Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

KARAKTERISTIK KASUS PADA VISUM ET REPERTUM DENGAN DUGAAN KEKERASAN SEKSUAL DI RSUP SANGLAH DENPASAR I GDE HARY EKA ADNYANA
JURNAL KEDOKTERAN Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Kedokteran Universitas Palangka Raya
Publisher : jurnal 2019

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (212.068 KB)

Abstract

Kekerasan seksual merupakan kejahatan yang dapat ditemukan di seluruh dunia, pada tiap tingkatan masyarakat dan tidak memandang usia. Salah satu komponen penting dalam pengungkapan kasus kekerasan seksual adalah visum et repertum. Visum et repertum (VeR) adalah suatu keterangan tertulis yang dibuat berdasarkan permintaan penyidik memuat segala sesuatu yang dilihat dan ditemukan dalam pemeriksaan sesuai dengan keilmuannya sebaik-baiknya untuk kepentingan peradilan dengan mengingat sumpah ketika menerima jabatan. Dokter sebagai pihak yang mengetahui tubuh manusia memiliki peran dalam pembuatan VeR. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik permintaan VeR kasus dengan dugaan kekerasan seksual di RSUP Sanglah Denpasar berdasarkan umur, hubungan korban dengan pelaku, tempat kejadian, temuan pada pemeriksaan fisik, keadaan selaput dara dan riwayat berhubungan seksual sebelumnya. Penelitian ini merupakan penelitian survei deskriptif dengan sampel penelitian adalah rekam medis pasien yang membawa permintaan VeR kasus dengan dugaan kekerasan seksual di RSUP Sanglah Denpasar dari 1 Januari 2014 sampai 31 Desember 2015. Dalam kurun waktu 2 tahun, didapatkan permintaan VeR kasus dengan dugaan kekerasan seksual ke RSUP Sanglah Denpasar sebanyak 113 kasus, hanya 93 kasus yang diteliti. Persentase terbanyak, berdasarkan umur 17-25 (25,8%), hubungan dengan pelaku adalah pacar (52,7%), tempat kejadian di rumah kost (32,3%), pada pemeriksaan fisik ditemukan adanya perlukaan hanya pada alat kelamin (72,0%), keadaan selaput dara didapatkan robekan lama (73,1%), dan sebagian besar korban sudah pernah berhubungan seksual sebelumnya (73,1%).
Hubungan Kehamilan Ibu Usia Dini dengan Kejadian Stunting Pada Balita di Wilayah Kerja Puskesmas Bambulung Kabupaten Barito Timur Ane, Jeane Nadya Handriani; Syamsul Arifin; I Gde Hary Eka Adnyana
Barigas: Jurnal Riset Mahasiswa Vol. 1 No. 3 (2023): Barigas: Jurnal Riset Mahasiswa
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/barigas.v1i3.8063

Abstract

The prevalence of stunting under five in Central Kalimantan is, 27,7%, where East Barito Regency is in the second highest position with 33,7%. This makes East Barito Regency one of government’s priority targets in tackling the high incidence of stunting in Central Kalimantan. The sub-district that is the main priority of the East Barito Regency government in interventing stunting events is Pematang Karau District. This study aims to determine the relationship between young mothers pregnancy and the incidence of stunting in children under five in the working area of Bambulung Public Health Center, East Barito Regency. This research uses analytical observation method using case control. Sampling was done by purposive sampling method. The statistical test used is the chi-square test. In this study, 39 stunted toddlers were used as the case group and 30 non-stunted toddlers as the control group. Where there are 25 (41,70%) respondents of young mothers pregnancy at an early age (<20 years) in the case group as many as 18 (30,00%) and in the control group as many as 7 (11,70%). Then, non-young mother’s pregnancy 35 (58,30%) respondent consisting of 12 (20,00%) respondents frim the case group and as many as 23 (38,30%) from the control group. The result of the chi-square test obtained p=0,009, OR =4,929, CI 95% =1,612-15.071. There is a significant relationship between young mothers pregnancy and the incidence of stunting in children under five in the working area of the Bambulung Public Health Center, East Barito Regency and early pregnancy risks of 4,929 times greater risk of stunting in children under five compared to early age mothers.
Hubungan tingkat pengetahuan kanker serviks dengan minat vaksinasi HPV pada mahasiswi Fakultas Ekonomi Universitas Palangka Raya I Gde Hary Eka Adnyana; Angeline Novia Toemon; I Wayan Bayu Satyaguna Wibawa
Barigas: Jurnal Riset Mahasiswa Vol. 1 No. 2 (2023): Barigas: Jurnal Riset Mahasiswa
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Palangka Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37304/barigas.v1i2.10175

