Hanuf, Atiqah Aulia
Unknown Affiliation

Published : 13 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search

Analysis of Soil Penetration Resistance in Coffee Plantation Agroecosystems in Bangelan, Malang, East Java Riyanto, Saniya Reizta; Hanuf, Atiqah Aulia; Alista, Febri Ayu; Yumna, Alifa; Soemarno, Soemarno
PLANTA TROPIKA Vol 10, No 2 (2022)
Publisher : Department of Agrotechnology, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.v10i2.11085

Abstract

Agriculture land shows soil compaction problems due to long-term agricultural cultivation activities. Soil compaction indicator can be seen from the value of soil penetration resistance at different soil depths (0 - 60 cm). This research aimed to determine soil penetration resistance at different coffee plantation ages with different soil depths and to analyze the relationship between soil penetration resistance with soil physical characteristics and coffee productivity. The survey activities include observation of minipits, measuring soil penetration resistance at soil depths of 0-20 cm, 20-40 cm, and 40-60 cm using a hand penetrometer, and soil sampling. The results showed that the soil penetration resistance at each LU and soil depth suggested variation were categorized into moderate and high soil penetration resistance classes (1.34 MPa - 3.35 MPa). Soil characteristics, such as soil aggregate stability, water content, bulk density, porosity, silt content, and clay content, significantly correlate with soil penetration resistance. However, soil penetration resistance has a negative correlation with coffee productivity. The value of soil penetration resistance (at a depth of 0-60 cm) has a significant negative correlation with the average productivity of coffee plantations (r=-0.5936**). Therefore, increased soil penetration resistance decreased root growth, decreasing plant productivity.
Analysis of Soil Penetration Resistance in Coffee Plantation Agroecosystems in Bangelan, Malang, East Java Riyanto, Saniya Reizta; Hanuf, Atiqah Aulia; Alista, Febri Ayu; Yumna, Alifa; Soemarno, Soemarno
PLANTA TROPIKA Vol. 10 No. 2 (2022)
Publisher : Department of Agrotechnology, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/pt.v10i2.11085

Abstract

Agriculture land shows soil compaction problems due to long-term agricultural cultivation activities. Soil compaction indicator can be seen from the value of soil penetration resistance at different soil depths (0 - 60 cm). This research aimed to determine soil penetration resistance at different coffee plantation ages with different soil depths and to analyze the relationship between soil penetration resistance with soil physical characteristics and coffee productivity. The survey activities include observation of minipits, measuring soil penetration resistance at soil depths of 0-20 cm, 20-40 cm, and 40-60 cm using a hand penetrometer, and soil sampling. The results showed that the soil penetration resistance at each LU and soil depth suggested variation were categorized into moderate and high soil penetration resistance classes (1.34 MPa - 3.35 MPa). Soil characteristics, such as soil aggregate stability, water content, bulk density, porosity, silt content, and clay content, significantly correlate with soil penetration resistance. However, soil penetration resistance has a negative correlation with coffee productivity. The value of soil penetration resistance (at a depth of 0-60 cm) has a significant negative correlation with the average productivity of coffee plantations (r=-0.5936**). Therefore, increased soil penetration resistance decreased root growth, decreasing plant productivity.
Penerapan sistem biopori berkompos di kebun kopi Hanuf, Atiqah Aulia; M. Nurin, Yusuf; M. Yunita, Dinda; Naylis Syaro, Z.; Nisfi, N.; Ifadah, F.; Musyaffa, Haidar J.; Soemarno, S.
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 1 No. 1 (2020)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketersediaan bahan organik tanah semakin menurun karena semakin intensifnya pengelolaan, erosi, maupun terbatasnya input bahan organik di kebun kopi. Bahan organik memiliki peran yang penting untuk mendukung aktivitas fisik, kimia dan biologi tanah. Oleh karena itu, teknologi biopori berkompos mempunyai potensi yang sangat besar untuk memperbaiki kualitas tanah di kebun kopi. Teknologi ini diletakkan pada zona perakaran kopi yang terdiri dari dua bagian yaitu lapisan atas (0-30 cm) dan lapisan bawah (30-60 cm). Tujuan kegiatan ini adalah untuk mendesain dan menerapkan teknologi biopori berkompos di kebun kopi. Sistem biopori dibuat menggunakan PVC 5” dengan kedalaman biopori 30 cm dan 60 cm di sekitar pohon kopi produktif. Kompos yang telah matang dimasukkan ke dalam biopori dengan dosis kompos kotoran kambing 4,4 kg/pohon dan untuk kompos kulit kopi sebesar 10,4 kg/pohon. Setiap petak pengamatan terdiri atas 15 pohon kopi dewasa dan 10 biopori berkompos. Teknologi biopori berkompos ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas air tanah tersedia pada zona akar tanaman kopi, meningkatkan kandungan bahan organik tanah dan memperbaiki ketersediaan unsur hara dalam tanah.
Pembuatan Kompos dari Limbah Kulit Kopi Robusta Hanuf, Atiqah Aulia; Nurin, Yusuf Mahardika; Aditya, Rizkia; Nurindriana, Fathia Meidy; Lutfi, M Wasilul
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2024.005.02.06

