Rini Maryone
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

MEGALITIK DAN CERITA RAKYAT SUKU BAHAM DI GUA SOSOSRAWERU FAK-FAK (Megalithic and Folklore of Baham Tribe in the Sosoraweru Cave Fak-Fak) Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (347.061 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i2.25

Abstract

Megalith Papua is the actual activity with medium natural stones such as stalagmites and stalagtik in a cave, a dolmen, stone sculptures and other natural stones are considered to be the reincarnation of the spirits of ancestors, as found in the cave Sosoreweru. In this study conducted in the Cave Sosoraweru Forir village in the district of Coke, Fakfak. The methods used in this study is the method of data collection includes library research, field surveys, using the approach Ethnoarchaeology. The results of the study in the form of 4 pieces shaped stone menhirs. based on these findings may reveal molar tribal folklore in the village district Forir the consortium. Folklore have utility in a common life, as a means of educators, entertainment, social protest and the projection of a pent-up desire.ABSTRAKMegalitik Papua merupakan kegiatan aktual dengan media batu-batu alam seperti stalagmit dan stalagtik dalam gua, dolmen, batu pahatan dan batu-batu alam lainnya yang dianggap sebagai jelmaan roh-roh nenek moyang. Penelitian ini dilakukan di Gua Sosoraweru, Kampung Forir di Distrik Kokas, Kabupaten Fakfak. Adapun metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode pengumpulan data yang meliputi studi pustaka, survei lapangan, dan analisis menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian berupa empat buah batu berbentuk menhir. Berdasarkan temuan tersebut dapat mengungkapkan cerita rakyat suku Baham di Kampung Forir, Distrik Fakfak. Cerita rakyat mempunyai fungsi sebagai media pendidikan, hiburan, protes sosial dan proyeksi suatu keinginan yang terpendam.
FUNGSI MAKNA DAN SIMBOL PADA KARWAR (Function and Meaning of Karwar Symbol) Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 6 No. 2 (2014): November 2014
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (193.99 KB) | DOI: 10.24832/papua.v6i2.28

Abstract

The existence of natural caves and niches wild in Biak and interesting enough, one of which is on the site Cave Yenukem, Makmakerbo village. On the site is found in the form of rock art paintings karwar on boulders. Karwar rock art painting is a relic of prehistoric ancestors, who came from the monumental character of the neolithic culture. Regarding the remains of rock art paintings karwar mystery writer tries to analyze the function, and symbols that can be known and studied by the younger generation, which contained educative function containing moral education for human life. The method of data collection is done with literature, field surveys, and analysis using Ethnoarchaeology approach. Painting sculpture karwar a relic of prehistoric ancestors. Karwar so basic concepts of trust in the Biak past so they created a form of sculpture called amflanir / karwar to commemorate those who died.ABSTRAKKeberadaan gua-gua alam maupun ceruk-ceruk alam di wilayah Biak cukup banyak dan menarik, salah satunya adalah di situs Gua Yenukem Desa Makmakerbo. Di situs tersebut ditemukan berupa lukisan seni cadas karwar pada bongkahan batu. Lukisan seni cadas karwar merupakan peninggalan dari nenek moyang dari jaman prasejarah, yang bercorak monumental berasal dari kebudayaan neolitik. Mengenai tinggalan seni cadas lukisan karwar penulis mencoba mengupas misteri akan fungsi, dan simbol sehingga dapat di ketahui dan dipelajari oleh generasi muda, yang termuat fungsi edukatif yang berisikan pendidikan moral bagi kehidupan manusia. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, survei lapangan, dan analisis menggunakan pendekatan etnoarkeologi. Lukisan patung karwar merupakan peninggalan dari nenek moyang dari jaman prasejarah. Konsep kepercayaan karwar begitu mendasar pada orang Biak masa lampau sehingga mereka menciptakan suatu bentuk patung yang di sebut amflanir/ karwar untuk memperingati orang yang meninggal.
PERALATAN HIDUP MASYARAKAT SARMI: Sarmi Community Living Equipment Rini Maryone
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 13 No. 2 (2021): November 2021
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/papua.v13i2.313

