Claim Missing Document
Check
Articles

Found 8 Documents
Search

PERAN PENERBANGAN PERINTIS DALAM MENGUBAH PERADABAN PRASEJARAH KE MODERN Dl PEGUNUNGAN PAPUA {The Aviation Pioneer1S Role in Changing Prehistoric to Modern Civilization in the Mountain Range of Papua) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 8 No. 1 (2016): Juni 2016
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3034.985 KB) | DOI: 10.24832/papua.v8i1.8

Abstract

The geographical condition of Papua Mountain Range is hard to reach, isolated from the landline, and possessing a community that lives in prehistoric tradition. Airplane becomes the most effective means of transportation to connect the world. This study is aimed to find out the history of aviation pioneer in the Mountain Range of Papua as well as its role in modernizing the local civilization. The methods used in this research are field observation and literature review. The analysis uses historical and contextual environment approaches. Aviation in the Mountain Range of Papua is pioneered by missionaries of Colonial era. The aviation pioneer has opened communication to the world and created new civilization. During its development, educational and medical facilities, economic and governmental activities are established and centered nearby the airport. AbstrakKondisi geografis pegunungan Papua sangat sulit dijangkau, terisolasi jalur darat, masyarakatnya hidup dalam tradisi prasejarah. Pesawat terbang menjadi satu-satunya sarana transportasi yang paling efektif untuk menghubungkan dengan dunia luar. Tujuan tulisan ini yaitu untuk mengetahui sejarah penerbangan perintis di pegunungan Papua serta peran penerbangan perintis di pegunungan Papua dalam memodernkan peradaban setempat. Metoda penelitian yang digunakan yaitu observasi lapangan dan studi pustaka. Analisis menggunakan pendekatan sejarah dan pendekatan kontekstual lingkungan. Penerbangan perintis di pegunungan Papua dipelopori oleh misionaris pada masa pemerintahan Belanda. Penerbangan perintis telah membuka komunikasi dengan dunia luar serta memunculkan peradaban baru. Dalam perkembangannya didirikan fasilitas pendidikan, kesehatan dan aktivitas ekonomi serta pemerintahan berpusat di sekitar lapangan terbang.
KEHIDUPAN MASA PROTOSEJARAH DI SITUS MOSANDUREI, NABIRE (Protohistory Life in the Mosandurei Site, Nabire) Hari Suroto
Jurnal Penelitian Arkeologi Papua dan Papua Barat Vol. 7 No. 1 (2015): Juni 2015
Publisher : BALAI ARKEOLOGI PAPUA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1596.902 KB) | DOI: 10.24832/papua.v7i1.34

Abstract

The survey results Mosandurei ground level at the site shows potential archaeological remains are diverse, but it can not be interpreted broadly associated with human use of the site by supporters. So we need systematic research with excavation. This paper aims to determine the pattern of human use of the site by supporters; knowing the character of human culture supporter Mosandurei site and to know the culture process Mosandurei sites. This paper aims to determine human life ever Mosandurei activity on the site in the past. Data collection is done in several ways, namely literature, surveying the ground, excavation. Data analysis was performed with artefaktual analysis, contextual analysis, and stratigraphic analysis. The survey and excavation at ground level Mosandurei site managed to find shells of mollusks, bone fragments, teeth, fragments of pottery, fragments of Chinese ceramics, European ceramics fragments, fragments of European bottles, beads, and stone tools. Based on the analysis of the data it is concluded that the site Mosandurei a prehistoric dwelling sites that continued until past history.AbstrakHasil survei permukaan tanah di situs Mosandurei menunjukkan potensi tinggalan arkeologi yang beragam, namun hal ini belum dapat menginterpretasikan secara luas terkait dengan pemanfaatan situs oleh manusia pendukungnya. Oleh karena itu, penelitian yang sistematis dengan ekskavasi perlu dilakukan. Tulisan ini bertujuan untuk mengetahui kehidupan manusia yang pernah beraktivitas di situs Mosandurei pada masa lampau. Kajian tulisan ini dilakukan dengan pengumpulan data dan analisis data. Pengumpulan data dilakukan dengan beberapa cara, yaitu studi pustaka, survei permukaan tanah, ekskavasi. Analisis data dilakukan dengan analisis artefaktual, analisis kontekstual, dan analisis stratigrafis. Hasil survei permukaan tanah dan ekskavasi di situs Mosandurei berhasil menemukan cangkang moluska, fragmen tulang, gigi, fragmen gerabah, fragmen keramik Cina, fragmen keramik Eropa, fragmen botol Eropa, manik-manik, dan alat batu. Berdasarkan analisis data maka diinterpretasikan bahwa situs Mosandurei merupakan situs hunian prasejarah yang berlanjut hingga masa sejarah.
Korelasi Persebaran Bahasa Austronesia dengan Persebaran Temuan Artefak Gerabah di Papua Hari Suroto
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 6 No. 1 (2010)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1942.269 KB) | DOI: 10.26499/kc.v6i1.52

