Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Critical Period Hypothesis of Second Language Acquisition Theory of Eric Lenneberg's siahaan, friska
The Explora Vol. 10 No. 1 (2024): April 2024
Publisher : Pascasarjana Universitas HKBP Nommensen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51622/explora.v10i1.2471

Abstract

In second language acquisition, The Critical Period Hypothesis (CPH) holds that there is a critical time period for a person to learn a new language with native proficiency. This time usually begins around the age of two and ends just before puberty. According to the hypothesis, learning a new language after this critical period will be more difficult and unsuccessful. The crucial phase is the stage of a person's development when their nervous system is primed and sensitive to environmental stimuli, according to developmental psychology. If a person does not receive the appropriate environmental stimuli during this time, their capacity to learn new skills will deteriorate, compromising a variety of adult social functions. If a child does not learn a language during this vital era, they are unlikely to achieve native fluency in their first language. Because of the adaptability of the brain, a person is poised to learn new abilities throughout the critical period. Synapses, or brain connections, are extremely receptive to information. Some researchers refer to the'sensitive period' or 'weak critical period' as a synonym for the critical period. The sensitive phase is comparable to the critical period in that it is characterized by a high level of neuroplasticity and rapid formation of new synapses in the brain. The key distinction is that the sensitive phase is thought to endure longer than puberty, but there are no hard bounds. Keywords: Critical period hypothesis, Second Language acquisition
Peran Media Pembelajaran Digital Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Matematika Bangun Datar pada Siswa Sekolah Dasar Kelas V Sinaga, D Yuliana; Siallagan, Anisa; Siahaan, Friska; Nainggolan, Jogina; Manurung, Joy; Situmorang, Juni; Situmorang, Ratna; Silalahi, Vinnauli
Journal of Health Education Law Information and Humanities Vol 2, No 1 (2025): Februari 2025
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/helium.v2i1.4971

Abstract

Seiring dengan pesatnya kemajuan teknologi dan informasi, peran media pembelajaran menjadi semakin vital dalam mendukung proses belajar mengajar. Dengan memanfaatkan berbagai media yang tersedia, pendidik dapat menyampaikan materi dengan cara yang lebih efektif dan efisien. Terdapat beragam jenis media pembelajaran yang dapat dipilih, di mana pendidik perlu mempertimbangkan kesesuaian media tersebut dengan konteks sekolah atau kelas agar tujuan pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai.Keberadaan media pembelajaran di tengah era digital ini turut mempermudah pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, sekaligus memberikan kontribusi signifikan terhadap pengalaman belajar siswa. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis peran media pembelajaran digital dalam meningkatkan hasil belajar matematika, khususnya pada materi Bangun Datar untuk siswa kelas V Sekolah Dasar. Media pembelajaran digital diharapkan dapat memberikan visualisasi interaktif, meningkatkan keterlibatan siswa, serta mendukung berbagai gaya belajar, baik visual, auditori, maupun kinestetik. Namun, pembelajaran matematika di tingkat sekolah dasar masih menghadapi berbagai tantangan, seperti dominasi pendekatan konvensional dan rendahnya integrasi teknologi dalam proses belajar. Selain itu, penelitian ini juga mengeksplorasi faktor-faktor yang menghambat pemanfaatan media digital, seperti keterbatasan infrastruktur teknologi dan minimnya pelatihan bagi guru. Dengan menerapkan media pembelajaran digital, diharapkan penelitian ini dapat memberikan solusi yang efektif untuk memperdalam pemahaman siswa terhadap konsep-konsep abstrak, seperti Bangun Datar, serta meningkatkan hasil belajar mereka. Lebih jauh, hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan rekomendasi bagi sekolah dan pendidik dalam mengintegrasikan media pembelajaran digital secara optimal dalam proses pembelajaran.