Abstract

Di wilayah Kabupaten Sarmi khususnya daerah pedesaan masih ada yang menggunakan peralatan hidup tradisional. Berdasarkan hal tersebut, penulis mengajukan beberapa masalah, yaitu ; apa saja nama, bentuk, fungsi cara pembuatanannya dan peratan hidup apa saja yang masih bertahan dalam kehidupan masyarakat Sarmi. Tujuan penulisan ini adalah mengetahui bentuk, fungsi cara pembuatan dan juga mengetahui peralatan hidup apa saja masih bertahan dalam kehidupan masyarakat Sarmi. Untuk mengungkapkan permasalahan maka metode yang digunakan adalah metode penelitian deskritif, dengan pendekatan etnoarkeologi dilakukan dengan beberapa tahap, pengolahan data, dilakukan dengan cara mendeskripsikan data mengenai peralatan hidup, kemudian dianalisis dan diinterpretasikan. Hasil yang diperoleh berupa ; Noken, Jaring tangan, Busur Panah,Tifa, Alat tusuk, Sangkur, Wadah Dawa, Alat putar papeda, Alat berbentuk seperti garpu, Jenis wadah yang mirip seperti dawan namun berukuran lebih kecil, Gelang tanganpemukul, Sendok, Daun pembungkus rokok, Menokok sagu.Peralatan hidup suku-suku yang berada di Kabupaten Sarmi, mulai dari peralatan makan, peralatan menangkap ikan, peralatan berburu, peralatan menokok sagu dan perlengkapan busana tradisional. Peralatan-peralatan hidup pada masa kini, ada yang masih dipergunakan, tetapi ada yang sudah beralih fungsi..
BUDAYA SAGU DI PAPUA DARI MASA PRASEJARAH HINGGA MASA KINI Hari Suroto; Rini Maryone; Marlyn Salhuteru
Naditira Widya Vol. 17 No. 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 April Tahun 2023
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sagu merupakan bahan makanan pokok masyarakat Papua dan banyak ditemukan di lingkungan sekitar permukiman mereka. Aktivitas mengolah sagu tidak memerlukan pengeluaran yang banyak, baik tenaga, biaya, dan waktu serta resikonya kecil, dibandingkan dengan aktivitas berburu atau menangkap ikan. Oleh karena itu, tanaman sagu menjadi salah satu karakteristik kebudayaan Papua sekarang, yaitu sebagai penanda identitas, batas wilayah, bahkan memiliki fungsi dalam aktivitas adat. Sejumlah ahli arkeologi telah membahas tentang eksistensi sagu yang berkaitan dengan wadah-wadah tanah liat. Tujuan penelitian ini adalah memahami perkembangan budaya sagu di Papua sejak masa prasejarah hingga masa kini. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, observasi, wawancara dan pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sagu merupakan tanaman penting orang Papua. Kebudayaan yang berkaitan dengan sagu di Papua sudah dikenal sejak sekitar 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya asosiasi antara fragmen forna atau tungku pemanggang, serta fragmen periuk dan tempayan dan pengolahan sagu di situs-situs hunian prasejarah. Budaya sagu juga masih berlangsung hingga saat ini di Papua, hal ini terlihat pada tradisi menokok sagu, rumah gaba-gaba, peralatan sehari-hari berbahan pohon sagu, kuliner sagu, serta ritual yang berkaitan dengan sagu. The environment around the Papuan settlements provides abundant sago for their staple food. Therefore, sago has become one of the characteristics of Papuan culture today, whether as an identity marker and territorial boundaries or a means of traditional activities. This research aims to understand the development of sago culture in Papua from prehistoric periods to the present. This research uses literature study, observation, interviews, and an ethnoarchaeological approach. Research results suggest that the Papuan people have known culture related to sago in Papua since around 30,000 years ago. Archaeologically, this is evident from fragments of ‘forna’ or roasting stoves and sherds of pots and jars found at prehistoric settlement sites. The sago culture continues today in Papua, which can be seen in the tradition of sago felling, ‘gaba-gaba’ houses, daily utensils, sago culinary delights, and rituals related to sago.