Abstract

Based on the language mapping in Papua have mentioned that the Austronesian languages and non-Austronesian. Based on the mapping of the language is known in Pegunungan Tengah and inland areas can not find the Austronesian language of Papua, while the non-Austronesian languages are found only in inland and coastal. Austronesian languages found along the northern coast of Papua, coastal and island in Teluk Cenderawasih, and the coast of Kepala Burung. Austronesia languages in Papua brought by Austronesian speakers who migrated to this area in 1500 until 1000 BC. Based on this record so that there are areas of Papua Austronesia language that is expected to have pottery material culture.
Melacak Jejak Situs Arkeologi dari Sastra Lisan Hari Suroto
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 7 No. 1 (2011)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1239.778 KB) | DOI: 10.26499/kc.v7i1.68

Abstract

Archeology is a part of science that can not stand alone, so id needs other knowledge. To find archeology remain or archeological site, the archeolog take the first information from the people and writing source. Papua tradition on past is oral tradition, so it difficult for archeolog to find archeology remain or archeological site. But Papua richer the folklore that can be history and place source. Folklore using as the first information on archeology research is the new thing, and it can apply on Papua.
Apakah Manusia Purba Mampu Berbahasa Verbal? Hari Suroto
Kibas Cenderawasih : Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Kesastraan Vol. 8 No. 1 (2012)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Papua

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (908.534 KB) | DOI: 10.26499/kc.v8i1.82

Abstract

Since Charles Darwin's theory of evolution is triggered, alot of speculation about the emergence of language. The data were found to date only limited fossil hominid skull, while the language itself does not fossilize. The data is the presence of artifacts of early human handiwork. Although the form of fossil skulls and artifacts, this data can be used to reconstruct the early emergence of language. Hominid fossils analyzed is representative for homo erectus skull found in Central Java Sangiran about 700,000 years old. Homo erectus fossil skull is the most complete Sangiran 17. Based on the analysis of the skull of Homo erectus Sangiran 17 is known that early man was able to speak, while the language is merely a proto-language.
JEJAK BUDAYA SAGU DAN TRADISI PENGELOLAAN HUTAN SAGU DI KAWASAN DANAU SENTANI, PAPUA Amurwani Putri; Hari Suroto
Naditira Widya Vol 17 No 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 Tahun 2023
Publisher : Balai Arkeologi Kalimantan Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/nw.v17i1.522

