Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

RUANG KREATIF: REKREASI DI SENEN MELALUI KONSEP TERBUKA DAN MENGUNDANG Wijaya, Gunardi Naga; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30945

Abstract

The Senen area, which was once known as the center of the economy in Jakarta, is now abandoned, many of the building functions are not maintained, not keeping up with the times, and coupled with the lack of place needs for the people in Senen regarding the need for a place to relieve stress. The stress arises from the density of space and the busyness of its people. Along with the development of the era, the Senen area will become a dense place for housing, shops, and transportation centers. With the facilities in the Senen area that are quite complete, the Senen area is a suitable place to restore its image as before. From these emerging problems, an open space is needed that can be a recreation center. The lack of entertainment venues in the Senen area is the right strategy to add programs with entertainment functions. By implementing an open and inviting concept, it aims to invite people in the Senen area to have a new entertainment venue that functions as a place to pour out existing creative ideas. Using qualitative methods and figure of reasoning methods to find out what space program needs are suitable to respond to existing. problems. Keywords:  Stress; Open Space; Open and Inviting Abstrak Kawasan Senen yang dahulu dikenal sebagai pusat perekonomian di Jakarta yang sekarang ditinggalkan, banyaknya fungsi bangunan yang tidak terawat,  kurang mengikuti zaman dan ditambah dengan kurangnya kebutuhan tempat untuk masyarakat di Senen mengenerasiai kebutuhan tempat untuk menghilangkan rasa stress. Rasa stress yang muncul yang berasal dari kepadatan ruang dan kesibukkan dari masyarakatnya. Seiring dengan perkembangan zaman kawasan Senen akan menjadi tempat yang padat akan hunian, pertokoan, maupun pusat dari transportasi. Dengan adanya fasilitas yang ada di kawasan Senen yang sudah cukup lengkap, maka dari itu kawasan Senen menjadi tempat yang cocok untuk diangkat kembali citranya seperti dulu. Dari permasalahan yang muncul inilah dibutuhkannya ruang terbuka yang dapat menjadi pusat rekreasi. Kurangnya tempat hiburan yang ada di kawasan Senen menjadi strategi yang tepat untuk menambah program dengan fungsi sebagai hiburan.  Dengan penerapan konsep terbuka dan mengundang (open and inviting) bertujuan agar mengundang masyarakat yang ada di kawasan Senen agar memiliki tempat hiburan baru yang berfungsi sebagai tempat untuk menuangkan ide kreatif yang ada. Menggunakan metode kualitatif dan metode figure of reasoning agar dapat mengetahui kebutuhan program ruang apa yang cocok untuk merespon masalah yang ada.
PENERAPAN PLACEMAKING PADA ANCOL BEACH CITY MALL MELALUI KONSEP DIVERSITY DAN CONNECTIVITY Liem, Yohanes Raymond; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30946

Abstract

Ancol Beach City Mall is a tourist area located in Taman Impian Jaya Ancol, North Jakarta. Until now, the Ancol area still maintains its identity as a tourist destination. A tourist attraction is a place that is very attractive to visitors, with natural, cultural, or historical values. However, there is currently a phenomenon about the decline in the attractiveness of Ancol Beach City Mall along with the development of modern architecture. The area has experienced a functional loss of identity and only capitalizes on selling views (movement over dwelling), and prioritizes vehicle access over pedestrian. This resulted in Ancol Beach City Mall losing the competition with other modern tourism.  The purpose of this topic is to conduct a placemaking design method with program changes at Ancol Beach City Mall in order to adapt to the latest developments, such as concert performance programs and exhibitions, so that it can be utilized effectively and still maintain its original purpose as one of the tourist destinations in Ancol. The writing method used in this research is a qualitative method, through the design concept of Diversity and Connectivity. By adjusting the program that is currently trending and to apply the design concept of Diversity and Connectivity as the new face of Ancol Beach City Mall can be a solution to revive Ancol tourist destinations. The novelty achieved in this research is a building that emphasizes flexibility of access and is environmentally friendly by having visual and contextual responses to the surrounding environment. Keywords: connectivity; diversity; entertainment; icon; placemaking Abstrak Ancol Beach City Mall merupakan kawasan wisata yang berlokasi di Taman Impian Jaya Ancol, Jakarta Utara. Sampai saat ini, Kawasan Ancol masih mempertahankan identitas nya sebagai destinasi wisata. Daya tarik wisata merupakan suatu tempat yang sangat menarik bagi pengunjung, dengan memiliki nilai-nilai alam, budaya, atau sejarah. Namun, saat ini terdapat fenomena tentang menurunnya daya tarik Ancol Beach City Mall seiring dengan perkembangan arsitektur modern. Kawasan tersebut telah mengalami kehilangan jati diri secara fungsional dan hanya bermodal menjual pemandangan (movement over dwelling), serta mementingkan akses kendaraan dari pada pedestrian. Hal tersebut mengakibatkan Ancol Beach City Mall kalah dalam persaingan dengan wisata modern lainnya. Tujuan dari topik ini adalah untuk melakukan metode desain placemaking dengan perubahan program pada Ancol Beach City Mall agar dapat beradaptasi dengan perkembangan terkini, seperti program pertunjukan konser dan pameran, sehingga dapat dimanfaatkan dengan efektif dan tetap mempertahankan tujuan awalnya sebagai salah satu destinasi wisata di Ancol. Metode penulisan yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, melalui konsep perancangan Diversity dan Connectivity. Dengan menyesuaikan program yang sedang tren pada saat ini dan untuk menerapkan konsep desain Diversity dan Connectivity sebagai wajah baru Ancol Beach City Mall dapat menjadi solusi untuk membangkitkan destinasi wisata Ancol. Kebaruan yang dicapai pada penelitian ini berupa bangunan yang mengedepankan fleksibilitas akses serta ramah lingkungan dengan memiliki visual dan respon yang kontekstual dengan lingkungan sekitar.
ERA BARU GALERI NASIONAL INDONESIA: MENGHIDUPKAN KEMBALI GALERI DI DALAM KAWASAN CAGAR BUDAYA DENGAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL JUKSTAPOSISI Auditya Hidayah, Raden; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 6 No. 2 (2024): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v6i2.30947