Abstract

Limbah kulit kopi jumlahnya banyak dan tidak dimanfaatkan dalam siklus pengelolaan prekebunan kopi. Kandungan BO dan unsur hara esensial  dari limbah kulit kopi ini cukup tinggi, sehingga berpotensi untuk diolah menjadi kompos yang berkualitas untuk kebun kopi. Tujuan kegiatan ini adalah menerapkan teknologi tepat guna untuk mengolah limbah kulit kopi menjadi kompos yang berkualitas. Kegiatan pengomposan dilakukan di Unit Pengomposan, Kebun Kopi Bangelan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang. Pengomposan limbah kulit kopi dapat menjadi solusi pengelolaan limbah kulit kopi saat ini. Kompos yang dihasilkan memenuhi syarat untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembenah tanah, untuk memperbaiki kualitas tanah di kebun-kebun kopi. Bahan penunjang dalam proses pengomposan kulit kopi adalah molase (tetes tebu) , dedak padi dan dolomit untuk menghasilkan kualitas kompos yang baik. Beberapa saran yang dapat disampaikan adalah: (1) Perlu insentif khusus bagi unit pengomposan di perkebunan kopi untuk dapat mengolah limbah kulit kopi menjadi kompos yang berkualitas. dan (2) SOP (pedoman) khusus diperlukan untuk mengaplikasikan kompos di kebun kopi secara efektif dan efisien.
Kompos Sekam Kopi untuk Memperbaiki ketersediaan Fosfat Lempung Berliat di Kebun Kopi Robusta Nurin, Yusuf Mahardika; Hanuf, Atiqah Aulia; Rahmawati, Riska
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2024)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2024.005.02.09

Abstract

ABSTRAKRendahnya ketersediaan P pada lapisan tanah atas dan bawah merupakan kendala utama yang membatasi produktivitas tanaman kopi Robusta. Sementara itu, sekam kopi kaya akan unsur hara esensial yang dapat dikomposkan menjadi kompos yang kaya unsur hara, terutama fosfat yang tersedia bagi tanaman. Tujuan penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh pemberian kompos sekam kopi melalui BIH40 cm (lubang resapan biopori 40 cm) terhadap kandungan P tersedia dalam tanah, dan produktivitas tanaman kopi. Penelitian dilakukan di perkebunan kopi Robusta yang masih produktif, dengan tujuh perlakuan dosis kompos (0-10 ton.ha-1) yang diberikan melalui BIH40 cm. Setiap perlakuan diulang empat kali dalam Rancangan Acak Kelompok. Pengamatan tanah dan tanaman dilakukan 5 MAA (bulan setelah pemberian) meliputi pH tanah, kandungan C organik, P tersedia, jumlah daun, tinggi tanaman dan produksi pohon kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) pemberian kompos sekam kopi melalui BIH40cm sampai dengan dosis 10 ton.ha-1 dapat meningkatkan ketersediaan P tanah pada perakaran kopi, meningkatkan jumlah daun dan tinggi tanaman, serta produktivitas tanaman kopi; (2) hubungan antara kandungan P tersedia tanah (P20, P40, dan P60), jumlah daun (LN) dan produktivitas tanaman kopi (Prod) dinyatakan dengan persamaan regresi linier berganda: Prod = 333,815 + 47,132P40 + 12,278P20 + 2,081LN – 37,269P60 (R2 = 0,9980; sig F = 0,0039).
Lubang Resapan Biopori Berkompos (LRBB) untuk Meningkatkan P-Tersedia Tanah di Kebun Kopi Robusta , Kabupaten Malang Hanuf, Atiqah Aulia; Nurin, Yusuf Mahardika; Bushron, Raushanfirk
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 2 No. 2 (2021)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengaruh Lubang Resapan Biopori Kompos (RPB) terhadap ketersediaan P tanah pada perkebunan kopi Robusta. Percobaan lapang dilakukan di perkebunan kopi Desa Bangelan, Kecamatan Wonasari, Kabupaten Malang. Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri dari lima perlakuan RPB dan empat kali ulangan. Kompos diberikan sebanyak 4.400 gram per RPB untuk pupuk kandang kambing dan 10.400 gram per RPB untuk kompos sekam kopi. Parameter yang diukur adalah pH tanah, P-total (P-HCl 25%), P-tersedia (P-Bray I) dan C-organik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Perlakuan RPB dapat meningkatkan kadar P total tanah secara nyata pada kedalaman 0-60 cm. Nilai tertinggi terdapat pada perlakuan P4 (RPB 60 cm dengan kompos sekam kopi). (2) Perlakuan RPB menghasilkan kadar P tersedia yang lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol, meskipun perbedaan ini tidak nyata pada p = 0,05.
Pupuk Kandang Kambing dalam Lubang Resapan Biopori (LRB) untuk Memperbaiki Ketersediaan Fosfat Tanah Berpasir di Kebun Kopi Rakyat Alfathin, Syifa Chairani; Ramadhani, Muhammad Hibatullah; Septiani, Deva Eka; Mahardika, Muhammad Wisnu; Ifadah, Nisfi Fariatul; Hanuf, Atiqah Aulia
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 1 (2022)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2022.003.01.04

