Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Penataan Ruang pada Masyarakat Baduy R. Cecep Eka Permana
Antropologi Indonesia No 53 (1997): Jurnal Antropologi Indonesia
Publisher : Department of Anthropology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This article describes the spaces order among the Baduy people of Southwest Java. The Baduys, who deliberately isolating themselves from influence of modernization, divides their settlement into Inner Baduy and Outer Baduy. The Inner Baduy is perceived more sacred as the ancestor spirits (karuhun) live in this area. Their stilt-house is built with north-south direction. North direction was regarded as the entrance to their settlement, while south direction perceived as sacred place. This space order is applied to all activities such a ritual, rice planting, funeral, etc.
GAMBAR CADAS KAIMANA (PAPUA BARAT) DAN KAITANNYA DENGAN AUSTRONESIAN PAINTED TRADITION (APT) R. Cecep Eka Permana
Prosiding Balai Arkeologi Jawa Barat 2020: PROSIDING SEMINAR ARKEOLOGI 2019
Publisher : Balai Arkeologi Jawa Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24164/prosiding.v3i1.4

Abstract

Artikel ini membahas tentang gambar cadas yang terdapat di Kampung Maimai dan sekitarnya di Kabupaten Kaimana, Papua Barat. Motif-motif gambar cadas di wilayah ini mengikuti konsep dari Ballard dan O’Connor berkaitan dengan Penutur Austronesia yang dikenal dengan Austronesian Painted Tradition (APT). Pengumpulan data gambar cadas dilakukan melalui survei di lapangan, sedangkan analisis data dilakukan dengan pendekatan deskriptif-kualitatif. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa terdapat beberapa indikasi kebudayaan dari Penutur Austronesia pada gambar cadas yang terdapat di Kaimana. Indikasi tersebut antara lain ditunjukkan oleh lokasi yang berada di wilayah persebaran Penutur Austronesia, keletakkan gambar cadas pada lokasi yang sulit dijangkau, serta penggambaran motif khas seperti cap telapak tangan, antropomorfik, wajah atau topeng, matahari, dan perahu.
Looking For a Trace of Shamanism, in the Rock Art of Maros-Pangkep, South Sulawesi, Indonesia Irsyad Leihitu; Raden Cecep Eka Permana
Kapata Arkeologi Vol. 14 Iss. 1, July 2018
Publisher : Balai Arkeologi Maluku

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24832/kapata.v14i1.496

Abstract

Gambar cadas adalah fenomena arkeologi yang tersebar di seluruh dunia. Umumnya, seni prasejarah ini terdiri atas berbagai bentuk, motif, dan juga makna. Artikel ini membahas gambar cadas Indonesia, khususnya di wilayah Maros-Pangkep, Sulawesi Selatan. Menurut teori David Lewis-Williams dan David S. Whitley tentang pendekatan neuropsikologi terhadap gambar cadas, mereka mendeskripsikan "beberapa" motif sebagai penggambaran tahapan atau metafora dari Altered State of Consciousness (ASC) yang berhubungan dengan shamanisme. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana teori ASC dapat diuji dalam gambar cadas Maros-Pangkep, dan juga menunjukkan indikasi keberadaan shamanisme dalam gambar cadas Indonesia. Metode penelitian ini menggunakan analogi formal dan studi komparatif tentang motif-motif gambar cadas terpilih di kawasan Maros-Pangkep dengan gambar cadas di Afrika, Siberia, dan juga gambar cadas di Amerika. Hasilnya menunjukkan bahwa teori ASC dapat diterapkan dalam gambar cadas Indonesia dan ada beberapa indikasi shamanisme dalam gambar cadas di wilayah Maros-Pangkep.Rock art is an archaeological phenomenon which spread all over the world. Generally, this prehistoric art consists of various forms, motifs, and also meanings. This article discusses Indonesian rock art, particularly the Maros-Pangkep region in South Sulawesi. According to David Lewis-Williams and David S. Whitley’s theory about the neuropsychology approach to rock art, they describe “some” motifs as a depiction of stages or metaphors of the Altered State of Consciousness (ASC) that relates to shamanism. The aim of this study is to demonstrate how the ASC theory can be tested in Maros-Pangkep Rock Art, and also shows an indication of the existence of shamanism in Indonesian rock art. The research methods are formal analogy and comparative studies on the selected motifs of rock art in the Maros-Pangkep region with African, Siberian, and also American rock art. The result shows that the ASC theory can be applied in Indonesian rock art and there are some indications of shamanism in rock art motifs in the Maros-Pangkep region.
Lukisan Dinding Gua (Rock Art): Keterancaman dan Upaya Konservasinya R. Cecep Eka Permana
Borobudur Vol. 9 No. 2 (2015): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v9i2.140