Abstract

The advancement of modern times has led to an increased interest in visiting galleries, making it a current trend. However, the public's interest in visiting galleries located in historic buildings has declined because they are perceived as unfamiliar and not adaptive. GNI (National Gallery of Indonesia) is one such gallery that has seen a decrease in visitors. This is due to the lack of exhibition space, which causes the current generation to avoid visiting GNI, ultimately leading to the building becoming placeless. This study uses descriptive qualitative and phenomenological methods with a juxtaposition design approach to meet the needs of the current generation while maintaining historical and cultural values. Additionally, this method serve as a strategy to prevent it from becoming placeless. The results show that from 1987 until now, there have been no changes in the program. The study findings suggest adding programs that respond to modern needs through disprogramming and contextual juxtaposition approaches. These programs can meet the needs of the current generation while maintaining local, historical, and cultural values. Keywords: Cultural Heritage; Gallery; Historic; Juxtaposition; Modernization Abstrak Modernisasi akan mengakibatkan meningkatnya minat masyarakat untuk mengunjungi galeri yang merupakan sebuah tren pada saat ini. Namun, minat masyarakat mengunjungi galeri yang berada pada bangunan bersejarah menurun karena dianggap asing dan tidak adaptif. GNI (Galeri Nasional Indonesia) adalah salah satu galeri yang saat ini semakin sepi dikunjungi. Hal tersebut disebabkan karena kurangnya jumlah ruang pameran yang menjadikan generasi saat ini tidak mengunjungi GNI dan pada akhirnya menyebabkan placeless pada bangunan ini. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif deskriptif dan fenomenologi dengan pendekatan desain jukstaposisi yang dapat menunjang kebutuhan akan generasi saat ini, namun tidak terlepas dengan nilai sejarah dan budaya. Selain itu, metode dan pendekatan ini juga berperan sebagai strategi untuk mewujudkan kembali visi dari GNI dan menghindari akan terjadinya placeless agar tetap menjadi place yang memiliki nilai historis. Hasil menunjukkan bahwa dari tahun 1987 hingga sekarang belum ada perubahan program dan fungsi sehingga tidak dapat merespon kebutuhan modern. Temuan penelitian ini memberikan solusi dengan menambahkan program yang merespon kebutuhan modern melalui disprogramming dan penataan lingkungan sekitar dengan pendekatan kontekstual jukstaposisi. Program tersebut diharapkan dapat memenuhi kebutuhan generasi saat ini dengan tetap mempertahankan lokalitas, sejarah, dan budaya. Selain itu, dalam program tersebut juga dirancang sebagai penghubung tren lampau dan tren saat ini, sehingga dapat menunjang generasi sebelumnya.
STRATEGI DESAIN BANGUNAN SEHAT UNTUK AKTIVITAS KERJA DAN SOSIAL DI KAWASAN BISNIS JENDERAL SUDIRMAN BERBASIS PENYARING UDARA MANDIRI Hasim, Sonia; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35597

