Messakh, Jacob
Unknown Affiliation

Published : 7 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search

Peran Pendidikan Agama Kristen dalam Membangun Karakter Misi dalam Konteks Globalisasi Messakh, Jefrit Johanis; Messakh, Jacob
REAL DIDACHE: Journal of Christian Education Vol 3, No 2: September 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Real Batam

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53547/rdj.v3i2.435

Abstract

The increasingly complex and dynamic context of globalization requires Christian Education to adapt to existing challenges. Plurality and multiculturalism, global ethical challenges, technology and social change, conflict and tolerance and the influence of popular culture and consumerism, all these issues underscore the importance of integrating Christian religious values into the development of mission character relevant to the context of globalization. This research aims to explore the role of Christian Education in building mission character in the context of globalization. The research method used is a literature study. The results showed that Christian Education has a significant role in shaping the character of the mission that is responsive to the context of globalization, namely: instilling a deep theological understanding; strengthen the foundation of beliefs and values underlying the mission; help individuals to understand and appreciate cultural diversity in a global context; Plays a role in shaping the character of the mission that is able to adapt to the changing global environment. The mission characters that need to be possessed are love and mercy, example, service and social care, cooperation and harmony, humility, justice and truth. Christian religious education can also facilitate a deep understanding of cultural and religious diversity, thus enabling each individual to engage in mission in an inclusive and respectful manner.Keywords: Christian religious education; mission character; The context of globalizationAbstrakKonteks globalisasi yang semakin kompleks dan dinamis menuntut Pendidikan Agama Kristen untuk beradaptasi dengan tantangan yang ada. Pluralitas dan multikulturalisme, tantangan etika global, teknologi dan perubahan sosial, konflik dan toleransi dan pengaruh budaya populer dan konsumerism, semua masalah ini menggaris bawahi pentingnya mengintegrasikan nilai-nilai agama Kristen ke dalam pengembangan karakter misi yang relevan dengan konteks globalisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi peran Pendidikan Agama Kristen dalam membangun karakter misi dalam konteks globalisasi. Metode penelitian yang digunakan adalah studi pustaka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Pendidikan Agama Kristen memiliki peran yang signifikan dalam membentuk karakter misi yang tanggap terhadap konteks globalisasi, yaitu: menanamkan pemahaman teologis yang mendalam; memperkuat dasar keyakinan dan nilai-nilai yang mendasari misi; membantu individu untuk memahami dan menghargai keragaman budaya dalam konteks global; berperan untuk membentuk karakter misi yang mampu beradaptasi dengan lingkungan global yang terus berubah. Adapun karakter misi yang perlu dimiliki adalah kasih dan belas kasihan, keteladanan, pelayanan dan kepedulian sosial, kerjasama dan kerukunan, kerendahan hati, keadilan dan kebenaran. Pendidikan Agama Kristen juga dapat memfasilitasi pemahaman yang mendalam tentang keragaman budaya dan agama, sehingga memungkinkan setiap individu untuk terlibat dalam misi secara inklusif dan saling menghormati.Kata Kunci: pendidikan agama Kristen; karakter misi; konteks globalisasi
Dinamika Keberadaan Allah Tritunggal Secara Teologis dan Signifikansinya bagi Iman Messakh, Jacob
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 2, No 2 (2020): Februari 2020
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.178 KB) | DOI: 10.59830/voh.v2i2.9

Abstract

The polemic about being God has a long history of struggle. It has implications for the knowledge and basis of living together. Christianity is called to preach the One God and His actions from creation to human salvation. The doctrinal core is in grace and nature. And both of them cannot be separated from God's being. Aristotle's philosophy is a differentiator in understanding God's being. And the impact is distinguished by God's being through the philosophical method category developed by Thomas Aquinas. While the initial emphasis in opposing Arian through the council of Niceae was wrong in understanding 1 Cor 1:24 with regard to being Jesus Christ the Son who was different from Arian from being God. By Augustine and the Western and Eastern consensus adhering to the relational ousia (being) of God from the start and His actions in salvation are essential and inseparable. Abstrak Polemik tentang keberadaan Allah memiliki sejarah pergulatan panjang. Berimplikasi kepada pengetahuan dan dasar hidup bersama. Kekristenan dipanggil untuk memberitakan Allah yang Esa dan tindakan-Nya sejak penciptaan hingga keselamatan manusia. Inti doktrinalnya pada anuegrah dan alam. Dan keduanya tidak dapat dipisahkan dari keberadaan Allah. Filsafat Aristoteles menjadi pembeda dalam memahami keberadaan Allah. Dan dampaknya dibedakan keberadaan Allah melalui metode filsafat kategori yang dikembangkan Thomas Aquinas. Sementara penekanan awal dalam menentang Arian melalui konsili Niceae karena keliru dalam memahami 1 Kor 1:24 berkenaan dengan keberadaan Yesus Kristus Sang Anak yang oleh Arian berbeda dengan keberadaan Allah. Oleh Agustinus dan consensus Barat dan Timur berpegang kepada ousia (being) Allah yang relational sejak semula dan tindakanNya dalam keselamatan merupakan hal hakiki dan tidak dapat dipisahkan.
STRATEGI PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN YANG KREATIF & INOVATIF: INTEGRASI PEMBELAJARAN IMAN DI SLTA Jannes Edward Sirait; Messakh, Jacob; Pangumbahas, Recky
Edukasi : Jurnal Pendidikan Agama Kristen Vol 12 No 1 (2021): Edukasi: Jurnal Pendidikan Agama Kristen
Publisher : Bethel Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47562/edk.v12i1.154

