Chotib
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PESANTREN: SEBUAH CAGAR TRADISI ISLAM INDONESIA Chotib
Al'Adalah Vol. 9 No. 2 (2006)
Publisher : LP2M IAIN Jember (now UIN Kiai Haji Achmad Siddiq Jember)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pesantren sebagai lembaga pendidikan keagamaan merupakan realitas yang tak dapat dipungkiri. Sepanjang sejarah yang dilaluinya, pesantren terus menekuni pendidikan tersebut dan menjadikannya sebagai fokus kegiatan. Dalam mengembangkan pendidikan, pesantren telah menunjukkan daya tahan yang cukup kokoh sehingga mampu melewati berbagai jaman dengan beragam masalah yang dihadapinya. Dalam sejarahnya itu pula, pesantren telah menyumbangkan sesuatu yang tidak kecil bagi Islam di negeri ini. Sungguhpun demikian, pesantren tak dapat berbangga hati dan puas dengan sekedar mampu bertahan terhadap sumbangan yang diberikan di masa lalu. Signifikansi pesantren bukan hanya terletak pada dua hal tersebut, tetapi pada kontribusinya yang nyata bagi umat Islam, secara khusus dan masyarakat secara umum di masa kini dan mendatang. Justru kalau kita mau jujur, ketahanan pesantren ternyata menyimpan berbagai persoalan yang cukup serius. Sebab dalam realitasnya daya tahan tersebut, pada satu sisi telah membuat terjadinya pengentalan romantisme konservatif, dan pada sisi lain, hal itu telah menyeret pesantren kedalam perubahan yang sekadar "latah" dan tanpa antisipatif.
PEMANFAATAN LAHAN TIDUR SEBAGAI LOKASI PERTANIAN PERKOTAAN DI JAKARTA SELATAN Eurika Putri Andita; Renny Nurhasana; Chotib; Riska Rahma Arriani; Rizqita Oktorini; Safira Salsabila; Teungku Darwis; Dhaneswara N. Indrajoga; Dyah N. Ratnasari
Media Bina Ilmiah Vol. 18 No. 8: Maret 2024
Publisher : LPSDI Bina Patria

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33758/mbi.v18i8.732

Abstract

Latar belakang: Kota Jakarta memiliki tantangan berupa keterbatasan lahan dengan jumlah penduduk yang terus meningkat. Jakarta Selatan yang dahulu dikenal sebagai daerah resapan saat ini masih belum memilki jumlah ruang terbuka hijau yang memadai. Hal ini dapat mengancam ketahanan pangan sehingga dibutuhkan adanya inovasi berupa pertanian perkotaan dengan memanfaatkan lahan yang ada. TujuannArtikel ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pengetahuan masyarakat, mengenai pertanian perkotaan. Kegiatan dilakukan melalui program pengabdian dan pemberdayaan masyarakat yang dimulai dengan pendampingan dan pelatihan penanaman hingga seminar edukasi mengenai manfaat, jenis tanaman pertanian perkotaan hingga komposting. Metode pelaksanaan kegiatan adalah dengan pendampingan dan bimbingan kepada masyarakat khususnya ibu-ibu di Sekolah Perempuan TPA Ikhlasul Makhfudz, Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Dari kegiatan pengabdian dan pemberdayaan masyarakat ini dapat dilihat bahwa kegiatan ini bermanfaat bagi kehidupan sehari-hari yaitu penambahan asupan nutrisi, keguyuban hingga sarana relaksasi hingga peningkatan fungsi lahan tidur pada TPA Ikhlasul Makhfudz. Peserta memahami berbagai jenis pertanian perkotaan, mengetahui pemilihan jenis tanaman yang cocok dan mudah untuk dikembangkan, hingga mengetahui cara pembuatan kompos alami yang dapat dijadikan bahan penyubur tanaman pangan di pertanian kota
Adaptation of Betawi Traditional Music Performers to Preserve Their Existence in a New Normal Era Wardhana, Iwan Henry; Permana, Cecep Eka; Puspitasari, Maria; Chotib
Humaniora: Journal of Indonesia Culture and Society Vol. 13 No. 3 (2022): Humaniora
Publisher : Bina Nusantara University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21512/humaniora.v13i3.7966

Abstract

The research explored an adaptation to survive in the new normal era in the Jakarta art performers in general and the Betawi traditional music performers in particular. The implementation of social restrictions and regional quarantines in Jakarta had prevented many sectors from making economic activities, including Betawi traditional music performers. The research examined how the Betawi traditional music performers in the Betawi Cultural Village of Setu Babakan adapted to health protocols on stage performance and internet knowledge on virtual performances in the new normal era. Data are taken from in-depth interviews and classified to determine the adaptation ability carried out by Betawi traditional music performers. The Betawi traditional music performance studios were Sanggar Arrominia, Sanggar Gambang Kromong Setia Muda, and Sanggar At-Taubah with certain types of traditional music, such as Gambus, Samrah, Qasidah, Hadrah, and Gambang Kromong. It is found that during the social restriction and regional quarantine in Jakarta, the studios experience a decrease in their request to perform. They need to survive by adapting to the new normal era through the application of the health protocols on stage performance and exploring their knowledge on the internet to conduct the virtual performance. The health protocol limits the flexibility in performing traditional music through mask and face-shield wearing. The average knowledge of the internet and having limited internet devices are some other situations to be adapted by traditional music performers. The adaptation needs to be carried out sometime in the future, and this pandemic only accelerates the need.