Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

PERAN BCG SEBAGAI STANDAR EMAS PADA NON-MUSCLE INVASIVE BLADDER CANCER: TINJAUAN PUSTAKA BERBASIS BUKTI Goh, Daniel; Gracienne; Soni, Yulfitra; Firmansyah, Yohanes; Kartika, Ronald Winardi; Gosal, Darren
Prosiding Seminar Nasional COSMIC Kedokteran Vol 4 (2026): Edisi 2026
Publisher : Lembaga Penelitian Dan Pengabdian Kepada Masyarakat Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang: Kanker kandung kemih non-muscle invasive bladder cancer (NMIBC) tetap menjadi masalah kesehatan global dengan angka rekurensi dan progresi yang tinggi. Terapi intravesikal Bacillus Calmette–Guérin (BCG) telah lama menjadi standar emas, namun respons klinis yang bervariasi, toksisitas, dan kelangkaan BCG menimbulkan tantangan dalam praktik klinis. Tujuan: Tinjauan ini merangkum bukti ilmiah mengenai efektivitas, prediktor respons, toksisitas, alternatif terapi, dan pendekatan molekuler terkini pada penggunaan BCG intravesikal untuk NMIBC. Metode: Pencarian sistematis dilakukan pada PubMed menggunakan kombinasi kata kunci dan MeSH terkait “BCG therapy” dan “NMIBC”. Kriteria inklusi mencakup RCT, kohort, meta-analisis, dan guideline dalam 20 tahun terakhir. Total 1.284 artikel disaring melalui evaluasi judul, abstrak, dan full-text hingga diperoleh 54 studi yang memenuhi syarat. Hasil: BCG menurunkan rekurensi hingga 40–60% dan progresi 27–48%, terutama dengan maintenance ≥1 tahun. Variasi respons dipengaruhi biomarker inflamasi (NLR, SII, MPVL), ekspresi PD-L1, dan aktivasi trained immunity. Terapi alternatif seperti gemcitabine–docetaxel, pembrolizumab, nadofaragene firadenovec, oncolytic virus, dan device-assisted therapy menunjukkan hasil menjanjikan pada pasien BCG-unresponsive. Efek samping muncul pada >60% pasien, namun umumnya ringan–sedang. Kesimpulan: BCG tetap merupakan terapi utama dari NMIBC, namun personalisasi berbasis biomarker, optimalisasi regimen maintenance, dan integrasi imunoterapi baru diperlukan untuk meningkatkan outcome jangka panjang.