Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

PEMANFAATAN DAUN LINDUR (B. gymnorrhiza) SEBAGAI SEDIAAN GARAM FUNGSIONAL Adlina Ardhanawinata; Irman Irawan; Seftylia Diachanty
Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT) Vol 3, No 2 (2020): JKPT Desember 2020
Publisher : Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jkpt.v3i2.9387

Abstract

Bruguiera gymnorrhiza menghasilkan berbagai senyawa bioaktif yang dapat dimanfaatkan dalam bidang pangan dan non pangan. Pemanfaatan daun B.gymnorrhiza sebagai bahan baku pembuatan garam fungsional rendah natrium menjadi solusi alternatif untuk garam diet dalam mengurangi kasus hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan rasio pelarut dan tepung yang optimum pada pembuatan garam daun B. gymnorrhiza berdasarkan rasio Na:K dan %NaCl, kadar air, kadar abu dan mineral pada garam B. gymnorrhiza dari berbagai perbandingan rasio pelarut akuades dan tepung daun B. gymnorrhiza. Pembuatan garam dilakukan dengan perlakuan rasio tepung daun mangrove dengan akuades 1:5, 1:10, dan 1:15 (b/v), diekstrak pada suhu 40oC selama 10 menit dan dioven pada suhu 65oC selama 120 jam atau hingga filtrat kering dengan ulangan sebanyak 3 kali. Analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah: rendemen, kadar air, kadar abu, kadar mineral, kandungan mineral, dan kadar NaCl. Hasil penelitian menunjukkan perlakuan rasio tepung daun mangrove dan akuades tidak memberikan pengaruh secara signifikan pada taraf (p<0,05) terhadap uji kadar air, kadar abu dan uji mineral (Ca, Mg, dan Fe), namun berpengaruh secara signifikan pada rendemen,uji mineral (Na dan K), rasio Na:K, dan kadar NaCl. Perlakuan P1 merupakan perlakuan optimum untuk mendapatkan kadar NaCl 12.76 ± 0.68 %, sedangkan P2 merupakan perlakuan yang optimum untuk mendapatkan rasio Na:K 1.66 ± 7.84 mg/g. Kadar air garam daun mangrove berkisar 6.13-7.17 % dan kadar abu 31.14-31.77 %.  Kandungan mineral pada garam daun mangrove meliputi Na, Ca, K, Mg, dan Fe dengan konsentrasi yang berbeda.
Penerapan SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) pada Proses Pembuatan Amplang di BDS Snack, Balikpapan, Kalimantan Timur Adlina Ardhanawinata; Irman Irawan; Henny Pagoray; Fitriyana; Bagus Fajar Pamungkas; Ita Zuraida
Media Teknologi Hasil Perikanan Vol. 11 No. 1 (2023)
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/mthp.11.1.2023.44657

Abstract

SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) is an important step that plays a role in maintaining the quality of a food product and meeting food safety guarantees according to standards. There are 8 key aspects of SSOP that must be met by a food business entity to produce good quality and product quality. The purpose of this field is to obtain information related to the application of SSOP in the production of amplang at BDS Snack located in Jl. Rekreasi lama RT.13 Manggar, Bangsal pengolahan perikanan dan hasil Laut Balikpapan. The working method used in this field review is a qualitative descriptive method with primary data collection obtained through observation, interviews, active participation and documentation. Amplang production process includes the preparation of raw materials, weighing, milling, mixing materials, printing, frying, draining, sorting, packaging and distribution. The results of the field review show that the implementation of 8 key aspects of SSOP in BDS Snack has been implemented well. Keywords:      Amplang, Application of SSOP, Fisheries product.   SSOP (Sanitation Standard Operating Procedure) merupakan langkah penting yang memegang peran dalam menjaga kualitas suatu produk makanan serta memenuhi jaminan keamanan pangan sesuai standar. Terdapat 8 aspek kunci SSOP yang harus dipenuhi oleh suatu badan usaha makanan untuk menghasilkan kualitas dan mutu produk yang baik. Tujuan dari tinjauan lapangan ini yaitu untuk memperoleh informasi terkait penerapan SSOP pada produksi amplang pada UMKM BDS Snack yang berlokasi di Jl. Rekreasi lama RT.13 Manggar, Bangsal pengolahan perikanan dan hasil Laut Balikpapan. Metode kerja yang digunakan dalam tinjauan lapangan ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pengambilan data primer yang diperoleh melalui observasi, wawancara, partisipasi aktif dan dokumentasi. Proses produksi amplang meliputi proses persiapan bahan baku, penimbangan, penggilingan, pencampuran bahan, pencetakan, penggorengan, penirisan, penyortiran, pengemasan dan distribusi. Hasil tinjauan lapangan diketahui bahwa penerapan 8 aspek kunci SSOP di BDS Snack sudah terlaksana dengan baik. Kata kunci:    Amplang, Penerapan SSOP, Produk Perikanan.
Karakteristik fisikokimia dan mutu hedonik es krim dengan penambahan bubur rumput laut: Physicochemical characteristics and hedonic quality of ice cream with the addition of Kappaphycus alvarezii Irawan, Irman; Ardhanawinata, Adlina; Khasanah, Uswatun; Diachanty, Seftylia; Zuraida, Ita
Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Vol. 27 No. 2 (2024): Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia 27(2)
Publisher : Department of Aquatic Product Technology IPB University in collaboration with Masyarakat Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia (MPHPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17844/jphpi.v27i2.48012

