ABSTRAK Saat ini minum dan makan di luar rumah di sukai masyarakat sebagai tempat istirahat setelah menyelesaikan kesibukannya, tempat rapat, meeting, seminar bisnis dengan teman atau rekan kerjanya. Pengelola bisnis dikatakan sebagai pemenang jika pembeli semakin banyak dan pelanggan tetap datang membeli. Pengelola bisnis yang kreatif, akan terdorong untuk mendapatkan strategi memberikan kepuasan pelanggan agar pembeli semakin banyak dan mendapatkan pelanggan yang banyak. Keberhasilan pemasaran yang di jalankan sebagai penentu mendapatkan pelanggan yang banyak. Pemasaran yang tepat penting bagi perkembangan dan kemajuan bisnis ke depannya. Plaza Kuliner yang berlokasi di Taman Nyi Ageng Rakit Klaten sejak tahun 2020 dan sampai saat ini masih mampu bertahan. Namun, pendapatan penjualan satu tahun lebih sangat kurang karena pengunjung tidak seramai dahulu itu pun masih terbebani pembayaran karyawan, jasa sampah, bayar listrik, bahkan ada peraturan baru yang muncul untuk membayar pajak dalam kondisi sepi pengunjung. Selain itu, semenjak ada pedagang kaki lima yang berjualan di sekitar Taman Nyi Ageng Rakit Klaten mendapatkan dukungan dari BUMDES, Plaza kuliner yang berada di Taman Nyi Ageng Rakit Klaten Semakin bertambah sepi pengunjung. Untuk menyikapi kondisi sepi pengunjung, buka hanya hari sabtu dan minggu saja. Ada juga yang tutup total. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kualitas pelayanan dalam meningkatkan kepuasan pelanggan di Plaza Kuliner Taman Nyi Ageng Rakit Klaten. Jenis penelitian deskriptif menggunakan metode kualitatif dengan metode pengumpulan data yaitu observasi, dokumentasi, dan wawancara kepada 9 informan menggunakan teknik snowball sampling. Data di analisis menggunakan model menurut Miles and Huberman yaitu mengumpulkan data, melakukan tahapan data, menyajikan data, menarik kesimpulan. Hasil wawancara kepada informan menunjukkan bahwa indikator kualitas pelayanan berupa bukti fisik, kehandalan, daya tanggap, jaminan, dan empati sudah ada yang di terapkan penjual di Plaza Kuliner Taman Nyi Ageng Rakit Klaten. Namun, ada hambatan dalam penerapannya yaitu kurangnya upaya dalam meningkatkan kualitas pelayanan oleh para pengelola di Plaza Kuliner Taman Nyi Ageng Rakit Klaten dan penjual di Plaza Kuliner Taman Nyi Ageng Rakit Klaten memiliki keterbatasan sumber daya seperti personal yang terlibat, teknologi yang di gunakan, dan anggaran yang di perlukan untuk meningkatkan indikator kualitas pelayanan. ABSTRACT Currently, people prefer eating and drinking outside as a place to rest after a busy day, as a place for meetings, business seminars with friends or colleagues. Business owners are considered winners if they have more buyers and repeat customers. Creative business owners will be motivated to develop strategies to satisfy customers to increase their number of buyers and attract more customers. Successful marketing efforts are crucial for attracting a large number of customers. Appropriate marketing is crucial for the future development and progress of a business. The Culinary Plaza, located in Nyi Ageng Rakit Park, Klaten, has been operating since 2020 and is still able to survive. However, sales revenue has been very low for over a year because visitors are not as busy as before, and they are still burdened with employee payments, waste management, electricity bills, and even new regulations requiring tax payments during low-traffic periods. Furthermore, since street vendors operating around Nyi Ageng Rakit Park, Klaten, received support from the Village-Owned Enterprise (BUMDES), the culinary plaza has seen increasingly fewer visitors. To address the low customer demand, the restaurant is open only on Saturdays and Sundays. Some restaurants are also closed completely. This study aims to determine service quality in increasing customer satisfaction at the Taman Nyi Ageng Rakit Klaten Culinary Plaza. This descriptive study used qualitative methods, with data collection methods including observation, documentation, and interviews with nine informants using a snowball sampling technique. Data were analyzed using the Miles and Huberman model: collecting data, conducting data stages, presenting data, and drawing conclusions. The results of the interviews with informants indicate that service quality indicators such as tangible evidence, reliability, responsiveness, assurance, and empathy are already being implemented by vendors at the Taman Nyi Ageng Rakit Klaten Culinary Plaza. However, there are obstacles to their implementation, including a lack of effort to improve service quality by the management of the Taman Nyi Ageng Rakit Klaten Culinary Plaza, and vendors at the Taman Nyi Ageng Rakit Klaten Culinary Plaza have limited resources, such as personnel involvement, technology use, and budget required to improve service quality indicators.