Abstract

Lukisan dinding gua merupakan salah satu data arkeologi yang sampai sekarang dapat dijumpai pada sejumlah situs gua prasejarah di dunia, termasuk Indonesia.Tinggalan berupa lukisan dinding gua antara lain sebagai bukti aktivitas manusia berkaitan dengan kehidupan religi dan kesenian yang berasal dari puluhan ribu tahun yang lalu. Lukisan dinding gua prasejarah tersebut menjadi penting karena juga merupakan sumber daya tak tergantikan. Karena dari rentang waktu yang sangat lama dan umumnya berada pada tempat-tempat terbuka di alam, maka lukisan dinding gua sangat terancam dan memerlukan konservasi. Keterancaman lukisan dinding gua dapat berasal dari alam dan dapat pula dari manusia. Adapun upaya konservasi dilakukan baik terhadap lukisan itu sendiri maupun media atau lingkungan tempat lukisan itu berada.
Identifikasi Penyebab Kerusakan Biologis Gambar Cadas Gua Prasejarah Maros, Sulawesi Selatan Moh Habibi; Ariyanti Oetari; R. Cecep Eka Permana
Borobudur Vol. 14 No. 1 (2020): Jurnal Konservasi Cagar Budaya Borobudur
Publisher : Balai Konservasi Borobudur Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33374/jurnalkonservasicagarbudaya.v14i1.229

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi mikroorganisme (kapang dan bakteri) yang terdapat pada gambar cadas dan berpotensi sebagai biodeteriogen gambar cadas. Metode penelitian meliputi pengambilan sampel dan identifikasi molekuler. Identifikasi molekuler mengunakan primer 9F (5’-GAG TTT GAT CIT IGC TCAG-3’) dan 1510R (5’-GGT TAC CTT GTT ACG ACTT-3’) untuk bakteri, ITS1F (5’-CTT GGT CAT TTA GAG GAA GTAA-3’) dan ITS4R (5’-TCC TCC GCT TAT TGA TAT GC-3’) untuk kapang. Siklus PCR yang digunakan pada penelitian ini sebanyak 35 siklus, meliputi Denaturasi (95oC selama 15 detik), annealing, dan elongation (72oC selama 10 detik). Berdasarkan hasil identifikasi molekuler di peroleh tiga belas jenis mikroorganisme yang terdiri dari empat jenis Bakteri dan sembilan jenis Kapang.
Tradisi Gambar Tangan Gua Prasejarah R Cecep Eka Permana
Jurnal Seni Nasional Cikini Vol 7 No 2 (2021): Jurnal Seni Nasional Cikini Vol. 7 No. 2
Publisher : Riset, inovasi dan PKM - Institut Kesenian Jakarta, DKI Jakarta.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52969/jsnc.v7i2.139

Abstract

Artikel ini mendeskripsikan bahwa tangan merupakan bagian penting dari organ tubuh manusia dan memiliki fungsi vital dalam aktivitas sehari-hari khususnya pada awal kebudayaan manusia pada masa prasejarah. Selain memegang peran utama dalam membuat alat-alat batu dan/atau tulang untuk berburu, tangan juga sering ditemukan sebagai objek gambar pada dinding-dinding gua prasejarah tempat hunian mereka saat itu. Tradisi gambar tangan pada gua prasejarah ini bersifat universal, karena terdapat hampir di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Bahkan, penelitian termutakhir menunjukkan bahwa gambar tangan prasejarah Indonesia tertua di dunia. Pendeskripsikan gambar tangan prasejarah ini bersumber dari penelitian lapangan dan studi pustaka. Analisis data menggunakan pendekatan kualitatif untuk memaparkan bentuk dan teknik pembuatan gambar tangan. Sementara itu, untuk menjelaskan fungsi dan makna gambar tangan digunakan analogi etnografi. Kesimpulan dari kajian ini adalah ambar-gambar tangan pada gua prasejarah dapat dipandang sebagai tinggalan ekspresi manusia prasejarah. Tradisi pembuatan gambar tangan secara umum berkaitan dengan aspek religi sebagai tanda kekuatan keberhasilan, kepemilikan, dan penolak mara bahaya.
Jamur Paecilomyces dari Leang Pettae di kawasan karst Maros dan saran pelestarian gambar cadasnya Raden Cecep Eka Permana; Mohammad Habibi; Edy Gunawan
Berkala Arkeologi Vol 41 No 1 (2021)
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (902.585 KB) | DOI: 10.30883/jba.v41i1.602

