Ichrom, Muhamad
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Epistemologi Uṣūl al-Fiqh Ṭāhā Jābir al-Alwānī : Antara Ortodoksi dan Modernitas Ichrom, Muhamad
Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 5 No. 2 (2020): Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Universitas Nahdlatul Ulama Al Ghazali Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (397.474 KB) | DOI: 10.52802/wst.v5i2.22

Abstract

Dalam keadaan seperti itu tampil, asy-Syāfi’ī r.a (w. 204 H) sebagai murid langsung dari imam Malik r.a sekaligus murid Abu Hanifah r.a dari jalur imam Muhammad b Hasan al-Syaibani, asy-Syāfî’ī r.a ingin mengkonvergensikan pemikiran kedua aliran tersebut yang akhirnya dituangkan dalam sebuah buku medologi yang bersifat epistemik yang kemudian dinamakan ar-Risalah. Kitab ini dikatakan oleh sementara ahli sebagai kitab induk uṣūl al-fiqh yang pertama. Mengingat fungsinya teramat vital, sehingga ilmu ini dikatakan bagian ilmu terpenting bagi umat Islam. Selain itu ia merupakan produk khas yang dimiliki umat Islam yang tidak dimiliki oleh Barat maupun peradaban manapun di dunia ini. Menurut sebagian pendapat ilmu ini tersusun dari gabungan berbagai disiplin ilmu, yakni logika Aristoteles, kaidah bahasa Arab, teologi (ilmu kalam), ilmu fiqih dan ilmu al-Qur’an dan Sunnah. Bahkan menurut al-Ghazālī (w. 505 H), sebagaimana dikutip Akmal Bashori (2020: 162) ilmu uṣūl al-fiqh merupakan ilmu yang paling tinggi derajatnya, karena merupakan gabungan dari dua jenis ilmu yakni ilmu naql murni seperti al-Qur’an, ḥadīs dan ilmu akal murni seperti logika (mantiq). Namun benarkah al-Ghazālī menganggap bahwa epistemologi ilmu usûl al-fiqh adalah gabungan antara naql dan aql, masih merupakan pertanyaan yang perlu diteliti lebih lanjut. Mengapa? Karena epistemologi uṣūl al-fiqh berbeda dengan epistemologi hukum Islam.
HAK SIPIL AGAMA (HSA) DALAM PIAGAM MADINAH Ichrom, Muhamad
Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman Vol 4, No 2 (2020): Mumtaz: Jurnal Studi Al-Quran dan Keislaman
Publisher : Institut PTIQ Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36671/mumtaz.v4i02.138

Abstract

In this article discusses the Civil Rights of Religion (HSA). This right includes freedom to establish religion and beliefs of one's own choice, and freedom, both individually and jointly with others, both public and private, to practice their religion and beliefs in worship, observance, practice, and teaching ". It must be realized that in Islam such a thing is not absent. The Medina Charter is a strong proof of religious freedom in Islamic literature. From a comprehensive study of the Medina Charter as the constitution of the Medina state under the leadership of the Prophet Muhammad with the Hermeneutical approach found several values or principles related to religious civil rights. There are also principles that include the principles of justice, equality, freedom, and protection of minorities. These principles are the result of a dialectic between the concept of religious civil rights and the Medina Charter, one of which also includes religious freedom. There the authors find many similarities between the two. This equation can at least be seen from several things: First, that religious civil rights are rights relating to the fulfillment of rights by the state to its people relating to guarantees of freedom of religion and belief, then the Medina Charter is also a guarantee of the fulfillment of rights by the Prophet as the leader of Medina against the wrong citizens one also contains about religious freedom.
Peningkatan literasi hukum perkawinan untuk mencegah perkawinan anak Ichrom, Muhamad; Rofiq, M. Khoirur; Muafiq, Muhammad Sholihul
Jurnal Inovasi Hasil Pengabdian Masyarakat (JIPEMAS) Vol 6 No 2 (2023)
Publisher : University of Islam Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33474/jipemas.v6i2.19062

Abstract

Jumlah perkawinan anak terus meningkat di Kota Semarang dan sebagian besar dilakukan oleh anak dengan latar belakang pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), salah satunya adalah SMK Ma’arif NU 1 Kota Semarang. Karena itu pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan literasi tentang problematika perkawinan anak sehingga meningkatkan kesadaran siswa untuk mencegah perkawinan. Adapun metode dalam pengabdian ini menggunakan pendekatan Participatory Action Research (PAR) dengan dua tahapan: Pertama, persiapan kegiatan melalui koordinasi, pemetaan masalah pada objek pengabdian, dan pratest. Kedua, pelaksanaan kegiatan: 1) sosialisasi hukum perkawinan anak, 2) diskusi pemetaan problematika perkawinan anak, 3) focus Group Discussion (FGD) dalam merumuskan solusi atas problematika kehidupan remaja dan perkawinan anak, 4) posttest, dan 5) evaluasi kegiatan. Hasil kegiatan ini mampu meningkatkan pengetahuan peserta tentang problematika perkawinan anak di lingkungan SMK dan merumuskan solusinya, sehingga diharapkan dapat mencegah perkawinan anak di SMK Ma’arif NU 1 Semarang. Rekomendasi dari kegiatan ini adalah, 1) optimalisasi peran stakeholder SMK Maarif NU 1 Kota Semarang dalam mencegah perkawinan anak melalui pendampingan oleh guru kelas, pengawasan pergaulan siswa koordinasi dengan wali murid dengan buku kegiatan siswa, 2) meningkatkan kolaborasi penyuluhan hukum antara Perguruan Tinggi, Dinas Kesehatan, dan sekolah, 3) perlu adanya pusat-pusat studi pembelajaran keluarga yang dapat mendampingi masyarakat.