Claim Missing Document
Check
Articles

Found 12 Documents
Search
Journal : Joglo

PEMANFAATAN LAHAN SEMPIT DI SEKITAR RUMAH UNTUK BUDIDAYA BELUT DAN IKAN LELE YANG PROSPEKTIF -, Priyono -
Joglo Vol 21, No 2 (2009): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Belut dan lele merupakan jenis ikan yang sudah dikenal luas dan lama oleh rakyat Indonesia, karena terdapat beberapa macam varitas ikan local hidupnya di perairan teruatama air tawar di seluruh wilayah Nusantara, disamping manfaatnya yang banyak untuk peningkatan pendapatan dan gizi masyarakat melalui penjualan berbagai macam bentuk berupa ikan segar, ikan kering, tepung, makanan siap saji, bibit dan lain-lain. Walaupun demikian budidaya dan pemasaran jenis ikan tersebut belum optimal secara ekstensif maupun intensif sehingga produksinya belum mampu mencukupi kebutuhan baik dalam negeri maupun ekspor. Adapun tujuan pelaksanaan program IPTEKS ini adalah untuk mengembangkan teknologi tepat guna melalui budidaya belut dan ikan lele pada lahan sempit sekitar rumah penduduk. Kegiatan ini dilaksanakan selama 10 bulan (persiapan tempat hingga pembuatan laporan), bertempat di Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah demonstrasi pada lahan sempit sekitar rumah penduduk Dusun Dagas, Mranggen, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.  Kegiatannya meliputi penjelasan teori dan praktek/pelatihan, diskusi, penugasan, pendampingan yang menyangkut budidaya belut dan ikan lele kepada peserta / anggota kelompok tani, uraiannya: 1). Penebaran benih belut sebanyak 31 kg berukuran 7-8 cm yang ditempatkan pada 4 buah kolam pembesaran dalam plastik masing-masing berukuran 3x1, 5x1 m dan 1 buah kolam pembesaran dalam bak beton masing-masing berukuran 4x2x1m,yang masing-masing kesemuanya susunan media kolam (sekaligus sebagai makanan) tebalnya dari bawah (dasar) ke atas terdiri pasir / jerami 2 cm, lumpur 10 cm, jerami 10 cm, gedebog 10 cm, pupuk kandang 10 cm, lumpur 10 cm, air 10 cm; 2). Penebaran benih lele (ukuran 4-5 cm sebanyak 500 ekor) pada 1 buah kolam pembesaran dalam bak beton berukuran 3x1, 5x1 m dengan media cukup air tawar setinggi 80 cm. Makanan tambahan belut berupa sisa-sisa daging/tulang binatang yang sehat dan sisa-sisa bahan/makanan dari dapur, sedangkan makanan lele berupa sebagian kecil pellet (awal pertumbuhan), serta sebagian sayuran kangkung mentah. Panen dilaksanakan umur 3,5 bulan untuk lele, sedangkan belut berumur 10 bulan. Hasilnya : 1). Untuk lele sebanyak 416 ekor lele (83,2% hidup) berukuran masing-masing sepanjang 28-30 cm dengan total beratnya 416x297 g = 123,562 g = 123,562 kg. Sedangkan benih yang mati 84 ekor lele (16,8%). Derajat kehidupan benih berukuran 4-5 cm = 83,2% termasuk sangat baik, karena standarnya derajat kehidupannya 70 – 80%; 2). Untuk keseluruhan belut 150,05 kg. Kata kunci : Pemanfaatan lahan sempit, budidaya belut dan lele, prospektif
MASIH RENDAHKAH PARTISIPASI WANITA INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN NEGARA ? WHAT INDONESIA LADIES PARTICIPATED DEVELOPING THEIR COUNTRY WAS STILL LAOW ? -, Priyono -
Joglo Vol 16, No 1 (2004): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Human right or emancipation of men and women in Indonesia is the same. But many applicatings often occur many differences. Because many problems or many factors have affected them. Those many factors i.e : gender problem, the employment, social-culture, etc. Although many womans work professional on the job, namely director of many factories, the head of district, many rectors, many vice rectors or many deans of universities, ministry or president on their country , etc. But now everyone still ask about participating many womans to develop on their country or state development ? Or think still low ? Key words : Human right or emancipation, women participating, state development
PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI PENDAYAGUNAAN LAHAN YANG EFEKTIF DAN SISTEM AGRIBISNIS MODERN -, Priyono -
