Sukarno, Mahattama Banteng
Unknown Affiliation

Published : 6 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32 Tuminah, Sri; Budiyana, Hardi; Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831

Abstract

Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna  menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Fenomena Ndadi Sebagai Media Pendidikan Nilai Dalam Masyarakat Tradisional Jawa Sukarno, Mahattama Banteng
PUSAKA Vol 12 No 2 (2024): Pusaka Jurnal Khazanah Keagamaan
Publisher : Balai Penelitian dan Pengembangan Agama Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31969/pusaka.v12i2.1568

Abstract

Fenomena Ndadi dalam pertunjukan kesenian Kuda Lumping memiliki peran signifikan dalam masyarakat tradisional Jawa Abangan, yaitu sebagai media pendidikan berbasis nilai. Para sesepuh dan tokoh Agama Jawa memanfaatkannya untuk menyampaikan ajaran moral, etika, dan spiritual kepada anggota masyarakat, baik di dalam maupun di luar komunitas. Namun, fenomena ini sering kali menghadapi dominasi dan hegemoni ideologis dari individu atau kelompok agama formal yang menginterpretasikan Ndadi sesuai dengan perspektif mereka sendiri. Penelitian ini bertujuan untuk memahami makna Ndadi dari sudut pandang para pemain, khususnya para sesepuh kesenian Kuda Lumping. Dengan menggunakan pendekatan fenomenologi dan mengacu pada perspektif interaksionisme simbolik George Herbert Mead, peneliti merumuskan pertanyaan penelitian: Bagaimana fenomena Ndadi dalam pertunjukan Kuda Lumping berfungsi sebagai media pendidikan nilai dalam masyarakat tradisional Jawa? Penelitian ini menemukan bahwa Ndadi merupakan media yang sangat bermakna dalam pendidikan berbasis nilai. Dalam memahami makna dan nilai-nilai tersebut, para pelaku sosial perlu memahami konsep kosmologis Agama Jawa, yang memungkinkan mereka untuk mengungkap nilai-nilai seperti keberanian, pengorbanan, kesetiaan, kebersamaan, keselarasan dengan alam dan dunia spiritual, keadilan, serta rasa hormat kepada orang yang lebih tua. Nilai-nilai ini dapat dengan mudah dipahami melalui Ndadi, karena relevan, otentik, menarik, interaktif, menghargai keragaman budaya, membangkitkan emosi dan refleksi, serta kontekstual, dengan memanfaatkan elemen visual dan pendengaran yang menarik. Selain itu, Ndadi juga menunjukkan keterkaitan erat antara ekspresi seni dan spiritualitas lokal yang unik, yang memperkuat identitas budaya komunitas.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32 Tuminah, Sri; Budiyana, Hardi; Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831

Abstract

Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna  menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32 Tuminah, Sri; Budiyana, Hardi; Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831

Abstract

Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna  menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Rekontekstualisasi Pendidikan Nilai Teologi di Era Post-Truth Berdasarkan Roma 1:18-32 Tuminah, Sri; Budiyana, Hardi; Sukarno, Mahattama Banteng
Jurnal Teologi Berita Hidup Vol. 7 No. 1 (2024): September 2024
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Berita Hidup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38189/jtbh.v7i1.831