Abstract

The worsening air quality in densely populated urban areas such as Jenderal Sudirman, Central Jakarta, has a direct impact on public health and the comfort of everyday activity spaces. This area experiences a significant increase in pollution due to traffic congestion and intensive commercial activity. These conditions demand architectural solutions that are not only functional but also responsive to ecological issues. This study aims to design a healthy building that supports work and social activities through the integration of an independent air filtration system using regenerative and biophilic design approaches. The selected site is a vacant plot in a highly polluted area, enabling the design strategy to be implemented from the early planning stage. This research uses a qualitative approach through literature review and case studies. The literature review builds a theoretical foundation regarding air filtration technologies and indoor air quality standards, while case studies analyze architectural projects that have applied similar approaches. The study includes systems such as Pureti-coated Neolith panels, Chlorella-based microalgae (PhotoSynthetica™), and high-standard HVAC integrated with vegetation and open spaces. The results show that integrating air filtration systems into architectural elements can improve air quality while enhancing the spatial experience. This design is expected to serve as a reference and inspiration for developing prototype healthy buildings in highly polluted urban areas. Keywords: air; biophilic; office; pollution; regenerative Abstrak Kualitas udara yang memburuk di kawasan urban padat seperti Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, berdampak langsung pada kesehatan masyarakat dan kenyamanan ruang aktivitas sehari-hari. Kawasan ini mengalami peningkatan polusi yang signifikan akibat kepadatan lalu lintas dan aktivitas komersial intensif. Kondisi ini menuntut solusi desain arsitektur yang tidak hanya fungsional, tetapi juga adaptif terhadap isu ekologis. Penelitian ini bertujuan merancang bangunan sehat yang mendukung aktivitas kerja dan sosial melalui integrasi sistem penyaring udara mandiri dengan pendekatan regeneratif dan desain biophilic. Tapak yang dipilih merupakan lahan kosong di kawasan dengan tingkat polusi tinggi, memungkinkan strategi desain diterapkan sejak tahap awal perancangan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur dan studi kasus. Kajian literatur dilakukan untuk membangun dasar teori mengenai teknologi penyaring udara dan standar kualitas udara dalam ruang, sedangkan studi kasus digunakan untuk menganalisis proyek-proyek relevan yang telah menerapkan pendekatan serupa dalam konteks arsitektural. Studi mencakup sistem seperti panel Neolith berlapis Pureti, mikroalga Chlorella (PhotoSynthetica™), serta sistem HVAC berstandar tinggi yang terintegrasi dengan vegetasi dan ruang terbuka. Hasil studi menunjukkan bahwa integrasi sistem penyaring udara dalam elemen arsitektural dapat meningkatkan kualitas udara sekaligus memperkaya pengalaman ruang. Desain ini diharapkan menjadi referensi dan inspirasi bagi pengembangan prototipe bangunan sehat di kawasan urban dengan tekanan polusi tinggi.
PENGEMBANGAN DESA PANTAI BAHAGIA: INTEGRASI KONSERVASI MANGROVE DAN PERIKANAN BERBASIS EKOWISATA BUDAYA BAHARI DI MUARA CITARUM Novafioni, Fanny; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35598

Abstract

Pantai Bahagia Village is a coastal village in Muara Citarum, Bekasi Regency, where the majority of the population makes a living as fishermen. However, this coastal area is experiencing an ecological crisis due to abrasion, flash floods, and pollution from the upper reaches of the Citarum River, which causes mangrove degradation and a decrease in fishermen's catches. This research is focused on the coastal area of Pantai Bahagia Village which has the highest level of damage and is the main location of traditional fishermen's activities. The purpose of this research is to formulate a regenerative coastal area development strategy by integrating mangrove conservation and fisheries cultivation based on marine cultural ecotourism. The research method uses a qualitative-descriptive approach with literature studies and field observations that include ecological, social, and spatial conditions of coastal areas. The results of the study show that the regenerative approach is able to create a spatial system that synergistically unites ecological, economic, and social functions. The strategies prepared include mangrove rehabilitation, the implementation of silvofishery, rainwater harvesting systems, the use of maggots as circular economy innovations, and the development of participatory ecotourism. This study concludes that regenerative coastal development can be an integrated solution to restore the environment while improving the welfare of coastal communities. These findings are expected to serve as a reference for the development of similar strategies in other coastal areas. Keywords: regenerative architecture; ecotourism; mangrove; shore; silvofishery Abstrak Desa Pantai Bahagia merupakan desa pesisir di Muara Citarum, Kabupaten Bekasi, yang mayoritas penduduknya bermata pencaharian sebagai nelayan. Namun, kawasan pesisir ini tengah mengalami krisis ekologis akibat abrasi, banjir rob, dan pencemaran dari hulu Sungai Citarum, yang menyebabkan degradasi mangrove dan menurunnya hasil tangkapan nelayan. Penelitian ini difokuskan pada kawasan pesisir Desa Pantai Bahagia yang memiliki tingkat kerusakan tertinggi dan merupakan lokasi utama aktivitas nelayan tradisional. Tujuan dari penelitian ini adalah merumuskan strategi pengembangan kawasan pesisir secara regeneratif dengan mengintegrasikan konservasi mangrove dan budidaya perikanan berbasis ekowisata budaya bahari. Metode penelitian menggunakan pendekatan kualitatifdeskriptif dengan studi literatur serta observasi lapangan yang mencakup kondisi ekologis, sosial, dan spasial kawasan pesisir. Hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan regeneratif mampu menciptakan sistem spasial yang menyatukan fungsi ekologi, ekonomi, dan sosial secara sinergis. Strategi yang disusun meliputi rehabilitasi mangrove, penerapan silvofishery, sistem pemanenan air hujan, pemanfaatan maggot sebagai inovasi ekonomi sirkular, serta pengembangan ekowisata partisipatif. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengembangan kawasan pesisir secara regeneratif dapat menjadi solusi terpadu untuk memulihkan lingkungan sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.Temuan ini diharapkan menjadi referensi bagi pengembangan strategi serupa di wilayah pesisir lainnya.
BIOCLIMATIC SANCTUARY : KONSERVASI DAN WISATA SERANGGA DI RAGUNAN JAKARTA SELATAN Nabila, Nabila; Kasimun, Petrus Rudi
Jurnal Sains, Teknologi, Urban, Perancangan, Arsitektur (Stupa) Vol. 7 No. 2 (2025): OKTOBER
Publisher : Jurusan Arsitektur dan Perencanaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24912/stupa.v7i2.35599

