapak di Cadas Ngampar yang mendukung ketenangan dan aksesibilitas, perumusan program ruang berdasarkan kebutuhan lansia, serta integrasi konsep therapeutic gardening dengan hidroponik regeneratif sebagai aktivitas bermakna. Hasil dari perancangan ini adalah rancangan panti wreda yang menyediakan hunian sesuai kondisi lansia, ruang terapi fisik dan psikologis, galeri sensori edukatif, serta area berkebun hidroponik herbal. Temuan dari penelitian ini menunjukkan bahwa ruang yang dirancang dengan pendekatan regeneratif mampu menangani permasalahan kesehatan mental dan meningkatkan interaksi sosial lansia. Kebaruan dari keruangan yang diangkat terletak pada integrasi antara fungsi penyembuhan, edukasi publik, dan keterlibatan lansia dalam aktivitas regeneratif yang juga memperkuat hubungan antargenerasi dan kesadaran akan kehidupan di masa tua.
URBAN AGRICULTURE BERBASIS THIRD PLACE DI BENDUNGAN HILIR, JAKARTA PUSAT Meidiana, Jessica; Hadiwono, Alvin
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35551

Abstract

According to data from the Central Bureau of Statistics (BPS) in 2023, Indonesia is facing a decline in food supply due to a crisis in the regeneration of young farmers. This issue is driven by the negative stigma towards agriculture, which is often considered dirty, high-risk, and less prestigious. As a result, many young people are more attracted to urbanisation. Therefore, efforts are needed to revive the interest of the younger generation in farming activities by developing the third place concept based on locality, which can be described as the informal space between home and work where people can relax. This agricultural project invites visitors to practice and observe the entire farming process from start to finish. Supported by a programme that utilizes the concept itself, such as Co-Working space, Communal Space, Mini Plaza, dan Garden Terrace. By utilising the everydayness approaches, this urban farming project encourages the community to carry out routine activities such as planting seeds, harvesting, and carrying the crops to plant them at home. As a result, this project is expected to serve as a temporary gathering place (third place) for the community, especially young people, to enjoy traditional farming activities and incorporate modern techniques such as hydroponics, aquaponics, and aeroponics to create a new lifestyle for achieving food security district. Thus, this project acts as a locus to secure the food system but also to increase the quality of third place in the community’s everydayness through social interaction and improving well-being. Keywords: urban agriculture; locality; third place; everydayness; regenerative; locus Abstrak Berdasarkan sumber dari Badan Pusat Statistik di tahun 2023, Indonesia sedang menghadapi permasalahan penurunan pasokan pangan. Hal ini disebabkan oleh krisis regenerasi petani muda yang didorong dengan munculnya stigma negatif akan dunia pertanian yang dianggap kotor, tinggi resiko, dan kurang bergengsi sehingga kaum muda lebih tertarik untuk melakukan gerakan urbanisasi. Oleh karena ini diperlukannya upaya untuk memunculkan kembali minat bagi kaum generasi muda dalam kegiatan bertani melalui pengembangan konsep Third Place berbasis lokalitas yang diartikan sebagai ruang sosial informal antara rumah dan pekerjaan yang dimana orang-orang bisa bersantai. Proyek agrikultur ini mengajak pengunjung untuk mempraktekkan dan melihat prosesi pertanian dari awal hingga akhir. Dengan hadirnya program penunjang yang menciptakan interaksi sosial berupa Co-Working space, Communal Space, Mini Plaza, dan Garden Terrace. Dengan memanfaatkan pendekatan everydayness, proyek Urban Agriculture ini mendorong munculnya budaya akan aktivitas masyarakat yang baru seperti menanam bibit, memanen hasil dan merawat hasilnya. Dengan itu, diharapkan proyek ini bisa dijadikan sebagai tempat rekreasi untuk masyarakat khususnya kaum muda untuk menikmati kegiatan bertani yang tidak hanya tradisional, namun juga ada teknik hidroponik, akuaponik, dan juga aeroponik guna membentuk gaya hidup baru untuk mencipatakan kawasan yang mandiri pangan. Sehingga, proyek berperan sebagai locus segi ketahanan pangan tapi juga memperkuat kualitas third place dalam keseharian masyarakat melalui interaksi sosial melalui komunitas dan peningkatan kualitas hidup.