Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Pentingnya Pendidikan Karakter Bagi Anak Usia Dini Harahap, Ayunda Zahroh
Jurnal Usia Dini Vol. 7 No. 2: Desember 2021
Publisher : PG PAUD FIP UNIMED

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24114/jud.v7i2.30585

Abstract

Pendidikan karakter bertujuan untuk membentuk penyempurnaan diri individu secara terus-menerus dan melatih kemampuan diri demi menuju ke arah hidup yang lebih baik. Mengingat anak usia dini adalah golden age, maka pendidikan karakter seyogyanya ditanamkan dan diterapkan sedini mungkin. Pendidikan karakter dilaksanakan di lingkungan sekolah maupun di lingkungan rumah. Di lingkungan sekolah, guru sebagai teladan bagi anak usia dini. Sedangkan di lingkungan rumah, orang tua sebagai teladan. Jadi, harus ada keseimbangan perilaku antara guru dengan orang tua yang akan ditiru anak usia dini sebagai teladan. Periode usia dini merupakan masa yang mendasari kehidupan manusia selanjutnya. Atas dasar inilah, penting kiranya dilakukan pendidikan karakter pada anak usia dini, dalam memaksimalkan kemampuan dan potensi anak. Sebagai pendidik dan orang tua harus memanfaatkan masa golden age ini sebagai masa pembinaan, pengarahan, pembimbingan, dan pembentukkan karakter pada anak usia dini. Metode penelitian penulisan ini yang digunakan adalah kajian kepustakaan. Data-data yang dipergunakan dalam penyusunan karya tulis ini berasal dari berbagai literatur kepustakaan yang berkaitan dengan permasalahan yang dikaji. Metode penanaman karakter anak usia dini salah satunya dengan cara, keteladanan dan pembiasaan.
TOUR DAN HARGA DIRI PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN HUKUM ISLAM Harahap, Ayunda Zahroh; Mafaid, Ahmad
El-Ahli : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2020): EL-AHLI : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam STAIN Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/el-ahli.v1i2.313

Abstract

Sebagian masyarakat menilai nominal mahar yang fantastis merupakan harga diri perempuan. Jadi, ketika calon suami memberikan sesuatu yang berharga kepada calon istrinya, artinya ia menghargai marwah perempuan. Ini terjadi dalam masyarakat Mandailing dan Angkola yang menganut adat istiadat patrilinier yang mengharuskan adanya tradisi tuhor ni boru. Belakangan ini tuor menjadi kontroversi di ranah Mandailing, besarnya tuor menjadi kendala bagi setiap laki­laki maupun remaja yang akan melangsungkan adat pernikahan. Dalam kaitan ini, Islam hanya meletakkan konsep dan prinsip dasar mahar. Rasulullah Saw. pernah menasehatkan asas normatif mahar bahwa mahar yang baik adalah suatu pemberian yang sederhana, tulus dan tidak memberatkan. Karena mahar bukanlah sebuah rukun juga bukan sebuah syarat dalam perkawinan, melainkan ia adalah salah satu dampak yang diakibatkan oleh akad perkawinan. Oleh sebab itu, posisi mahar menjadi pembahasan penting dalam suatu pernikahan. Perlu pengkajian dari sisi psikologi dan agama, apakah mahar berkaitan dengan harga diri atau hanya sebatas budaya?, apakah mahar menjadi lambang kemampuan atau suatu penghargaan?, mungkin juga sebagai pembanding antara si kaya dan si miskin.
TOUR DAN HARGA DIRI PERSPEKTIF PSIKOLOGI DAN HUKUM ISLAM Harahap, Ayunda Zahroh; Mafaid, Ahmad
El-Ahli : Jurnal Hukum Keluarga Islam Vol 1 No 2 (2020): EL-AHLI : Jurnal Hukum Keluarga Islam
Publisher : Program Studi Hukum Keluarga Islam Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri Mandailing Natal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56874/el-ahli.v1i2.313

Abstract

Sebagian masyarakat menilai nominal mahar yang fantastis merupakan harga diri perempuan. Jadi, ketika calon suami memberikan sesuatu yang berharga kepada calon istrinya, artinya ia menghargai marwah perempuan. Ini terjadi dalam masyarakat Mandailing dan Angkola yang menganut adat istiadat patrilinier yang mengharuskan adanya tradisi tuhor ni boru. Belakangan ini tuor menjadi kontroversi di ranah Mandailing, besarnya tuor menjadi kendala bagi setiap laki­laki maupun remaja yang akan melangsungkan adat pernikahan. Dalam kaitan ini, Islam hanya meletakkan konsep dan prinsip dasar mahar. Rasulullah Saw. pernah menasehatkan asas normatif mahar bahwa mahar yang baik adalah suatu pemberian yang sederhana, tulus dan tidak memberatkan. Karena mahar bukanlah sebuah rukun juga bukan sebuah syarat dalam perkawinan, melainkan ia adalah salah satu dampak yang diakibatkan oleh akad perkawinan. Oleh sebab itu, posisi mahar menjadi pembahasan penting dalam suatu pernikahan. Perlu pengkajian dari sisi psikologi dan agama, apakah mahar berkaitan dengan harga diri atau hanya sebatas budaya?, apakah mahar menjadi lambang kemampuan atau suatu penghargaan?, mungkin juga sebagai pembanding antara si kaya dan si miskin.
PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA PESERTA DIDIK BERBASIS PROBLEM BASED LEARNING DALAM MENINGKATKAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA KELAS V DI SD PAB 13 MEDAN HELVETIA Harahap, Syarifah Ainun; Hendra, Hendra; Harahap, Ayunda Zahroh
Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar (JIPDAS) Vol 6 No 1 (2026): Vol. 6 No. 1 Edisi Februari 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dan Bahasa Institut Pendidikan Tapanuli Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37081/jipdas.v6i1.4584

Abstract

Penelitian ini merupakan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk mengembangkan LKPD berbasis PBL untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis peserta didik pada mata pelajaran PBahasa Indonesia yang valid atau layak digunakan dan efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada model pengembangan Thiagarajan, yang terdiri dari tahapan 4D yaitu define,  design,  develop  dan  disseminate. LKPD berbasis PBL yang telah dikembangkan, divalidasi oleh tim validasi ahli dan praktisi. Uji coba LKPD dilakukan di V SD PAB 13 Medan Helvetia dengan jumlah peserta didik sebanyak 20 orang. Uji coba ini dilakukan  untuk  menguji  keefektifan  dengan  memberikan  angket  respon  peserta  didik dan test kemampuan berpikir kritis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) produk LKPD berbasis Problem Based Learning sudah memenuhi kelayakan dari semua aspek, meliputi aspek materi, bahasa, maupun desain pembelajaran dengan total skor rata-rata yang diperoleh sebesar 3,45 dan total nilai persentasenya sebesar 86,38 dengan kategori “sangat baik” sehingga dapat dinyatakan  LKPD sangat  valid dan layak digunakan. (2) produk LKPD berbasis Problem Based Learning yang telah dikembangkan sudah memenuhi kriteria efektif dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Hal tersebut dapat dilihat berdasarkan pada peningkatan hasil kemampuan berpikir kritis siswa memperoleh persentase ketuntasan belajar klasikal 85%. Hal tersebut menunjukkan bahwa secara klasikal, siswa telah tuntas belajar. Kemampuan berpikir kritis siswa mengalami peningkatan serta siswa juga memberikan  respon  yang  positif terhadap LKPD berbasis PBL yang digunakan.