Abstract

Immoral and criminal acts by social actors in religious and cultural communities are a barometer of the low quality of theological values education. These social facts are gaining more and more space in the post-truth era. This confirms that there is a problem in Theological Education of Values that needs to be critiqued again in order to achieve maximum results. Therefore, the researcher developed a research question, namely, how to recontextualise theological values education in the post-truth era. The question is based on the research gap and is also the main basis for the novelty of this research. By developing Teun Adrianus van Dijk's critical discourse analysis perspective on Romans 1:18-32, the researcher found that the passage highlights Christian values education and provides four recommendations to address the problems and challenges that arise in the post-truth era, including: first, developing a critical and constructive attitude towards narrative; second, developing a comprehensive understanding of identity and its representation; third, promoting and implementing interfaith dialogue and tolerance; and fourth, using the media wisely. These four things are important to be implemented by theological values education activists to respond to any negative phenomenon in the present and transform it into positive and constructive based on God's truths. Tindakan-tindakan amoral dan kriminal dari aktor-aktor sosial dalam masyarakat agama dan budaya menjadi barometer atas rendahnya kualitas Pendidikan Nilai Teologis. Fakta sosial tersebut semakin mendapatkan ruang di era post-truth. Hal ini menegaskan, bahwa ada masalah dalam Pendidikan Nilai Teologi yang selama ini telah berlangsung perlu dikritisi kembali guna mendapatkan hasil maksimal. Karena itu, peneliti mengembangkan satu pertanyaan penelitian, yaitu bagaimana rekontekstualisasi Pendidikan nilai Teologi di Era Post-truth? Pertanyaan tersebut didasarkan atas celah penelitian dan sekaligus menjadi pijakan utama kebaruan penelitian ini. Dengan mengembangkan perspektif Analisa Wacana Kritis dari Teun Adrianus van Dijk atas Roma 1:18-32, peneliti menemukan bahwa perikop tersebut menekankan Pendidian Nilai Kristiani dan memberikan empat rekomendasi untuk menyikapi permasalahan dan tantangan yang muncul di era post-truth antara lain: pertama, mengembangkan sikap kritis dan konstruktif terhadap narasi; kedua, mengembangkan pemahaman komprehensif tentang identitas serta representasinya; ketiga, mempromosikan dan melaksanakan dialog lintas iman dan toleransi; dan keempat, mempergunakan media dengan bijaksana. Keempat hal tersebut menjadi penting dilaksanakan oleh penggiat Pendidikan Nilai Teologis guna  menyikapi setiap fenomena negatif dalam kekinian dan mengubahnya menjadi positif serta konstruktif berdasarkan kebenaran-kebenaran Allah.
Menyalakan Kembali Pelita Injil Yesus Kristus Di Era Pasca-Kebenaran Berdasarkan Matius 5:14-16 Tatanegara, Kondang Sri; suhadi, suhadi; Sukarno, Mahattama Banteng
SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika Vol 5, No 1 (2024): SOLA GRATIA: Jurnal Teologi Biblika dan Praktika
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Aletheia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47596/sg.v5i1.274

Abstract

Abstract: Misinformation and "false" truths have threatened the harmony of religious and cultural communities. In the context of Christianity, they are also a threat to the building of the faith of the disciples of Jesus Christ, both cognitively, affectively, and psychometrically. The researcher sees the need to rekindle the lamp of the Gospel of Jesus Christ through two research questions, among others: first, why is it important to "rekindle the lamp of the Gospel of Jesus Christ in the post-truth era," and second, how to "rekindle the lamp of the Gospel of Jesus Christ in the post-truth era." Using Norman Fairclough's Critical Discourse Analysis paradigm on Matthew 5:14-16 in dialogue with a postcolonial perspective, the researcher sees that re-lighting the Gospel of Jesus Christ is important. In addition, this research concludes with an alternative conceptual practical guideline on how to rekindle the Gospel of Jesus Christ. Abstrak: Misinformasi dan kebenaran "palsu" telah menjadi ancaman bagi keharmonisan dalam masyarakat agama dan budaya. Dalam konteks kekristenan, kedua hal tersebut juga menjadi ancaman dalam membangun iman para murid Yesus Kristus, baik secara kognitif, afektif, pun psikomotorik. Melalui dua pertanyaan penelitian, antara lain: pertama, mengapa "Menyalakan Kembali Pelita Injil Yesus Kristus di Era Pasca-Kebenaran" adalah penting dilakukan pada masa kini? dan kedua, bagaimana "Menyalakan Kembali Pelita Injil Yesus Kristus Di Era Pasca-Kebenaran?" peneliti memandang perlu menyalakan kembali pelita Injil Yesus Kristus. Dengan mempergunakan paradigma Analisis Wacana Kritis dari Norman Fairclough terhadap Matius 5:14-16 yang dialogkan dengan perspektif pasca kolonial, peneliti melihat bahwa tindakan menalakan pelita kembali Injil Yesus Kristus adalah penting dilakukan. Selain itu, penelitian ini diakhiri dengan alternatif pedoman praktis secara konseptual bagaimana meyalakan pelita kembali Injil Yesus Kristus.