Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

SPEECH STYLE USED IN TEACHING ENGLISH THROUGH WHATSAPP DURING PANDEMIC OF COVID-19 Khoiriyah, Uswatun
Jurnal Pendidikan Bahasa Inggris Proficiency Vol 3 No 2 (2021): PROFICIENCY
Publisher : FKIP UNISKA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32503/proficiency.v3i2.1921

Abstract

Speech style is a unique characteristic of an individual. Specifically, to accomplish the learning purpose a teacher is needed to use speech style to assist their students. There was different speech style between male and female English teachers while explaining the subject. Moreover, in the pandemic Covid-19 condition there is a requirement to use technology information as learning media such as Whatsapp. The research objectives are (1) to analyze the type of speech styles that the teacher used in teaching English through WhatsApp during pandemic of Covid-19 at SMP Islam Al Azhaar Tulungagung (2) to analyze the students’ perception of speech style used by the teacher through WhatsApp during pandemic of Covid-19 at SMP Islam Al Azhaar Tulungagung. The method of research is qualitative descriptive by using primary source as voice note, questionnaire to collect the data and data was analysis using Baxter’s speech styles categorization. The result show that (1) the male english teacher often used matter of fact features because he wanted to be more factual and referential when he explained the material to the students. Then, the most dominant of the female teachers speech style was co-operative. The female english teachers often used co operative features because she wanted to have good cooperation with their students in tlearning English. (2) The students said that they more motivated learning English when their teacher appreciate them in addition the most of students hoped that teacher should asked used referential question because it can increase their ability in English.
DOMINASI MURTAHIN TERHADAP RAHIN PADA PRAKTIK GADAI SAWAH DI DESA ANGOHU KECAMATAN TONGAUNA KABUPATEN KONAWE Khoiriyah, Uswatun; Insawan, Husain; Rohmah, Umi
Fawaid : Sharia Economic Law Review Vol 1 No 2 (2019): Fawaid: Sharia Economic Law Review
Publisher : Fakultas Syariah IAIN Kendari

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31332/flr.v1i2.2848

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk mengetahui praktik dominasi murtahin terhadap rahin pada praktik gadai sawah di Desa Anggohu Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe. Kajian ini memfokuskan pada bentuk dan motif dominasi murtahin terhadap rahin pada praktik gadai sawah di Desa Anggohu Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe. Serta bagaimana tinjauan hukum Islam terhadap praktik dominasi murtahin kepada rahin dalam praktik gadai sawah di Desa Anggohu Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe. Lahan atau persawahan di masyarakat tidak hanya berfungsi sebagai aset produktif, tetapi juga berfungsi sebagai komoditas yang dapat ditransaksikan seperti jual beli, sewa, pinjam meminjam, sesuai dengan kebutuhan masyarakat yang seringkali menimbulkan berbagai permasalahan dalam praktiknya. Pelaksanaan praktik gadai sawah yang dilaksanakan di Desa Anggohu Kecamatan Tongauna Kabupaten Konawe tersebut belum memenuhi rukun dan syarat akad gadai secara sempurna, dan belum mencapai rukun dan syarat keabsahan akad yang dijelaskan dalam hukum Islam. Dalam praktik gadai sawah tersebut ditemukan bentuk eksploitasi yang dijelmakan dalam bentuk dominasi atau pengusaan secara fisik dan non fisik dari pihak yang memilki kekuasaan dalam modal (kapital), dengan tujuan pemanfaatan objek gadai oleh murtahin. Dalam pelaksanaannya mensyaratkan adanya imbalan jasa maupun bentuk-bentuk yang dapat menimbulkan kerugian salah satu pihak. Setelah dikajian dan analisis melalui hukum bisnis Islam hal tersebut tidak diperbolehkan meskipun hasil yang diperoleh hanya sedikit saja, karena dalam pengambilanya bermaksud untuk menarik manfaat yang dapat menguntungkan yang berlipat ganda serta merugikan sebelah pihak. Jumhur ulama’ memperbolehkan mengambil manfaatnya, akan tetapi hanya sekedar pengganti dari biaya pemeliharaan dan penyimpanan, karena apabila kegiatan pinjam-meminjam mensyaratkan adanya pengambilan manfaat dapat dikategorikan sebagai riba.