Pada tanggal 18 Oktober 2022, banjir dan tanah longsor terjadi di Malang. Fenomena ini terjadi karena hujan ekstrem yang terjadi pada hari sebelumnya, yaitu pada tanggal 17 Oktober 2022. Akibatnya, 8 kecamatan terdampak oleh fenomena ini, yaitu Kecamatan Tirtoyudo, Ampelgading, Dampit, Sumbermanjing Wetan, Gedangan, Bantur, Pagak dan Donomulyo. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis penyebab terjadinya hujan ekstrem yang terjadi di Malang menggunakan data reanalisis ERA-5 (relative humidity lapisan 850 dan 700 mb, pola angin lapisan 3000 ft, vertical velocity dan total precipitation) dan data NOAA (Anomali Suhu Permukaan Laut (SPL) dan Outgoing Longwave Radiation (OLR)). Kemudian, data reanalisis tersebut dianalisis secara deskriptif. Hasil penelitian menunjukan bahwa kelembapan udara pada lapisan 850 dan 700 mb basah dan lembap yang berkisar antara 80-95%. Selain itu, pola angin 3000 ft menunjukan bahwa terdapat sirkulasi siklonik dan konvergensi pada pukul 06.00 UTC. Nilai vertical velocity negatif terjadi di 8 kecamatan dan berkisar antara -0.5 – (-0.1) Pa/s, dimana hal ini mengindikasikan gerakan massa udara yang bergerak menuju atmosfer. Selanjutnya, anomali SST berkisar antara 0.2 – 0.60C dan menunjukan adanya peningkatan temperatur dari normalnya. Sementara itu, hasil data OLR berkisar antara 160-170 W/m2 dan mengindikasikan adanya tutupan awan konvektif yang luas di Malang selama hujan ekstrem terjadi. Seluruh hasil tersebut di atas mendukung pertumbuhan awan konvektif yang menyebabkan terjadinya hujan ekstrem di Malang. Namun, hasil analisis total rainfall tidak mampu untuk menangkap kejadian hujan ekstrem tersebut.