Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Permukiman Rawan Banjir Pendekatan Mitigasi Bencana Studi Kasus Kelurahan Ternate Tanjung Pantow, Megani R. N.; Warow, Fela; Egam, Pingkan P.
Fraktal : Jurnal Arsitektur, Kota dan Sains Vol 6, No 1 (2021): Volume 6 Nomor 1, Maret 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Permukiman bantaran sungai dijadikan tempat tinggal tanpa menghiraukan bahaya, status kepemilikan, permukiman terbentuk secara spontan. Banjir menjadikan rumah terendam, struktur tidak berfungi, tanda bahaya dan petunjuk evakuasi tidak diperbaiki menjadikan kualitas lingkungan terbangun mengalami kerusakan. Kualitas perlu di identifikasi menggunakan evaluasi kualitas lingkungan bangunan untuk mengetahui kondisi dan upaya melalui pendekatan mitigasi. Metode perencanaan banjir didukung peraturan. Metode kualitatif menemukan pola hubungan, teori ataupun menggambarkan realita. Teori dapat berperan sebagai perspektif melalui pernyataan, dengan pendekatan etnografi menyelidiki suatu pemukiman, pemilihan purposive sampling atau metode tak acak bertitik tolak penilaian peneliti yang benar dan representative serta diketahui sifat tujuan juga permasalahan. Lokasi memiliki karakteristik sosial gotong royong, tiga lingkungan pemekaran memiliki topografi berombak bergelombang. Pola permukiman mengikuti sungai dan ruang kota tersedia di lokasi Kelurahan Ternate Tanjung. Permukiman memiliki konstruksi umumnya menggunakan bahan beton dan atap seng, warna rumah mengikuti keinginan pemilik. Variabel kekuatan struktur lahan, struktur fisik bangunan, ketersediaan prasarana, sarana, dan utilitas serta variabel pembangunan diidentifikasi lebih lanjut. Kekuatan struktur lahan memiliki kontur merupakan potensi dapat disiasati pembangunan talud, struktur fisik bangunan menggunakan strategi menaikan dasar rumah, ketersediaan prasarana, sarana dan utilitas pada lokasi evakuasi tidak memiliki tanda penunjuk lokasi, jaringan jalan perlu perbaikan, drainase perlu pembersihan, peralatan peringatan dini tidak berfungsi serta tempat sampah perlu diadakan. Mitigasi bencana berdasarkan lokasi banjir perlu pembangunan baru, perawatan bersama masyarakat dan pemerintah sebab kualitas mitigasi perlu ditingkatkan. Upaya mitigasi yang dilakukan telah ada tanpa perawatan, renovasi, rehabilitas dan penggantian baru tidak akan berjalan sesuai dengan perencanaan mengurangi resiko banjir. Kata-kunci: Permukiman, banjir, mitigasi, pembangunan
ARSITEKTUR KOLONIAL BELANDA MENUJU KAWASAN CAGAR BUDAYA DI KOTA TOMOHON Mantiri, Alberta; Warow, Fela; Waani, Judy O.
Fraktal : Jurnal Arsitektur, Kota dan Sains Vol 6, No 1 (2021): Volume 6 Nomor 1, Maret 2021
Publisher : Universitas Sam Ratulangi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan bersejarah sebagai bagian penting bagi perkembangan kota perlu dilakukan kajian sejarah dan arsitekturnya. Dalam sejarahnya Kota Tomohon memiliki hubungan dengan bangsa kolonial Belanda, dimana tersebar dibeberapa kawasan. Ketidaktersediaan basis data menjadi salah satu latar belakang penelitian ini penting untuk dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi ciri dan menemukan gaya arsitektur kolonial Belanda sehingga dapat menentukan arah pelestarian kedepannya menuju kawasan cagar budaya. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif eksploratif dengan analisis kuantitatif pada 3 bangunan yang ada dalam kawasan yaitu Gereja Hati Kudus, Pastoran Gereja dan Rumah Sakit Gunung Maria. Dari hasil analisis dihasilkan kesimpulan sebagai berikut: ciri arsitektur kolonial Belanda yang ada pada bangunan di kawasan di Kota Tomohon yaitu gable/gevel, tower/menara, nok acroterie/hiasan puncak atap, dan bouvenlicht/ lubang ventilasi. Dari ciri ciri yang teridentifikasi, ciri arsitektur kolonial Belanda yang dimiliki 3 bangunan penelitian, adalah adanya gable/gevel dan bouvenlicht/ lubang ventilasi. Dan Gaya arsitektur kolonial Belanda pada kawasan cagar budaya di Kota Tomohon didominasi oleh gaya Indische Empire (Abad 18-19) yaitu pada bangunan Gereja Hati Kudus sebesar 42.86 %, pada bangunan Pastoran Gereja sebesar 32.14 % dan pada bangunan Rumah Sakit Gunung Maria sebesar 42.86 %. Untuk menuju kawasan cagar budaya, maka perlu dilakukan kajian dan persiapan selanjutnya pada semua bangunan bersejarah yang ada di kawasan sesuai dengan Undang- Undang no 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.Kata Kunci: Arsitektur kolonial Belanda, Kawasan cagar budaya, Kota Tomohon