Abrar, Arsyad
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

STUDI APLIKASI METODE KEMIRIPAN REDAKSI PERSPEKTIF FADEL SALEH AS SAMARRAI: Tafsir Surah Al-Tin Rahman, Syahrul; Nur, Afrizal; Abrar, Arsyad
TAJDID: Jurnal Ilmu Ushuluddin Vol. 21 No. 2 (2022): Kajian Ilmu Ushuluddin dan Studi Agama
Publisher : Faculty of Ushuluddin and Religious Studies UIN Sulthan Thaha Saifuddin Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.476 KB) | DOI: 10.30631/tjd.v21i2.264

Abstract

This article intends to explain how Fadel as Samarrai applies the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method in interpreting surah at-Tin in his book Ta'bir al Qurany. Fadel as Samarrai is a contemporary Arabic language expert who actively teaches on campus and social media. This literature study employs a descriptive analysis method and a historical-philosophical approach. This study shows that the book at Ta'bir al Qurany predominantly used the tafsir bi arra'yi method, which is very strong with the nuances of its lughawi interpretation. This study concludes, first, that the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to use the method of interpreting the Qur’an with the Qur’an. For example, as Samarrai interprets verse 6 of surah at Tin by referring to verse 3 of surah al-Asr and also explains the editorial of verse 25 of al Insyiqaq. Second, the al Tasyabuh wa al ikhtilaf method tends to accommodate many verse meanings. Third, the more observant and thorough a mufassir looks at the similarity of the editorial of a verse, the more linguistic secrets are opened that may be closed to others. The more the similarity in the editorial side of the verses of the Qur’an is ignored, the more negative stigma towards the language of the Qur’an is opened. Artikel ini bermaksud menjelaskan bagaimana Fadel as Samarrai mengaplikasikan metode al Tasyabuh wa al ikhtilaf (persamaan dan perbedaan redaksi ayat) dalam menafsirkan surah at-Tin dalam kitabnya Ta’bir al Qurany. Fadel as Samarrai adalah seorang pakar bahasa Arab kontemporer yang aktif mengajar di kampus dan juga aktif di media social. Penelitian ini merupakan studi literatur yang menggunakan metode deskriptif analisis dan pendekatan historical-filosofi. Penelitian ini menunjukkan bahwa kitab at Ta’bir al Qurany secara dominan menggunakan metode tafsir bi arra’yi yang sangat kuat dengan nuansa tafsir lughawinya. Penelitian ini menyimpulkan, pertama siapapun yang menerapkan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung menggunakan metode penafsiran al Quran dengan al Quran. Contohnya, as Samarrai menafsirkan ayat 6 surah at Tin dengan merujuk ayat 3 surah al Ashr dan juga menjelaskan redaksi ayat 25 al Insyiqaq, analisa as Samarrai menyimpulkan bahwa perbedaan redaksi ayat sejalan dengan konteks surah.  Kedua, menggunakan metode at Tasyabuh wa al ikhtilaf cenderung mengakomodir banyak makna ayat. Ketiga, semakin jeli dan teliti seorang mufassir melihat sisi kemiripan redaksi satu ayat, semakin terbuka rahasia-rahasia kebahasaan yang mungkin tertutup untuk orang lain. Semakin diabaikan sisi kemiripan redaksi ayat al Quran semakin terbuka hadirnya stigma negatif terhadap bahasa al Quran.
STUDI KENABIAN PEREMPUAN DALAM PENAFSIRAN ALQURAN Abrar, Arsyad
HUMANISMA : Journal of Gender Studies Vol. 1 No. 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Islam Negeri Sjech M. Djamil Djambek Bukittinggi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30983/jh.v1i1.240

Abstract

Tulisan ini membuktikan bahwa kenabian perempuan adalah sesuatu yang legal dalam Alquran. Hal tersebut pada dasarnya adalah hasil dari penelitian penulis terhadap pemikiran al-Qurt}u>bi> yang berkaitan dengan kenabian perempuan. Al-Qurt}u>bi> menampilkan pola penafsiran yang berbeda dengan para mufasir semasanya. Meskipun apa yang dipraktekan oleh al-Qurt}u>bi> cenderung mengarah kepada penafsiran tekstual. Dalam penelitian ini juga membuktikan bahwa penafsiran tekstual tersebut tidaklah semata-mata kembali pada makna dasar kata, harus juga dikuatkan dengan sumber-sumber yang valid. .