Abstract

Kappaphycus alvarezii telah banyak digunakan dalam berbagai olahan makanan, salah satunya es krim. Aplikasi K. alvarezii pada es krim biasanya dalam bentuk karagenan dan tepung yang berfungsi sebagai pengemulsi dan penstabil. Tujuan penelitian adalah untuk menentukan karakteristik fisikokimia dan tingkat penerimaan konsumen es krim dengan formulasi penambahan bubur K. alvarezii konsentrasi berbeda. Pembuatan es krim dilakukan dengan penambahan bubur K. alvarezii konsentrasi 0; 3,69; 7,09; 10,27; 13,25; dan 16,03%. Parameter yang diamati meliputi overrun, melting rate, viskositas, total solid, pH, dan hedonik. Uji hedonik dilakukan pada atribut ketampakan, aroma, rasa, dan tekstur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan bubur K. alvarezii dengan konsentrasi berbeda pada es krim memberikan pengaruh nyata (p<0,05) pada parameter overrun, melting rate, viskositas, total solid, dan uji hedonik, namun tidak berbeda nyata pada nilai pH. Karakteristik es krim menunjukkan nilai overrun 45,98–80,89%; melting rate 5,21-8,55 menit; viskositas 42,55-79,00 dpa’s; total solid 46,90-53,53%; dan pH 5,74-5,88. Hasil uji hedonik es krim menunjukkan ketampakan dengan nilai 6,68 (agak suka)-7,55 (sangat suka); aroma 5,90 (agak suka)-7,43 (suka); rasa 6,30 (agak suka)-7,75 (sangat suka); dan tekstur 5,83 (agak suka)-7,68 (sangat suka).
STUDI STABILITAS DAN TEKSTUR MINUMAN JELI NIRA AREN (Arenga pinnata Merr) DENGAN VARIASI KONSENTRASI RUMPUT LAUT (Kappaphycus alvarezii) Ardhanawinata, Adlina; Irawan, Irman
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 21, No 4 (2025): SAINTEK PERIKANAN
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.21.4.254-261

Abstract

Minuman jeli merupakan produk pangan semi-padat yang digemari berbagai kalangan karena teksturnya yang kenyal dan rasanya yang menyegarkan. Namun minuman jeli yang beredar di pasaran umumnya diformulasi menggunakan karagenan sebagai agen pembentuk gel, serta mengandung pemanis, pewarna, dan perisa sintetis. Produk tersebut cenderung memiliki nilai gizi yang rendah, oleh karena itu diperlukan inovasi untuk meningkatkan kualitasnya dengan memanfaatkan Kappaphycus alvarezii sebagai sumber serat dan nira aren sebagai pemanis alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penambahan K. alvarezii terhadap sifat fisikokimia pada minuman jeli nira aren. Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yaitu, P1 (2%), P2 (4%) dan P3 (6%) dan P4 (8%) dengan tiga kali ulangan. Data dianalisis dengan analisis sidik ragam dengan uji lanjut BNT pada taraf kepercayaan 95%.  Analisis yang dilakukan pada penelitian ini adalah kadar gula sukrosa, pH, serat kasar, viskositas, warna, dan total padatan terlarut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan K. alvarezii dengan konsentrasi berbeda pada minuman jeli nira aren memberikan pengaruh secara signifikan pada taraf (p<0,05) terhadap parameter kadar gula sukrosa (2,32-5,51%), pH (7,78-7,98), kadar serat kasar (0,34-0,84%), viskositas (82,00-498,51 cP), derajat putih (19,93-21,84%) dan total padatan terlarut (16,10-19,78 oBrix).
THE EFFECT OF TAPIOCA FLOUR AND MOCAF ADDITION ON THE CHEMICAL CHARACTERISTIC OF SEAWEED CRACKERS Ramadhini, Tri Karimah; Ardhanawinata, Adlina; Diachanty , Seftylia; Irawan, Irman
Jurnal Perikanan Unram Vol 15 No 6 (2025): JURNAL PERIKANAN
Publisher : Universitas Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jp.v15i6.1985

Abstract

This study evaluated the effect of substituting tapioca flour and Modified Cassava Flour (MOCAF) on the chemical characteristics of crackers formulated with Kappaphycus alvarezii seaweed. Four treatments were prepared with varying proportions of seaweed, tapioca flour, and MOCAF. Chemical analyses included measurements of moisture, ash, protein, fat, carbohydrate and crude fiber content. Results showed that increasing the proportion of seaweed consistently elevated moisture content (5.32-9.23%), ash content (0.98-2.02%), protein content (2.47-4.04%), fat content (0.29-0.52%), carbohydrate content (84.19-90.95%) and crude fiber (1.57-4.04%) levels in the raw crackers. The highest values across all parameters were observed in treatment KR4 (32% seaweed), whereas the lowest values were recorded in treatment KR1 (without seaweed addition). Moisture, ash, and fat content in all treatments complied with the Indonesian National Standard (SNI) for raw crackers. The enhancement in chemical characteristics were primarily attributed to the naturally high levels of fiber, hydrocolloids, minerals, and protein present in Kappaphycus alvarezii seaweed. These findings demonstrate that partial substitution of tapioca and MOCAF flours with seaweed enhances the nutritional profile of crackers, thus potentially yielding products with greater functional value.