Abstract

.
Rekonsiliasi dan Pemulihan Relasi dalam Perspektif Teologi Pengampunan: Tafsir Teologis Kejadian 50:15–21 Tanuhendrata, Michael Sofian; Messakh, Jacob
EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership Vol 6, No 2 (2025): EDULEAD: Journal of Christian Education and Leadership - December 2025
Publisher : Sekolah Agama Kristen Terpadu Pesat Salatiga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47530/edulead.v6i2.293

Abstract

The narrative of Genesis 50:15–21 describes the culmination of reconciliation in human relationships through Joseph's act of forgiveness towards his brothers. This story reveals a profound theological dimension of how God's love and sovereignty work amid human wounds and conflicts. In the modern context, especially in the digital age, human relationships are experiencing a crisis of empathy and a loss of spiritual meaning, necessitating a theological reconstruction of forgiveness as the basis for relationship restoration. The phenomenon of increasing digital dehumanisation and social breakdown emphasises the urgency of theological study of the biblical concept of forgiveness. The purpose of this study is to interpret Genesis 50:15–21 theologically to discover principles of reconciliation and relationship restoration that are relevant to character formation in contemporary Christian education. It uses qualitative research methods with a theological interpretation approach and literature study. It can be concluded that the narrative of Genesis 50:15–21 affirms forgiveness as an expression of God's love and sovereignty that restores human relationships damaged by sin and conflict. Joseph's reconciliation reflects a process of self-healing and relationship renewal rooted in faith and awareness of God's plan. Thus, the theology of forgiveness provides an ethical and spiritual foundation that is relevant for character building, Christian education, and relational ethics in a digital society that is increasingly losing its sense of humanity.AbstrakNarasi Kejadian 50:15–21 menggambarkan puncak rekonsiliasi dalam relasi manusia melalui tindakan pengampunan Yusuf terhadap saudara-saudaranya. Kisah ini menyingkap dimensi teologis yang mendalam tentang bagaimana kasih dan kedaulatan Allah bekerja di tengah luka dan konflik manusia. Dalam konteks modern, terutama di era digital relasi antar manusia mengalami krisis empati dan kehilangan makna spiritual, sehingga diperlukan rekonstruksi pemahaman teologis tentang pengampunan sebagai dasar pemulihan relasi. Fenomena meningkatnya dehumanisasi digital dan keretakan relasi sosial mempertegas urgensi kajian teologis terhadap konsep pengampunan dalam Alkitab. Tujuan penelitian ini adalah menafsirkan Kejadian 50:15–21 secara teologis untuk menemukan prinsip-prinsip rekonsiliasi dan pemulihan relasi yang relevan bagi pembentukan karakter dalam pendidikan Kristen kontemporer. Menggunakan metode penelitian kualitatif dengan pendekatan tafsir teologis dan studi pustaka. Dapat disimpulkan bahwa narasi Kejadian 50:15–21 menegaskan pengampunan sebagai penyataan kasih dan kedaulatan Allah yang memulihkan relasi manusia yang rusak oleh dosa dan konflik. Rekonsiliasi yang dilakukan Yusuf mencerminkan proses penyembuhan diri dan pembaruan relasi yang berakar pada iman dan kesadaran akan rencana ilahi. Dengan demikian, teologi pengampunan memberikan dasar etis dan spiritual yang relevan bagi pembentukan karakter, pendidikan Kristen, serta etika relasi di tengah masyarakat digital yang semakin kehilangan makna kemanusiaan.
STRATEGI PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN DALAM MEMBENTUK KETAHANAN IMAN REMAJA BROKEN HOME: STUDI KASUS DI ROTE NDAO Messakh, Jacob
Metanoia Vol 8 No 1 (2026): Metanoia Januari 2026
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Duta Panisal