Abstract

Rata-rata produktivitas kopi rakyat sangat rendah dan beragam. Kesuburan tanah berpasir yang miskin fosfat dianggap sebagai salah satu kendala utama yang membatasi produktivitas kopi. Upaya yang dapat dilakukan adalah aplikasi pupuk kandang kambing ke zona perakaran tanaman kopi. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menganalisis pengaruh aplikasi pupuk kandang kambing melalui LRB terhadap ketersediaan fosfat tanah dan kinerja tanaman kopi. Penelitian dilakukan di kebun kopi rakyat di wilayah Kecamatan Wajak, Kabupaten Malang. Perlakuan dosis pupuk kandang kambing adalah 0, 5, 10,15 dan 20 ton.ha-1 yang diaplikasikan melalui LRB 40 cm. Setiap perlakuan diulang empat kali dalam Rancangan acak kelompok (RAK). Pengamatan dilakukan lima bulan setelah aplikasi, meliputi pH tanah, C-organik, N-total, P-tersedia, N-daun, P-daun, klorofil daun dan hasil buah kopi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Aplikasi pupuk kandang kambing melalui lubang resapan biopori (BIH) meningkatkan kandungan C organik tanah sebesar 26% dan P-Bray 1 sebesar 35% pada kedalaman tanah 0-60 cm, dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Perlakuan ini juga meningkatkan hasil kopi sekitar 45% dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Ada hubungan linear berganda antara hasil kopi (Y) dengan kandungan P-tersedia topsoil (X1), kandungan P-tersedia subsoil (X3),  kandungan P-daun kopi (X4), kandungan C-organik subsoil (X2), dan kandungan klorofil daun kopi (X5), dengan urutan besarnya kontribusi pengaruh terhadap hasil kopi: X1 > X3 > X4 > X2 > X5.
Evaluasi Lahan di Kawasan Agrowisata Petik Jeruk Selorejo, Kecamatan Dau Kabupaten Malang Yunitasari, Norma; Mashudi, Imam; Purwanti, Nelsa Kumala Dewi; Cahyani, Erika Putri Ika; Dethan, Albert Johanson; Meidina, Adella Anggi; Hanuf, Atiqah Aulia
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2022.003.02.01

Abstract

Di Desa Selorejo, salah satu sentra agrowisata jeruk, terdapat variasi produktivitas yang cukup besar di antara petani jeruk. Variasi produktivitas jeruk tersebut disebabkan oleh perbedaan karakteristik lahan dan tanah, serta sistem pengelolaan kebun. Program ini dilakukan untuk mengevaluasi kesesuaian lahan jeruk dan mengidentifikasi kendala tanah untuk budidaya jeruk. Terdapat dua lokasi evaluasi yaitu kebun jeruk dengan produktivitas tinggi dan kebun jeruk dengan produktivitas rendah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa retensi hara tanah dan bahaya erosi akibat kemiringan lahan merupakan faktor dominan yang mempengaruhi produktivitas jeruk. Berdasarkan hasil evaluasi lahan, disarankan untuk menggunakan kompos atau pupuk kandang melalui lubang resapan biopori (BIH) sedalam 50 cm untuk meningkatkan keberlanjutan produktivitas kebun jeruk.
Teknologi Lubang Resapan Biopori Berbahan Organik (LRBO) Memperbaiki Kualitas Tanah Kebun Jeruk , di BPSI Jestro, Tlekung, Batu Purwanti, Nelsa Kumala Dewi; Hanuf, Atiqah Aulia; Soemarno, Soemarno; Meidina, Adella Anggi; Cahyani, Erika Putri Ika
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 3 No. 2 (2022)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2022.003.02.02

