Penelitian ini menganalisis novel Negeri 5 Menara (N5M) karya Ahmad Fuadi dengan pendekatan teori putusan estetis Pierre Bourdieu, guna memahami interaksi antara habitus religius dan kapital simbolik dalam membentuk selera pembaca terhadap karya sastra populer tersebut. Novel ini mengisahkan perjalanan tokoh utama, Alif, yang berjuang meraih cita-cita melalui pendidikan agama di Pondok Madani, sebuah lembaga pendidikan Islam modern yang merepresentasikan penggabungan nilai-nilai tradisional dan semangat kemodernan. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitiatif deskriptif untuk menggali makna simbolik dalam unsur naratif novel N5M. Data dikumpulkan melalui pembacaan mendalam terhadap teks, identifikasi elemen-elemen simbolik seperti tokoh, setting, dan diksi, serta analisis menggunakan teori Bourdieu mengenai kapital simbolik dan habitus. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pondok Madani, sebagai setting utama, berfungsi sebagai simbol pendidikan Islam yang memiliki kapital simbolik tinggi, memberikan legitimasi moral dan keagamaan kepada para tokoh, serta mempengaruhi selera pembaca. Penggunaan diksi Arab seperti man jadda wajada memperkuat nilai simbolik yang dekat dengan ajaran Islam, resonan dengan pembaca yang memiliki latar belakang agama yang serupa. Dengan demikian, interaksi antara habitus religius dan kapital simbolik menjadikan novel ini diterima dengan baik oleh pembaca, serta memenuhi ekspektasi sosial dan moral mereka.