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55962/metanoia.v8i1.288

Abstract

Fenomena keluarga broken home merupakan persoalan sosial yang semakin meningkat dan berdampak signifikan terhadap kehidupan remaja, termasuk pada aspek spiritual dan ketahanan iman. Di Kabupaten Rote Ndao, meningkatnya tren perceraian dan disfungsi keluarga menempatkan remaja pada kondisi rentan, seperti krisis identitas, luka emosional, serta melemahnya keterlibatan dalam kehidupan iman Kristen. Permasalahan utama yang muncul adalah terganggunya proses pembentukan iman yang seharusnya dimulai dari keluarga sebagai komunitas iman pertama, sehingga remaja mengalami kesulitan memaknai Allah, iman, dan kehidupan rohani secara utuh. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi Pendidikan Agama Kristen (PAK) dalam membentuk ketahanan iman remaja broken home melalui studi kasus di Kabupaten Rote Ndao. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan desain studi kasus. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam semi-terstruktur, observasi terhadap proses pembelajaran dan kegiatan pembinaan iman, serta studi dokumentasi pada gereja dan/atau sekolah Kristen. Subjek penelitian meliputi remaja broken home, guru Pendidikan Agama Kristen, serta pendeta atau pembina remaja yang dipilih secara purposive. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan model analisis interaktif yang mencakup reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, serta diuji keabsahannya melalui triangulasi dan member check. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi PAK yang efektif dalam membentuk ketahanan iman remaja broken home mencakup pendekatan relasional, pendampingan iman yang empatik, integrasi pengalaman hidup remaja dalam pembelajaran, serta keterlibatan aktif gereja sebagai komunitas pendukung. Strategi-strategi tersebut terbukti membantu remaja membangun pemaknaan iman yang lebih tangguh, reflektif, dan relevan dengan realitas hidup mereka.
Deep Learning Dalam Perspektif Pendidikan Agama Kristen Untuk Membentuk Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Kelas VIII di SMPN 89 Jakarta Mara, Djeta; Siringo Ringo, Samuel; Messakh, Jacob
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 5.A (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to analyze the application of deep learning in the context of Christian Religious Education in shaping and building critical thinking skills in grade VIII students at SMPN 89 Jakarta. The background of this study focuses on the low critical thinking skills of students as seen from the lack of active participation, limitations in expressing opinions, and difficulties in understanding the material in depth. The method used in this study is qualitative descriptive, with data collection through observation, interviews, and documentation. The subjects studied included Christian Religious Education teachers and grade VIII students. Data analysis is carried out through several stages, namely data reduction, data presentation, and drawing conclusions. The results of the study show that the application of deep learning in Christian Religious Education has succeeded in increasing students' active involvement, encouraging reflective skills, and helping students in connecting the material with daily life. In addition, this approach has proven to be effective in honing critical thinking skills through an awareness, meaningful, and fun learning process. Therefore, the application of deep learning In Christian Religious Education has an important role in improving the quality of learning and forming. critical thinking skills in students, although it still requires optimization in its implementation.
Pemahaman dan Praktek Pola Asuh Otoriter di Sekolah House of Faith Jakarta Barat dan Implikasinya Terhadap Pendidikan Agama Kristen Nguru, Marlina; Waruwu, Nofedin; Messakh, Jacob
Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Vol 12 No 5.A (2026): Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan
Publisher : Peneliti.net

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This paper aims to examine the understanding and practice of authoritarian parenting at the House of Faith School in West Jakarta and its implications for Christian Religious Education. Authoritarian parenting is a parenting style that emphasizes strong control, strict rules, and demands for obedience from children. This approach is often used in families and schools to foster discipline and orderly behavior in children. The research method used is descriptive with a qualitative approach. The results indicate that authoritarian parenting can foster discipline, obedience, and responsibility in children. However, excessive application has the potential to negatively impact emotional development, such as fear, lack of self-confidence, and difficulty expressing feelings and opinions. From a Christian Religious Education perspective, parenting emphasizes not only obedience but also love, patience, and role modeling. Therefore, a balance between firmness and love is necessary so that the educational process can support children's holistic development, both emotionally, socially, and spiritually.