This Author published in this journals
All Journal Imajinasi
Aprillia -
Penulis adalah dosen Jurusan Seni Rupa FBS Universitas Negeri Semarang, sekarang tengah menyelesaikan studinya pada Program Pascasajana UNNES

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

PENGARUH GAMBAR DI TABLOID SEBAGAI MEDIA KOMUNIKASI TERHADAP PENDIDIKAN ANAK REMAJA MASA KINI -, Aprillia
Imajinasi Vol 3, No 1 (2007): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Media komunikasi masa kini semakin berkembang seiring dengan perkembangan ilmu dan teknologi yang dibutuhkan manusia. Mempelajari ilmu pengetahuan dapat dilakukan melalui berbagai media, salah satunya adalah melalui cetak dalam bentuk tabloid. Anak remaja seusia anak Sekolah Menengah Pertama (SMP) rentan terhadap pengaruh dari segala jenis media yang diketahui atau diterimanya. Tabloid sebagai media informasi dalam bentuk tulisan dan gambar yang bersifat umum, tersebar seakan-akan tanpa ada seleksi jenis, bentuk, dan isi beritanya, dan hal ini terlihat serta dapat ditemui di tempat-tempat di lingkungan masyarakat luas. Oleh sebab itu, semestinya perlu mendapat perhatian dan pemikiran, berkaitan dengan tujuan dalam proses pendidikan bagi kaum remaja untuk mengantisipasi perilaku, sikap, (terlebih aspek moral) bila ada gambar atau foto yang terpampang seronok. Sebagai salah satu media komunikasi, tabloid sering pula memuat unsur visual berisi informasi yang memiliki sisi positif dan negatif bagi masyarakat luas. Aspek positifnya adalah penyampaian suatu berita yang sering disertai dengan gambar atau foto itu bertujuan untuk memperjelas berita tertentu. Namun aspek negatifnya, justru gambar atau foto tersebut kadang mengandung unsur yang dinilai tidak etis dan kemungkinan besar karena ada unsur rekayasa teknis untuk tujuan tertentu. Pemanfaatan ilmu dan teknologi tentang media komunikasi dengan citra digital dapat memberi pengalaman dan peningkatan kemampuan bagi anak dan memberi keleluasaan untuk bereksplorasi. Hal ini dapat diperoleh melalui pendidikan yang tepat, sehingga dalam penyampaian pengetahuan tentang media komunikasi diberikan secara benar. Penting bagi remaja seusia anak SMP perlu memiliki pengetahuan seluas mungkin sesuai dengan karakter mereka. Melalui pendidikan pengetahuan tentang berbagai bentuk dan jenis media komunikasi yang beredar selama ini, anak akan dapat mengetahui teknik atau pun proses pembuatan gambar/foto yang terpampang sepertiyang terdapat di tabloid.Kata kunci: tabloid, anak remaja, komunikasi visual, rekayasa, citra digital.
PERTENTANGAN IDEOLOGI PADA MASA RENAISANS DENGAN IDEOLOGI PADA ABAD PERTENGAHAN DALAM KARYA SENI -, Aprillia
Imajinasi Vol 2, No 1 (2006): Imajinasi
Publisher : Jurusan Seni Rupa, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap masyarakat tentu memiliki pola pikir dan pandangan hidup yang seiring dengan masa tersebut, misal: pembuatan seni patung yang disesuaikan dengan canon saat itu. Tidak beda dengan Abad Pertengahan yang pada masa itu dikuasai oleh gereja dan diawali dari jaman Basilika, sehingga cara berpikir dan pandangan hidupnya diwarnai dengan masalah keagamaan semata. Gereja saat itu juga mengatur pemerintahan, menjadikan agama itu (Nasrani) adalah agama negara, dan mengatur di segala bidang, termasuk bidang seni. Penciptaan seni harus berpusat pada agama atau gereja, yang bersifat teosentris, menuntut bentuk yang ideoplastis. Manusia berasal dari Allah Pencipta, maka segala yang ada, yang dibuat oleh manusia harus dikembalikan kepadaNya, sehingga manusia terikat dengan aturan dari agama yang dibuat oleh gereja tersebut, segala bentuk karya senipun di ciptakan untuk kepentingan agama atau gereja saat itu.Tetapi dengan perkembangan pemikiran dan kemampuan orang, serta seiring dengan segala bentuk penyelewengan yang dilakukan oleh para pemimpin agama (uskup), menjadikan kepercayaan masyarakat terhadap gereja saat itu tidak ada lagi. Kemunculan para kapitalis mempengaruhi masyarakat, menggiring kepada pemikiran yang bebas, individualis, untuk menemukan diri pribadi. Pusat pemikiran, pendidikan, kesenian dan kesadaran manusia tidak lagi kepada gereja, agama, tetapi kepada sesama, menjadikan hubungan yang antroposentris. Penemuan dan kembali kepada pribadi manusia adalah kelahiran baru esensi manusia, yang merupakan masa Renaissance sebagai masa pertentangan terhadap Abad Pertengahan. Keberadaan Renaisans yang membangkitkan aliran humanistik, membawa filsafati abad ini pada hal-hal yang konkret, ke alam semesta dan kepada kehidupan manusia sebagai masyarakat. Berbagai kelompok masyarakat bersatu menentang pola pikir Abad Pertengahan yang dogmatis gerejawi. Kelompok masyarakat yang melahirkan suatu perubahan dalam pemikiran manusia dan filsafatnya, serta dukungan dari gerakan kelahiran kembali pribadi manusia yang bebas, mengarahkan ciptaan karya-karya yang bersifat humanistik. Kata kunci: teosentris, antroposentris, ideoplastis, humanistis, katakomba, canon