Abstract

Hutan sagu dijumpai di kawasan Danau Sentani, di Papua. Tanaman sagu ini sudah ada sejak nenek moyang etnis Sentani tiba pertama kali di kawasan danau ini, dan pengelolaan hutan sagu merupakan identitas masyarakat Sentani. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga memiliki nilai filosofis dari segi kearifan lokal yang harus dijaga karena mengandung aspek lingkungan dan budaya. Saat ini, hutan sagu ditantang oleh modernisasi. Persoalan mendasar dari tantangan tersebut adalah bagaimana masyarakat Sentani mampu mempertahankan tradisi pengelolaan hutan sagu. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan budaya sagu dan tradisi pengelolaan hutan sagu oleh etnis Sentani di kawasan Danau Sentani. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatan etnoarkeologi yang berupaya untuk mengkaji perilaku masyarakat Sentani dalam mendukung kearifan lokal dalam pengelolaan sagu dan menjawab permasalahan modernisasi yang terjadi di kawasan Danau Sentani. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka, wawancara, survei arkeologi, dan observasi lapangan. Bukti arkeologi menunjukkan bahwa pemanfaatan sagu sebagai bahan makanan sudah ada sejak zaman prasejarah. Artefak terkait sagu yang ditemukan dari situs-situs di kawasan Danau Sentani adalah pecahan tembikar dan alat tokok sagu. Pembangunan infrastruktur modern akhir-akhir ini mulai merusak hutan sagu. Kondisi tersebut makin diperparah dengan penggunaan mesin pengolah sagu modern yang lebih efisien, tetapi tidak mempertimbangkan laju pertumbuhan pohon sagu sehingga menyebabkan cepatnya kepunahan tanaman sagu. Tanaman sagu sangat bermanfaat bagi masyarakat Sentani, oleh karena itu perlu dilakukan pelestarian hutan sagu yang berbasis kearifan lokal. Sago forests grow in the Sentani Lake region, in Papua, and the management of sago forests is known as the identity of the Sentani people. Sago conveys a philosophical value of local wisdom concerning environmental and cultural aspects. This research aimed to understand the sago culture and the sago forest management tradition of the Sentani people. An ethnoarchaeological approach and data obtainment was performed through literature study, interviews, archaeological surveys, and field observations. Results show that people have regarded sago as a constituent food since prehistoric periods. Sago-related artifacts recovered from the Sentani sites were potsherds and sago felling tools. Today, the development of modern infrastructure and the use of modern machines have begun to destroy sago forests. Such circumstance causes the rapid extinction of sago plants. Sago plants are beneficial to the people of Sentani. Therefore, it is necessary to preserve sago forests based on local wisdom.
JEJAK BUDAYA SAGU DAN TRADISI PENGELOLAAN HUTAN SAGU DI KAWASAN DANAU SENTANI, PAPUA Amurwani Putri; Hari Suroto
Naditira Widya Vol. 17 No. 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 April Tahun 2023
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hutan sagu dijumpai di kawasan Danau Sentani, di Papua. Tanaman sagu ini sudah ada sejak nenek moyangetnis Sentani tiba pertama kali di kawasan danau ini, dan pengelolaan hutan sagu merupakan identitas masyarakatSentani. Selain sebagai sumber pangan, sagu juga memiliki nilai filosofis dari segi kearifan lokal yang harus dijaga karenamengandung aspek lingkungan dan budaya. Saat ini, hutan sagu ditantang oleh modernisasi. Persoalan mendasar daritantangan tersebut adalah bagaimana masyarakat Sentani mampu mempertahankan tradisi pengelolaan hutan sagu.