Abstract

This paper examines microorganisms causing damage to rock arts in Leang Pettae, Maros Karst Area, South Sulawesi. The damage is indicated by a layer of white sediment on the cave walls and rock arts. This research aims to identify the microorganisms that cause the damage and to determine the preservation strategy for the rock arts. Microorganism samples were taken from the area around the damaged hand stencils and figurative paintings of babirusa (Babyrousa). The samples were cultured on PDA (Potatoes Dextrose Agar) medium at the Biology Laboratory of the Agency for Borobudur Conservation. The analysis identifies fungus from the genus Paecilomyces, which thrives in humid and wet conditions, and produces protease enzymes that affect the organic elements of the rock arts. To preserve the rock arts in Leang Pettae, it is suggested to control temperature and humidity, prevent air pollution, and limit human activities inside the cave.
Tata Ruang Masyarakat Pendukung Tradisi Megalitik: Kasus Masyarakat Baduy Raden Cecep Eka Permana
Berkala Arkeologi Vol 15 No 3 (1995): Edisi Khusus
Publisher : Balai Arkeologi Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (378.21 KB) | DOI: 10.30883/jba.v15i3.675

Abstract

The nature of archaeological data which is limited in quality and quantity has spurred us to strive to obtain, record and interpret these data. The farther the time span is from now, the more limited the data that reaches us. Data about prehistoric culture, for example, has very limited material, let alone interpret it. One of the efforts that can be done is to make an analogy to today's society that still carries out these prehistoric cultural traditions. This effort is often called an ethnographic or ethnoarcheological analogy. By looking at the practices that apply to the community, it is hoped that it can explain the meaning, function, and so on of the archaeological objects of the supporting community.
Kajian Arkeologi Mengenai Keraton Surosowan Banten Lama, Banten Permana, R. Cecep Eka
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 8, No. 3
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research intrinsically is about activity of field and non-field archaeology. Focus of this research is to know form, settlement, and room function and/or building specially undercarriage building structure which still can be seen in Surosowan keraton. Methods used for the research are excavation, bibliography study, artifact and feature analysis, special analysis, and reconstruction. The result may indicate that, according to ancient map analysis, Surosowan keraton at least have experienced of five development phase. Excavation can only show the existence of is biphase of development pursuant to building structure indication which is overlap. According to tiling remains in every room, this research can reconstruct measure and pattern of tiling installation at every room in complex of keraton. The Research also obtain data to reconstruct building wall brick couple pattern and foundation at building in complex of keraton. Meanwhile, according to field observation is also obtained an assumption for some building function which have been shown, like sultan’s residence, audience hall, garden pool of Roro Denok, and bath of Pancuran Mas.
Kearifan Lokal tentang Mitigasi Bencana pada Masyarakat Baduy Permana, Raden Cecep Eka; Nasution, Isman Pratama; Gunawijaya, Jajang
Makara Human Behavior Studies in Asia Vol. 15, No. 1
Publisher : UI Scholars Hub

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study examines the indigenous Baduy society in preventing disaster. This study used a qualitative approach. Data collected by observation and depth interview methods, and analysis conducted by descriptive-analytical. This study aims to gain knowledge and traditional ways of Baduy society that has passed down from generation to generation. The results showed that (a) cut-and-burn systems in Baduy forests to open field for dry rice cultivation (huma) did not cause forest fires, (b) Baduy settlements adjacent to the river is not flooding, (c) houses and buildings made of materials combustible (wood, bamboo, thatch, and palm fiber) infrequent fires, and (d) Baduy territory included in the earthquake-prone areas of West Java, there is no damage to buildings due to the earthquake disaster. This is because the pikukuh (customary rules) that serve as guidelines and direction for Baduy think and act. Pikukuh are the basis of traditional knowledge that wise and prudent, so avoid the disaster.