Abstract

Climate change has had a serious impact on the balance of the ecosystem in Jakarta, especially for pollinating insects such as bees, butterflies, and beetles. Data from BMKG shows that Indonesia's average temperature increased to 27.0°C in 2021, higher than the average temperature for the 1981–2010 period of 26.6°C. In the Jakarta area, the dominance of built-up land causes an increase in surface temperature of 2–5°C, exacerbated by erratic rainfall patterns and increasing frequency of extreme rain. This condition causes pollinating insects to lose their natural habitat, triggering insect urbanization characterized by forced migration or drastic population decline. To address this problem, the Bioclimatic Sanctuary project was designed to provide comfortable and sustainable microhabitats for pollinating insects in urban areas. The design of this project refers to a literature review of bioclimatic principles and applies a regenerative architecture approach that focuses on ecosystem restoration. The Bioclimatic Sanctuary design combines a HEPA ventilation system, vertical gardens, water ponds, energy-efficient lighting, rainwater harvesting, and flowering plants as natural food sources. Shade spaces and vegetation zones are designed to create a stable microclimate. Overall, the Bioclimatic Sanctuary functions as a conservation, education, and regeneration space that supports the preservation of biodiversity, builds ecological awareness in the community, and strengthens food security through the protection of pollinating insects amidst the challenges of climate change. Keywords: bioclimatic; ecosystem; green open space development; insects; regenerative Abstrak Perubahan iklim telah memberikan dampak serius terhadap keseimbangan ekosistem di Jakarta, terutama bagi serangga penyerbuk seperti lebah, kupu-kupu, dan kumbang. Data dari BMKG menunjukkan bahwa suhu rata-rata Indonesia meningkat menjadi 27,0°C pada tahun 2021, lebih tinggi dibandingkan suhu rata-rata periode 1981–2010 sebesar 26,6°C. Di wilayah Jakarta, dominasi lahan terbangun menyebabkan peningkatan suhu permukaan sebesar 2–5°C, diperparah oleh pola curah hujan yang tidak menentu dan meningkatnya frekuensi hujan ekstrem. Kondisi ini menyebabkan serangga penyerbuk kehilangan habitat alaminya, memicu urbanisasi serangga yang ditandai dengan migrasi paksa atau penurunan populasi yang drastis. Untuk mengatasi masalah ini, proyek Suaka Bioklimatik dirancang dengan tujuan menyediakan mikrohabitat yang nyaman dan berkelanjutan bagi serangga penyerbuk di wilayah perkotaan. Perancangan proyek ini mengacu pada kajian pustaka prinsip-prinsip bioklimatik dan menerapkan pendekatan arsitektur regeneratif yang berfokus pada pemulihan ekosistem. Desain Suaka Bioklimatik menggabungkan sistem ventilasi HEPA, taman vertikal, kolam air, pencahayaan hemat energi, pemanenan air hujan, dan tanaman berbunga sebagai sumber makanan alami. Ruang teduh dan zona vegetasi dirancang untuk menciptakan iklim mikro yang stabil. Secara keseluruhan, Suaka Bioklimatik berfungsi sebagai ruang konservasi, pendidikan, dan regenerasi yang mendukung pelestarian keanekaragaman hayati, membangun kesadaran ekologis di masyarakat, dan memperkuat ketahanan pangan melalui perlindungan serangga penyerbuk di tengah tantangan perubahan iklim.