Padi (Oryza sativa L.) merupakan komoditas pangan utama di Indonesia. Laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,19% per tahun meningkatkan kebutuhan beras, sementara produksinya sering terganggu oleh serangan hama, seperti wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) dan walang sangit (Leptocorisa oratorius), yang dapat menyebabkan kehilangan hasil mencapai 20–25% setiap tahun. Upaya pengendalian hama pada budidaya padi umumnya masih mengandalkan pestisida sintetik, yang berdampak negatif terhadap ekosistem dan keanekaragaman hayati. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan ramah lingkungan seperti Pengendalian Hama Terpadu (PHT), salah satunya dengan pemanfaatan perangkap cahaya (light trap) menggunakan variasi tinggi tiang dan warna cahaya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efektivitas kombinasi ketinggian tiang dan warna cahaya pada light trap dalam mengendalikan hama padi serta mengetahui interaksi antar perlakuan. Penelitian dilaksanakan di Desa Pagerlor, Kecamatan Sudimoro, Kabupaten Pacitan pada bulan Maret–April 2025 dengan menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) faktorial dua faktor, yaitu tinggi tiang (50 cm, 100 cm, dan 150 cm) dan warna cahaya (ungu ultraviolet, biru, dan kuning), sehingga diperoleh sembilan kombinasi perlakuan dengan tiga ulangan. Parameter yang diamati meliputi jumlah hama, intensitas serangan, efektivitas perangkap cahaya, tinggi tanaman, jumlah anakan, dan luas daun. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kombinasi tiang setinggi 100 cm dengan cahaya ungu ultraviolet merupakan perlakuan paling efektif, ditunjukkan dengan jumlah hama tertangkap terbanyak dan intensitas serangan terendah. Warna cahaya berpengaruh nyata terhadap daya tarik hama nokturnal, sedangkan tinggi tiang tidak berinteraksi signifikan dengan warna cahaya terhadap pertumbuhan tanaman. Penerapan light trap dengan konfigurasi yang tepat dapat meningkatkan efisiensi pengendalian hama secara ramah lingkungan dan menjadi bagian dari strategi PHT yang mendukung pertanian padi berkelanjutan.