Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Perbandingan Ekokritik pada Puisi "Pesan dari Situ" karya Muhammad Bintang Yanita Putra dengan Cerpen "Situ Gintung" karya Putu Wijaya (Kajian Sastra Bandingan) Zahro, Alhasanah
CaLLs (Journal of Culture, Arts, Literature, and Linguistics) Vol 7, No 1 (2021): CaLLs, Juni 2021
Publisher : Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/calls.v7i1.5126

Abstract

Sastra bandingan merupakan suatu disiplin ilmu yang berfokus pada pembandingan antara sastra dengan sastra, atau sastra dengan bidang lain di luar sastra. Sedangkan ekokritik sastra ialah perspektif menafsirkan sastra dengan mempertimbangkan lingkungan. Pada penelitian kali ini, penulis berusaha menganalisis dan membandingkan puisi berjudul “Pesan dari Situ” karya Muhammad Bintang Yanita Putra dengan cerpen berjudul “Situ Gintung” karya Putu Wijaya. Penelitian ini mengarah pada ekokritik, yang diambil dari pemilihan kata, frasa, klausa, dan kalimat yang memiliki fokus pada hubungannya dengan lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan nilai-nilai kearifan ekologi yang terkandung antara kedua objek penelitian untuk mengetahui pesan, makna, serta kritik apa yang diusung oleh pengarang dalam karya sastranya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kualitatif. teori yang digunakan untuk menganalisis data adalah teori ekokritik Greg Garrard serta teori sastra bandingan. Hasil penelitian menunjukkan puisi dan cerpen sama-sama digunakan oleh pengarang sebagai media penyampaian pesan bahwa alam dan manusia adalah satu kesatuan yang saling mempengaruhi. Puisi “Pesan dari Situ” menjadi media yang dipilih oleh penyair untuk menggambarkan tentang peristiwa Situ Gintung, mulai dari curah hujan, kehendak Tuhan, akibat-akibat serta sebuah pengingat untuk menjaga alam sejak dini—upaya mitigasi bencana. Pada cerpen “Situ Gintung” juga merupakan media yang dipilih oleh pengarang untuk menggambarkan keadaan orang-orang yang peduli terhadap bencana Situ Gintung, ini tergambar melalui tokoh Ami, Pak Amat, dan Chika. Dalam cerpen lebih menyuarakan tentang manusia-manusia yang lalai dalam merawat alam, sehingga menimbulkan bencana. 
Mitos Hantu Miyangga di Sungai Cijalu dan Bendungan Selis Kecamatan Majenang, Kabupaten Cilacap Zahro, Alhasanah; Dyan Rizal Anugrah
Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal Vol. 5 No. 2 (2026): Arif: Jurnal Sastra dan Kearifan Lokal
Publisher : Fakultas Bahasa dan Seni

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21009/Arif.052.07

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan mitos hantu miyangga sebagai bentuk folklor. Selain itu, penelitian ini mengeksplor fungsi, nilai-nilai, dan bentuk kritik ekologi yang terkandung dalam mitos hantu miyangga di Kecamatan Majenang. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan hermeneutik. Lokasi penelitian adalah Sungai Cijalu dan Bendungan Selis di Dusun Lampeng, Desa Jenang, Kecamatan Majenang. Data diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap warga setempat dan informan yang dituakan oleh masyarakat setempat. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mitos hantu miyangga berfungsi sebagai larangan dan peringatan. Kemudian, mitos hantu miyangga tersebut diciptakan sebagai cara yang dilakukan oleh masyarakat untuk menjaga keseimbangan alam. Mengingat, Sungai Cijalu sendiri merupakan sumber air yang menghidupi dua kecamatan yaitu kecamatan Majenang dan Cimanggu. Selain itu, terdapat pula entitas hewan asli khas Sungai Cijalu yang perlu dilestarikan.