Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

ASKETISME RELIGI MELALUI PERTENTANGAN TOKOH AJO SIDI DAN HAJI SALEH DALAM CERPEN “ROBOHNYA SURAU KAMI” KARYA AA. NAVIS Mumtaz, Tsabitah Zain; Rohman, Muh. Fatoni; Vidiyanti, Made Oktavia
Widyaparwa Vol 52, No 2 (2024)
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/wdprw.v52i2.1895

Abstract

The intensity of worship of Islamic communities in Indonesia is a normal everyday sight. However, some ignore the realities of social life by focusing on their respective deeds of worship. AA writers tried to frame this phenomenon. Navis in a short story entitled Robohnya Surau Kami. The general description of this short story is religiosity with a strong Islamic culture set in Minangkabau. The religious frame that surrounds the short story is contrary to the message the poet wants to convey. To find contradictory meanings, the author analyzes the short story using a qualitative descriptive method with a deconstruction theory approach from Jacques Derrida. The analysis steps are carried out through four stages which include, determining the center and concept of the text (undecidable), dismantling the ideology of the text in binary logic, reversing the metaphysical hierarchy, and neutralizing it by disseminating or spreading meaning. The results obtained from this analysis are that the short story Robohnya Surau Kami contains criticism of religious practices in Indonesia. This criticism regarding religion is an excuse not to work and try in the world. Unlike the title and the atmosphere that is created, it is the misfortune of someone who is devout in worship.Intensitas peribadatan masyarakat Islam di Indonesia menjadi pemandangan wajar sehari-hari. Namun, beberapa mengesampingkan realita kehidupan bermasyarakat dengan memfokuskan diri pada amal ibadah masing-masing. Fenomena ini mencoba dibingkai oleh sastrawan AA. Navis dalam sebuah cerpen berjudul Robohnya Surau Kami. Gambaran umum cerpen ini adalah religiusitas dengan budaya keIslaman yang kental dengan latar tempat Minangkabau. Bingkai religi yang membungkus cerpen bertolak belakang dengan pesan yang ingin disampaikan pengarang. Untuk menemukan makna-makna yang bertolak belakang, penulis menganalisis cerpen menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan teori dekonstruksi dari Jacques Derrida. Langkah-langkah analisis dilakukan melalui empat tahap yang meliputi, penentuan pusat dan konsep teks (undecidable), pembongkaran ideologi teks dalam logika biner, pembalikan hierarki metafisik, dan penetralisiran dengan diseminasi atau penyebaran makna. Hasil yang didapatkan dari analisis tersebut adalah cerpen Robohnya Surau Kami mengandung kritik terhadap pelaksanaan keagamaan di Indonesia . Kritik tersebut mengenai agama menjadi alasan untuk tidak bekerja dan berusaha di dunia. Tidak seperti judul dan suasana yang dibangun yaitu kemalangan seseorang yang taat beribadah.
Konstruksi religiositas tubuh dalam puisi Indonesia Tjahjono, Tengsoe; Vidiyanti, Made Oktavia
Bahasa dan Seni: Jurnal Bahasa, Sastra, Seni, dan Pengajarannya Vol. 49, No. 1
Publisher : citeus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The body is an integral part of being human. It is physical as well as spiritual, not only natural but also supernatural. In this regards, proper treatment of the body may indicate the level of one’s religiosity. The purpose of this study was to find the religiosity of the human body in poems written by Indonesian poets. Adopting Küçükcan’s (2005) religiosity dimension framework, we examine the body's religiosity from the following dimensions: belief, practice, and spirituality. Our data were a collection of language units in lines and stanzas taken from poems written by Mashuri and Alek Subairi. They were analyzed using hermeneutic approach. The results show that within the dimension of belief reflected in the poems, the body is considered mortal and religious. Within the practical dimension, the body is used to fulfill economic necessity. It is also used as a means to meet God. Within the dimension of spirituality, the body channels God’s presence in various forms: love, caringness, and warmth. We conclude that these three religiosity dimensions support and complement each other. Tubuh merupakan bagian penting dalam diri manusia. Tubuh bukan hanya fisik tetapi rohani; tubuh bukan hanya kodrati, tetapi juga adikodrati. Perlakuan terhadap tubuh secara benar menunjukkan kadar religiositas seseorang. Tujuan penelitian ini adalah untuk menemukan religiositas tubuh pada puisi-puisi karya penyair Indonesia. Religiositas tubuh dikaji dari segi dimensi keyakinan, praktik, dan spiritualitas dengan memakai teori dimensi religiositas yang dikembangkan oleh Küçükcan (2005). Penelitian ini menggunakan data yang berupa satuan bahasa dalam larik dan bait yang terdapat pada puisi Mashuri dan Alek Subairi. Data lalu dianalisis secara hermeneutik. Hasilnya menunjukkan bahwa dalam dimensi keyakinan yang terdapat dalam puisi, tubuh dipandang fana dan religius. Dalam dimensi praktik, tubuh dipakai untuk memenuhi kebutuhan ekonomi dan juga sebagai sarana pertemuan dengan Tuhan. Dalam dimensi spiritualitas, tubuh menjadi sarana kehadiran Tuhan dalam aneka rupa: cinta, kepedulian, dan kehangatan. Ketiga dimensi tersebut saling mendukung dan saling mengisi.