AbstractThis research is motivated by the existence of musyrif problems from the aspect of communication skills in developing the character of students at Ma'had Al-Jahami'ah Padangsidimpuan State Islamic Institute. This study aims to identify the problems of musyrif from the aspect of communication skills in developing the character of students at Ma'had Al-Jahami'ah IAIN Padangsidimpuan. This research approach uses inductive qualitative nature. Data collection is done by observing carefully, interviewing, and collecting documentation. The results of the research are the problems of musyrif from the aspect of the musyrif's communication skills which are characterized by the ability to use communication methods in developing student character, namely by (1) lectures, (2) habituation, (3) stories, (4) persuasion, (5) halaqah. , (6) mau'izhotil hasanah, (7) proverbs (8) advice, (9) guidance, (10) practicum, (11) warning, (12) discussion, (13) giving sanctions/punishments. One of the factors for not implementing student character development is that the musyif lack the ability to communicate in public because there is still fear and shame.AbstrakPenelitian ini dilatar belakangi dengan adanya problematika musyrif dari aspek kemampuan komunikasi dalam pembinaan karakter mahasantri di Ma'had Al-Jahami'ah Institut Agama Islam Negeri Padangsidimpuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi problematika musyrif dari aspek kemampuan komunikasi dalam pembinaan karakter mahasantri di Ma'had Al-Jahami'ah IAIN Padangsidimpuan. Pendekatan penelitian ini menggunakan kualitatif yang bersifat induktif. Pengumpulan data dilakukan dengan cara mengamati secara teliti, wawancara dan mengumpulkan dokumentasi. Hasil penelitian adalah problematika musyrif dari aspek kemampuan komunikasi para musyrif yang ditandai dengan kemampuan dalam menggunakan cara berkomunikasi dalam pembinaan karakter mahasantri yaitu dengan cara (1) ceramah, (2) pembiasaan, (3) cerita, (4) persuasif, (5) halaqah, (6) mau'izhotil hasanah, (7) amsal (8) nasehat, (9) suritauladan, (10) praktikum, (11) teguran, (12) diskusi, (13) pemberian sanksi/hukuman. Salah satu faktor ketidak terlaksananya pembinaan karakter mahasantri adalah para musyif kurang memiliki kemampuan komunikasi di depan umum karena masih ada rasa takut dan malu.