Joglo Vol 15, No 2 (2003): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Effect the population density in Indonesia to their land reduce until 0,4 ha per person. Because their land is used to develop many factories, offeces, shopping centres, houses, roads, etc. The farmers rising problem about decreasing plant production such as rice, corn, soya bean, peanut, etc. Because they are needed to solve the problem, to give their motivation and the real thing, to improve their economics and their life by using effective land use and agrobussiness modern system. The read forms are : 1) increase self respect and prestige of farmers by land use reform/agrarian reform, 2) by using narrow land in order to increase the effective and sustainable use, 3) to be expects in post harvest and processing in agriculture product, also to be good capable in marketing, 4) to give learning and taining, to conctruct in agrobussiness modern too, 5) regulate the rule trading agriculture commodities which are more benefits, 6) to provide hardware and software agriculture commodities, 7) to control stability price and care more benefits for farmers. Key word : Rise the efforts farmers, land use, and agrobussiness modern system
ANALISIS SWOT UNTUK MANAJEMEN KEGIATAN KEMAHASISWAAN -, Priyono -
Joglo Vol 16, No 2 (2004): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT In many instances, using the design approach would be unwarranted and perhaps even inappropriate. This would be particularly true in situations where a firm needs to develop its strategies through a learning process. The SWOT analysis, for example, could become a process dominated by a few individuals in a closed room, similar to a classroom case study discussion. Key Words : The analysis SWOT, strategy, learning process
PEMETAAN TANAH PERTANIAN YANG RENTAN LONGSOR DI SEKITAR PUNCAK GUNUNG LAWU -, Priyono -; -, Sarwono -
Joglo Vol 24, No 1 (2012): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Tujuan penelitian: 1).Untuk memperoleh data  lahan pertanian di sekitar puncak lereng bagian barat G. Lawu wilayah Kabupaten Karanganyar yang rentan longsor  tahun 2010  & 2011.; 2).Untuk menyediakan peta tanah pertanian yang rentan longsor. Metode yang digunakan survey study kasus lewat observasi & interview (data primer) dan study pustaka (data sekunder): tentang terjadinya tanah longsor, jumlah lahan dan luasnya longsoran, dampakn dan pengendaliannya di Karanganyar pada tahun 2010.& 2011  Analisis Data Deskriptif dan Analisis Inferensial yakni data yang diperoleh dikumpulkan dikelompokkan / diklasifikasikan, ditabulasi terus disajikan dalam bentuk tabel, grafik dan peta. Lokasi di Kecamatan Tawangmangu, dan Kecamatan Ngargoyoso dan waktunya Maret s/d Juli 2011. Kesimpulannya: 1). Daerah Tawangmangu adalah daerah yang: a).relative altitudenya / ketinggian tempat (= 800-1000 m dpl) dan volumenya & hari hujan (121) lebih tinggi mengalami frekuensi kelongsoran (=10) yang lebih tinggi dibanding Ngargoyoso dengan frekuensi kelongsoran (=9,) tinggi tempat (750-1000 m dpl), volumenya & hari hujan 85 HH. Sedangkan luas lahan kritisnya Tawangmangu (714 Ha) justru lebih rendah daripada Ngargoyoso (1.294,50 Ha); b). memiliki perkembangan dan jenis tanah relative sama yakni Seputar Andosol dan Latosol; c).merupakan daerah strategis, yakni tempat arus lalu lintas bisnis terutama sembako, pariwisata, penghasil hortikultura (sayuran, buah-buahan, bunga-bungaan), perkebunan kopi, teh, pinus dan karet, catchment area, berhawa segar dan sejuk, penyangga utama G.Lawu; 2). Pada hakekatnya penyebab kerusakan tanah di sini selain disebabkan oleh longsornya tanah dan erosi lainnya, juga oleh  ulah manusia yang tidak terkendali.   Kata kunci: pemetaan tanah, tanah longsor, faktor penyebab kerusakan tanah
UPAYA MENGURANGI EMISI GAS RUMAH KACA (GRK) DALAM SISTEM BUDIDAYA PERTANIAN DENGAN PENGGUNAAN BAHAN ORGANIK -, Priyono -
Joglo Vol 24, No 1 (2012): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Upaya mengurangi GRK tersebut sekaligus meningkatkan hasil tanaman dapat melalui pemberian bahan organic (pemupukan bahan organic & system pertanian organic/SPO). Di Indonesia melalui: 1).Pemberian pupuk kandang dan amelioran (tanah  laterit) pada tanah gambut di Kebun Karet Kalteng  telah menghasilkan emisi  CO2 ( 15,20 % dan 21,90 %) lebih rendah dibanding control (tanpa perlakuan); 2).penyebaran pupuk kandang di permukaan tanah akan menekan kehilangan  unsur N dan  P; 3). Pengembalian residu pertanian ke dalam tanah;  4). SPO (termasuk system padi SRI Organik); 5). Pertanian Terpadu Berbasis Sumberdaya Lokal; 6).Pengembangan system  irigasi hemat air; 7). Sistem pertanian tekno- ekologis (ramah lingkungan) sesuai kondisi (Model 1 sampai Model 5): a). