Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PERUBAHAN POSISI BIBIR BAWAH PADA PERAWATAN MALOKLUSI KELAS II DIVISI 2 DENGAN PENCABUTAN GIGI PREMOLAR Suryaprawira, Albert
M-Dental Education and Research Journal Vol 2, No 2 (2022): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Maloklusi  adalah kelainan pada gigi dan mulut yang terjadi sejak masa anak-anak periode gigi bercampur.  Perawatan ortodonti tidak hanya untuk gigi saja, akan tetapi untuk memperbaiki penyimpangan morfologis dan kompleks dentofasial. Kasus Kelas II Divisi 2 memiliki angka insidensi 10 persen. Dalam perawatan ortodonti, untuk mendapatkan ruangan di susunan gigi geligi dengan cara pencabutan gigi premolar, yang dapat mempengaruhi kondisi jaringan lunak mulut terutama posisi bibir bawah pasien (bibir bawah lebih mundur dari sebelum perawatan). Namun respon dari jaringan lunak tiap individu memang berbeda beda. Tujuan: untuk mengetahui efek pencabutan gigi premolar terhadap posisi bibir bawah pada pasien Makoklusi Kelas II divisi 2. Metode: Penelitian ini berjenis analitik observasional dengan sampel 20 pasien yang diukur posisi bibir bawahnya menggunakan metode analisa sefalometri E-Line yang kemudian diuji dengan uji statistik T berpasangan. Hasil: Didapatkan nilai signifikan sebesar 0.000 artinya terdapat  perubahan  posisi  bibir  bawah  terhadap  garis E-Line . Rata-rata posisi bibir bawah terhadap  garis E-Line  sebelum perawatan adalah 0.916 (standar deviasi 0.26) dan setelah perawatan adalah sebesar -0.784 (standar deviasi 0.336). Maka secara statistik terdapat  perubahan  posisi  bibir  bawah  terhadap  E-Line ke arah posterior. Kesimpulan: Terdapat perubahan posisi  bibir  bawah  terhadap  E-Line  akibat  pencabutan gigi premolar atas kanan dan kiri pada pasien dengan Maloklusi Kelas II Divisi 2 ke arah posterior. ABSTRACTBackground: malocclusion is a misalignment or incorrect relation between the teeth which onset since mixed dentition period.  Orthodontic treatment is not only to correct tooth position but also to fix a malrelation in morfologic and dentofacial complex problems.  Class II Division 2 Malocclusion has an incidence of 10 percent of population.  One of the methods to obtain space to correct the malocclusion is by extraction of premolars which could effect the soft tissue around face mainly the  lower lip position which could be moved to posterior compare to before treatment. But the response is individual. Purpose: to define the effect of premolar extraction to lower lip position in Class II Maluclusion Division 2. Methods: this is an observational analytic research with 20 samples of patients which measuring their lower lip position using E-line cephalometric analysis which then analysed by paired t-tets. Results: with p value of 0.000, this research shows a changing of lower lip to E-Line.  The mean value of lower lip to E-Line before treatment is 0.916 (deviation standard 0.26) and after treatment is -0.784 (deviation standard 0.336).  Then statistically it could be explained that there is a change of lower lip to E-Line. Conclusion: there is a change of lower lip to E-Line in orthodontic treatment with premolar extraction in patients with Class II Division 2 Malocclusion. 
PERUBAHAN INKLINASI INSISIF ATAS DENGAN PENCABUTAN PREMOLAR PADA PERAWATAN MALOKLUSI KELAS II DIVISI 1 (BERDASARKAN ANALISIS SEFALOMETRI) Suryaprawira, Albert
Jurnal Ilmiah dan Teknologi Kedokteran Gigi (JITEKGI) Vol 20, No 2 (2024)
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32509/jitekgi.v20i2.4026

Abstract

Latar belakang: Pasien dengan kelainan maloklusi kelas II divisi 1 mempunyai keluhan ingin memundurkan posisi gigi insisif atas yang dapat memperbaiki estetik dan penampilan dengan perawatan ortodonti. Pencabutan gigi premolar rahang atas  disarankan dalam kasus maloklusi kelas II divisi 1 untuk mengurangi proklinasi gigi anterior dan membuat bibir menjadi lebih kompeten serta memperbaiki profil  wajah.  Perawatan dapat dilakukan dengan pencabutan gigi premolar rahang atas dan penarikan gigi anterior rahang atas ke posterior atau penarikan gigi kaninus secara segmental kemudian diikuti penarikan empat gigi anterior rahang atas. Maloklusi Kelas II Divisi 1 dengan pencabutan premolar akan berpengaruh terhadap inklinasi gigi insisif atas terhadap bidang maksila yang akan menjadi lebih baik dengan perawatan ortodontik. Bahan dan Metode Peelitian : Jenis penelitian diskripsi perbandingan.  Sampel penelitian adalah data pasien tahun 2010 - 2020 di klinik pribadi, Jakarta.  Sampel dibagi kelompok maloklusi Kelas II Divisi 1 sebelum perawatan ortodonti cekat (sebelum pencabutan) dan setelah perawatan ortodonti cekat (setelah pencabutan).  Data diuji tes Kolmogorov Sminov untuk melihat distribusi data, dilanjutkan dengan uji beda (t berpasangan) untuk melihat perbedaan antar kelompok. Hasil Penelitian : Hasil uji Kolmogorov Smirnov pengukuran sefalometri kelompok sebelum dan sesudah mempunyai nilai p 0,05.  Ini menunjukkan semua kelompok berdistribusi data normal.  Hasil uji t berpasangan sudut inklinasi gigi insisif atas terhadap bidang maksila kelompok sebelum dan sesudah pencabutan didapatkan nilai p 0,05. Maka disimpulkan ada perbedaan bermakna antara kelompok sebelum dan sesudah pencabutan.  Pembahasan : Penelitian ini menunjukan terdapat perubahan inklinasi gigi insisif atas pada pasien dengan Maloklusi Kelas II Divisi 1. Rata-rata inklinasi gigi insisif atas terhadap garis bidang maksila sebelum perawatan ortodonti adalah 0.884 dan setelah perawatan adalah  0.699. Namun adanya beberapa faktor lain yang mungkin dapat mempengaruhi hasil penelitian seperti perbedaan ras subjek penelitian dan faktor lain seperti tarikan otot dan lain-lain perlu mendapat perhatian juga.  Kesimpulan: Pencabutan gigi premolar pada pasien dengan Maloklusi Kelas II Divisi 1 dapat mengakibatkan perubahan pada inklinasi gigi insisif atas terhadap garis bidang maksila ke arah posterior.
PERUBAHAN INKLINASI GIGI INSISIF ATAS DENGAN PENCABUTAN GIGI PREMOLAR PADA PERAWATAN MALOKLUSI KELAS II DIVISI 2 (Analisis Sefalometri) Suryaprawira, Albert
M-Dental Education and Research Journal Vol 4, No 2 (2024): M-Dental Education and Research Journal
Publisher : Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang: Pasien dengan kelainan maloklusi kelas II divisi 2 mempunyai keluhan ingin memundurkan posisi gigi insisif rahang atas untuk mendapatkan estetik dan penampilan yang lebih baik dengan perawatan ortodonti. Pencabutan gigi premolar rahang atas disarankan dalam kasus maloklusi kelas II divisi 2 untuk memperbaiki gigi anterior dan membuat bibir menjadi lebih kompeten serta memperbaiki profil wajah. Perawatan dapat dilakukan dengan pencabutan gigi premolar rahang atas dan penarikan gigi anterior rahang atas ke posterior atau penarikan gigi kaninus secara segmental kemudian diikuti penarikan empat gigi anterior rahang atas. Maloklusi Kelas II Divisi 2 dengan pencabutan premolar akan berpengaruh terhadap inklinasi gigi insisif atas terhadap bidang maksila yang akan menjadi lebih baik dengan perawatan ortodontik. Tujuan: Untuk mengetahui pengaruh pencabutan gigi premolar terhadap inklinasi gigi insisif atas dengan bidang maksila pada kasus Maloklusi Kelas II Divisi 2. Metode: Jenis penelitian deskripsi perbandingan. Sampel penelitian adalah data pasien tahun 2010 - 2020 di klinik pribadi, Jakarta. Sampel dibagi kelompok maloklusi Kelas II Divisi 2 sebelum perawatan ortodonti cekat (sebelum pencabutan) dan setelah perawatan ortodonti cekat (setelah pencabutan). Data diuji tes Kolmogorov Sminov untuk melihat distribusi data, dilanjutkan dengan uji beda (t berpasangan) untuk melihat perbedaan antar kelompok. Hasil: Hasil uji Kolmogorov Smirnov pengukuran sefalometri kelompok sebelum dan sesudah mempunyai nilai p 0,05. Ini menunjukkan semua kelompok berdistribusi data normal. Hasil uji t berpasangan sudut inklinasi gigi insisif atas terhadap bidang maksila kelompok sebelum dan sesudah pencabutan didapatkan nilai p 0,05. Maka disimpulkan ada perbedaan bermakna antara kelompok sebelum dan sesudah pencabutan. Kesimpulan: Pencabutan gigi premolar pada pasien dengan Maloklusi Kelas II Divisi 2 dapat mengakibatkan perubahan pada sudut antara poros gigi insisif atas dengan bidang maksila menjadi lebih kecil sehingga memperbaiki penampilan profil wajah dengan posisi bibir yang lebih harmonis.