Tanuhendrata, Michael Sofian
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Rekonsiliasi dan Pemulihan Relasi dalam Perspektif Teologi Pengampunan: Tafsir Teologis Kejadian 50:15–21 Tanuhendrata, Michael Sofian; Messakh, Jacob
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 6, No 2 (2025): EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership - December 2025
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v6i2.293

Abstract

The narrative of Genesis 50:15–21 describes the culmination of reconciliation in human relationships through Joseph's act of forgiveness towards his brothers. This story reveals a profound theological dimension of how God's love and sovereignty work amid human wounds and conflicts. In the modern context, especially in the digital age, human relationships are experiencing a crisis of empathy and a loss of spiritual meaning, necessitating a theological reconstruction of forgiveness as the basis for relationship restoration. The phenomenon of increasing digital dehumanisation and social breakdown emphasises the urgency of theological study of the biblical concept of forgiveness. The purpose of this study is to interpret Genesis 50:15–21 theologically to discover principles of reconciliation and relationship restoration that are relevant to character formation in contemporary Christian education. It uses qualitative research methods with a theological interpretation approach and literature study. It can be concluded that the narrative of Genesis 50:15–21 affirms forgiveness as an expression of God's love and sovereignty that restores human relationships damaged by sin and conflict. Joseph's reconciliation reflects a process of self-healing and relationship renewal rooted in faith and awareness of God's plan. Thus, the theology of forgiveness provides an ethical and spiritual foundation that is relevant for character building, Christian education, and relational ethics in a digital society that is increasingly losing its sense of humanity.AbstrakNarasi Kejadian 50:15–21 menggambarkan puncak rekonsiliasi dalam relasi manusia melalui tindakan pengampunan Yusuf terhadap saudara-saudaranya. Kisah ini menyingkap dimensi teologis yang mendalam tentang bagaimana kasih dan kedaulatan Allah bekerja di tengah luka dan konflik manusia. Dalam konteks modern, terutama di era digital relasi antar manusia mengalami krisis empati dan kehilangan makna spiritual, sehingga diperlukan rekonstruksi pemahaman teologis tentang pengampunan sebagai dasar pemulihan relasi. Fenomena meningkatnya dehumanisasi digital dan keretakan relasi sosial mempertegas urgensi kajian teologis terhadap konsep pengampunan dalam Alkitab. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan Kejadian 50:15–21 secara teologis untuk menemukan prinsip-prinsip rekonsiliasi dan pemulihan relasi yang relevan bagi pembentukan karakter dalam pendidikan Kristen kontemporer. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan tafsir teologis dan studi pustaka. Dapat disimpulkan bahwa narasi Kejadian 50:15–21 menegaskan pengampunan sebagai penyataan kasih dan kedaulatan Allah yang memulihkan relasi manusia yang rusak oleh dosa dan konflik. Rekonsiliasi yang dilakukan Yusuf mencerminkan proses penyembuhan diri dan pembaruan relasi yang berakar pada iman dan kesadaran akan rencana ilahi. Dengan demikian, teologi pengampunan memberikan dasar etis dan spiritual yang relevan bagi pembentukan karakter, pendidikan Kristen, serta etika relasi di tengah masyarakat digital yang semakin kehilangan makna kemanusiaan.
Suksesi Kepemimpinan Gereja dalam Penggembalaan Monarkhi: Kritik Teologi atas Dimensi Etis-Teologis Tanuhendrata, Michael Sofian; Nugroho, Andreas Eko; Jonathans, Kornelius Rulli
Immanuel: Jurnal Teologi dan Pendidikan Kristen Vol 7, No 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Sumatera Utara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.46305/im.v7i1.544

Abstract

Suksesi kepemimpinan gereja menjadi isu krusial dalam memastikan kesinambungan pelayanan, stabilitas penggembalaan, dan keberlangsungan misi gereja di tengah dinamika masyarakat modern. Praktik kepemimpinan monarkhi yang menempatkan figur tunggal seringkali menimbulkan tantangan etis dan teologis, terutama ketika transisi kepemimpinan tidak dijalankan secara transparan. Ketidakjelasan prosedur suksesi berpotensi menimbulkan konflik internal dan melemahkan integritas pelayanan gereja. Fenomena ini terlihat pada berbagai kasus gereja yang menghadapi gejolak suksesi akibat minimnya prinsip etis-teologis yang dijadikan pedoman. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dimensi etis dan teologis dalam praktik suksesi kepemimpinan gereja berlandaskan penggembalaan monarkhi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dan wawancara. Penelitian ini menyimpulkan bahwa suksesi kepemimpinan gereja dalam perspektif teologi Alkitabiah menekankan pentingnya kepemimpinan yang berlandaskan prinsip moral dan spiritual. Model penggembalaan monarkhi menawarkan keunggulan dalam kontinuitas pelayanan, namun juga menghadirkan problematika jika praktik suksesi tidak transparan dan adil. kritik teologis terhadap praktik monarkhi menegaskan perlunya pendekatan etis-teologis yang terstruktur untuk memastikan keberlangsungan misi gereja dan integritas penggembalaan.