Abstract

Cervical cancer first ranks in developing countries and is the top ten most common diseases in developed countries. Cervical cancer is 2 out of the 10 most common cancers in Indonesia with an incidence of 12.70%. Indonesia has a population of 99.8 million women aged 15 years and over who are at risk of developing cervical cancer. The purpose of this study was to find out the relationship between the level of knowledge of 2019 Faculty of Economics students regarding cervical cancer and interest in HPV vaccination. The method used is analytic observational with cross-sectional design. The population in this study used a purposive sampling technique where the samples were female students aged over 18-25 years at the Faculty of Economics years of 2019 with a total sample of 100 samples. Data collection was carried out using primary data through validated questionnaires, after which a chi-square test was carried out. and computerized data processing. The results of this study indicate that there is a significant relationship between the level of knowledge of cervical cancer (p-value = 0.000) and interest in HPV vaccination.
The Relationship Between Premature Rupture of Membranes and the Decision to Perform a Cesarean Section and Neonatal Outcomes at Dr. Doris Sylvanius Regional General Hospital in Palangkaraya City from 2022 to 2024 Marta Eldina Larasati; I Gde Hary Eka Adnyana; Austin Bertilova Carmelita; Dian Mutiasari
AVERROUS: Jurnal Kedokteran dan Kesehatan Malikussaleh Averrous, Volume 11 No.2 November 2025
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ketuban Pecah Dini (KPD) meningkatkan risiko infeksi, tindakan Sectio Caesarea (SC), serta komplikasi neonatal. Durasi KPD menjadi faktor utama yang memengaruhi keputusan persalinan dan kondisi bayi. Di RSUD dr. Doris Sylvanus Palangka Raya tahun 2022–2024, kasus KPD dan SC dengan indikasi KPD menunjukkan peningkatan, sehingga penting diteliti hubungan durasi KPD dengan keputusan SC dan outcome neonatus. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi distribusi durasi KPD pada ibu bersalin di RSUD dr. Doris Sylvanus selama periode 2022-2024, untuk mengetahui proporsi tindakan persalinan (SC dan Pervaginam) berdasarkan durasi KPD di RSUD dr. Doris Sylvanus selama periode 2022-2024, untuk mengetahui distribusi outcome neonatus berdasarkan durasi KPD di RSUD dr. Doris Sylvanus selama periode 2022-2024, dan untuk menganalisis hubungan antara durasi KPD dan tindakan SC di RSUD dr. Doris Sylvanus selama periode 2022-2024, serta menganalisis hubungan antara durasi KPD dan outcome terhadap neonatus (NICU/Perinatologi atau rawat gabung) di RSUD dr. Doris Sylvanus selama periode 2022-2024. Penelitian ini menggunakan desain studi deskriptif observasional dengan pendekatan cross-sectional (potong lintang). Hasil penelitian menunjukkan bahwa mayoritas ibu dengan KPD mengalami durasi pecah ketuban ≥12 jam, yaitu sebesar 78,7% dari seluruh kasus. Sebagian besar ibu dengan KPD menjalani tindakan Sectio Caesarea (70,0%), terutama pada kelompok dengan durasi KPD ≥12 jam. Neonatus dari ibu dengan KPD mayoritas (77,9%) memerlukan perawatan di unit perinatologi, terutama pada kasus dengan durasi KPD ≥12 jam. Terdapat hubungan signifikan antara durasi KPD dan tindakan SC (χ² = 48,369; p < 0,001), di mana ibu dengan durasi KPD ≥12 jam memiliki peluang hampir 9 kali lebih besar untuk menjalani SC. Durasi KPD juga berhubungan signifikan dengan outcome neonatus (χ² = 44,493; p < 0,001), dengan risiko 8 kali lebih tinggi untuk dirawat di unit perinatologi pada bayi dari ibu dengan KPD ≥12 jam. Maka dapat disimpulkan bahwa durasi KPD ≥12 jam berhubungan erat dengan meningkatnya tindakan SC dan kebutuhan perawatan intensif neonatus. Semakin lama ketuban pecah, semakin tinggi risiko intervensi obstetri dan komplikasi neonatal di RSUD dr. Doris Sylvanus periode 2022–2024.