Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

POTENSI BAHAYA DI LINGKUNGAN KERJA INDUSTRI MAINAN ANAK TRADISIONAL DAN CARA PENGENDALIAN Ainunnizah, Windy; Rusdjijati, Retno; Al-manan, Oesman Raliby
Jurnal Inovasi Teknik Industri Vol 3, No 2 (2024): JURNAL INOVASI TEKNIK INDUSTRI
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Gombong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26753/jitin.v3i2.1479

Abstract

Mainan anak tradisional berbahan limbah kayu merupakan salah satu produk unggulan Kota Magelang. Terdapat dua sentra industri mainan anak tradisional di Kota Magelang, yaitu di Kalurahan Jurangombo Selatan dan Kalurahan Jurangombo Utara. Namun demikian, kapasitas produksi mainan anak ini termasuk rendah. Tidak setiap permintaan konsumen dapat dipenuhi. Konsumen harus menunggu cukup lama untuk memperoleh produk mainan anak. Hal ini kemungkinan disebabkan oleh bahan baku yang tidak tersedia setiap saat, peralatan kerja masih semi manual, dan lingkungan kerja yang kurang kondusif untuk kenyamanan bekerja. Guna memastikan apakah dugaan tersebut merupakan penyebab dari kapasitas produksi yang rendah, maka perlu dilakukan penelitian yang difokuskan pada identifikasi potensi-potensi bahaya di lingkungan kerja industri mainan anak tersebut. Potensi bahaya lingkungan kerja beresiko menimbulkan kecelakaan kerja dan penyakit akibat kerja yang akhirnya berpengaruh pada produktivitas kerja. Produktivitas kerja yang rendah berdampak terhadap kapasitas produksi. Identifikasi potensi bahaya menggunakan metode Job Hazard Analysis  (JHA) pada setiap tahapan proses produksi mainan anak yang meliputi kegiatan pemotongan, perakitan, pengecatan, dan penempelan stiker. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada proses pemotongan terdapat 4 potensi bahaya sedang dan tinggi; pada proses perakitan memiliki 4 potensi bahaya sedang dan 3 potensi bahaya tinggi; dan pada proses pengecatan dan penempelan stiker memiliki 4 potensi bahaya sedang dan 2 potensi bahaya tinggi. Pengendalian potensi bahaya ini agar tidak menimbulkan risiko dengan menggunakan pendekatan Hierarki Pengendalian Risiko yang meliputi eliminasi, subtitusi, rekayasa teknik, administratif, dan penggunaan Alat Pelindung Diri. Selanjutnya untuk mengidentifikasi postur kerja para pekerja dengan menggunakan Rapid Entire Body Assessment  (REBA) dan  kuesioner Nordic Body Map (NBM). Skor REBA pada proses pemotongan sebesar  6, pada proses perakitan sebesar 5, pada proses pengecatan 6, dan pada proses penempelan stiker sebesar 6. Skor berada di antara 5-6, sehingga termasuk level sedang yang perlu tindakan lebih lanjut. Hasil kuesioner NBM menunjukkan bahwa keluhan yang banyak dialami pekerja yaitu pinggang, leher bagian bawah, bahu kiri, paha kiri, punggung, lengan atas kanan, pergelangan tangan kanan, bahu kanan, dan lengan bawah. 
Effectiveness of Ergonomics-Based Occupational Health and Safety Assistance on Work Behavior and Welfare of Small-Scale Tofu Industry Workers: A Quasi-Experimental Study al-manan, oesman raliby; Ulinuha, Faisa Nisa
Borobudur Engineering Review Vol. 6 No. 1 (2026): Advanced Industry
Publisher : Universitas Muhammadiyah Magelang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31603/nbe21v87

Abstract

Small-scale tofu manufacturing involves multiple occupational hazards including physical accidents, heat exposure, non-ergonomic working postures, and inadequate personal protective equipment. This study aimed to evaluate the effectiveness of an ergonomics-based occupational health and safety (OHS) assistance program on knowledge, attitude, and actual work behavior among tofu workers in Yogyakarta. A quasi-experimental pre-post design was employed with 17 respondents over a two-month intervention period. Evaluation instruments covered three components: a knowledge test (correct/incorrect), a 5-point Likert attitude scale, and a behavioral observation sheet (1–4 scale) across five OHS indicators. Results showed knowledge improvement from 76.5% to 94.1% (Δ +17.6%). Attitude scores improved significantly (M pre = 18.00 vs. M post = 18.65; t(16) = −2.28, p = .037, Cohen's d = 0.53). The most substantial change occurred in observed work behavior, with total mean scores rising from 8.12 to 16.35 (Δ +101.4%; t(16) = −16.11, p < .001, Cohen's d = 5.66). The largest single-indicator gain was in daily OHS communication (Δ +2.18 points). These findings indicate that participatory, environment-modification-based assistance is effective in changing OHS behavior among micro and small-scale enterprises