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keberadaan budaya sagu dan tradisi pengelolaan hutan sagu olehetnis Sentani di kawasan Danau Sentani. Penelitian ini bersifat deskriptif dengan menggunakan pendekatanetnoarkeologi yang berupaya untuk mengkaji perilaku masyarakat Sentani dalam mendukung kearifan lokal dalampengelolaan sagu dan menjawab permasalahan modernisasi yang terjadi di kawasan Danau Sentani. Metode penelitianyang digunakan adalah studi pustaka, wawancara, survei arkeologi, dan observasi lapangan. Bukti arkeologimenunjukkan bahwa pemanfaatan sagu sebagai bahan makanan sudah ada sejak zaman prasejarah. Artefak terkaitsagu yang ditemukan dari situs-situs di kawasan Danau Sentani adalah pecahan tembikar dan alat tokok sagu.Pembangunan infrastruktur modern akhir-akhir ini mulai merusak hutan sagu. Kondisi tersebut makin diperparah denganpenggunaan mesin pengolah sagu modern yang lebih efisien, tetapi tidak mempertimbangkan laju pertumbuhan pohonsagu sehingga menyebabkan cepatnya kepunahan tanaman sagu. Tanaman sagu sangat bermanfaat bagi masyarakatSentani, oleh karena itu perlu dilakukan pelestarian hutan sagu yang berbasis kearifan lokal.Sago forests grow in the Sentani Lake region, in Papua, and the management of sago forests is known as the identity of the Sentani people. Sago conveys a philosophical value of local wisdom concerning environmental and culturalaspects. This research aimed to understand the sago culture and the sago forest management tradition of the Sentanipeople. An ethnoarchaeological approach and data obtainment was performed through literature study, interviews, archaeological surveys, and field observations. Results show that people have regarded sago as a constituent food since prehistoric periods. Sago-related artifacts recovered from the Sentani sites were potsherds and sago felling tools. Today,the development of modern infrastructure and the use of modern machines have begun to destroy sago forests. Such circumstance causes the rapid extinction of sago plants. Sago plants are beneficial to the people of Sentani. Therefore, it is necessary to preserve sago forests based on local wisdom.
BUDAYA SAGU DI PAPUA DARI MASA PRASEJARAH HINGGA MASA KINI Hari Suroto; Rini Maryone; Marlyn Salhuteru
Naditira Widya Vol. 17 No. 1 (2023): Naditira Widya Volume 17 Nomor 1 April Tahun 2023
Publisher : National Research and Innovation Agency (BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sagu merupakan bahan makanan pokok masyarakat Papua dan banyak ditemukan di lingkungan sekitar permukiman mereka. Aktivitas mengolah sagu tidak memerlukan pengeluaran yang banyak, baik tenaga, biaya, dan waktu serta resikonya kecil, dibandingkan dengan aktivitas berburu atau menangkap ikan. Oleh karena itu, tanaman sagu menjadi salah satu karakteristik kebudayaan Papua sekarang, yaitu sebagai penanda identitas, batas wilayah, bahkan memiliki fungsi dalam aktivitas adat. Sejumlah ahli arkeologi telah membahas tentang eksistensi sagu yang berkaitan dengan wadah-wadah tanah liat. Tujuan penelitian ini adalah memahami perkembangan budaya sagu di Papua sejak masa prasejarah hingga masa kini. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, observasi, wawancara dan pendekatan etnoarkeologi. Hasil penelitian menunjukan bahwa sagu merupakan tanaman penting orang Papua. Kebudayaan yang berkaitan dengan sagu di Papua sudah dikenal sejak sekitar 30.000 tahun yang lalu. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya asosiasi antara fragmen forna atau tungku pemanggang, serta fragmen periuk dan tempayan dan pengolahan sagu di situs-situs hunian prasejarah. Budaya sagu juga masih berlangsung hingga saat ini di Papua, hal ini terlihat pada tradisi menokok sagu, rumah gaba-gaba, peralatan sehari-hari berbahan pohon sagu, kuliner sagu, serta ritual yang berkaitan dengan sagu. The environment around the Papuan settlements provides abundant sago for their staple food. Therefore, sago has become one of the characteristics of Papuan culture today, whether as an identity marker and territorial boundaries or a means of traditional activities. This research aims to understand the development of sago culture in Papua from prehistoric periods to the present. This research uses literature study, observation, interviews, and an ethnoarchaeological approach. Research results suggest that the Papuan people have known culture related to sago in Papua since around 30,000 years ago. Archaeologically, this is evident from fragments of ‘forna’ or roasting stoves and sherds of pots and jars found at prehistoric settlement sites. The sago culture continues today in Papua, which can be seen in the tradition of sago felling, ‘gaba-gaba’ houses, daily utensils, sago culinary delights, and rituals related to sago.