Abstract

Inceptisol memiliki karakteristik khusus, yaitu rendahnya bahan organik. Masalah kimia lain dari inceptisol meliputi pH asam, kadar liat tinggi, dan pencucian unsur hara di lapisan permukaan tanah. Aplikasi kompos organik ke dalam tanah dapat memperbaiki sifat kimia tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh aplikasi lubang resapan biopori (BIH) dengan kompos organik pada berbagai dosis terhadap KTK tanah, C organik, N total, rasio C/N dan pH tanah tanah Inceptisol di Kebun Jeruk Lemon BPSI Jestro, Batu. Perlakuan yang diuji adalah P0 (kontrol, tanpa BIH, tanpa kompos), P1 (BIH kosong), P2 (BIH dengan dosis kompos 5 Mg.ha-1), P3 (BIH dengan dosis kompos 10 Mg.ha-1), P4 (BIH dengan dosis kompos 15 Mg.ha-1), P5 (BIH dengan dosis kompos 20 Mg.ha-1). Keenam perlakuan disusun dalam rancangan kelompok acak lengkap dengan empat kali ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian kompos pada BIH dapat meningkatkan Kapasitas Tukar Kation (KTK) tanah, kandungan C-organik, N-total, C/N Ratio, dan pH tanah lapisan atas dan bawah. Pemberian kompos dengan dosis 20 Mg.ha-1 merupakan perlakuan terbaik dan mampu meningkatkan KTK, C-organik, N-total, C/N Ratio, dan pH tanah pada pengamatan 5 kedalaman TBS yaitu 0-20 cm, 20-40 cm, dan 40-60 cm dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Perlakuan kompos dengan dosis 20 Mg.ha-1 dapat meningkatkan kandungan klorofil daun jeruk sebesar 789,23 μmol.m-2 atau meningkat sebesar 20,06% dibandingkan dengan perlakuan kontrol. Terdapat hubungan yang signifikan antara kandungan klorofil daun jeruk dengan KTK tanah, kandungan N-total, C-organik, dan pH H2O. 
Kompos dalam Lubang Resapan Biopori (LRB) memperbaiki Ketahanan Penetrasi Tanah subsoil di Kebun Jeruk Lemon (Citrus limon) BSIP Jestro Desa Tlekung, Kota Batu Albert, Dethan Johanson; Hanuf, Atiqah Aulia; Soemarno, Soemarno; Fanshuri, Buyung Al
AGROINOTEK Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 4 No. 1 (2023)
Publisher : Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21776/ub.agroinotek.2023.004.01.03

Abstract

Jeruk lemon (Citrus limon) merupakan tanaman hortikultura yang bernilai ekonomis tinggi. Produksi jeruk lemon (Citrus limon) di Kota Malang, Jawa Timur mengalami penurunan (Badan Pusat Statistik Indonesia, 2022). Penurunan produksi jeruk lemon disebabkan oleh budidaya yang tidak tepat, degradasi media tanam tanah tempat tanaman jeruk lemon tumbuh. Tingkat pemadatan tanah dipengaruhi oleh tingkat tahanan penetrasi tanah karena tahanan penetrasi merupakan indikasi kemampuan penetrasi akar ke dalam tanah. Sehingga diperlukan upaya penyediaan bahan organik seperti pemberian kompos organik pada lubang resapan biopori. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui pengaruh lubang resapan biopori (kedalaman 40 cm) dengan kompos organik terhadap sifat fisik tanah (berat jenis, porositas tanah, kadar air dan tahanan penetrasi) dan sifat kimia tanah (kadar c-organik) dalam upaya menurunkan tahanan penetrasi tanah. Kegiatan penelitian dilaksanakan di kebun jeruk lemon produktif. Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok dengan 6 perlakuan dan empat kali ulangan. Perlakuannya adalah: P0 (kontrol), P1 (lubang resapan biopori kosong), P2 (lubang resapan biopori + 5 ton.ha-1 kompos), P3 (biopori + 10 ton.ha-1 kompos), P4 (lubang resapan biopori + 15 ton.ha-1 kompos), P5 (lubang resapan biopori + 20 ton.ha-1 kompos). Parameter yang diamati pada 1 dan 6 bulan setelah aplikasi perlakuan meliputi berat jenis tanah, porositas tanah, kadar air tanah, daya tahan penetrasi tanah dan kandungan C-organik tanah. Data yang diperoleh dianalisis dengan Analisis Varians (ANOVA) dilanjutkan dengan Uji Jarak Berganda Duncan (DMRT). taraf 5% dengan aplikasi SPSS. Dilanjutkan dengan korelasi kemudian regresi linier sederhana dan berganda. Aplikasi kompos dengan dosis 20 ton.ha-1 pada lubang resapan biopori (P5) sebagai perlakuan terbaik dalam menurunkan daya tahan penetrasi tanah lapisan tanah bawah (kedalaman 30-60 cm).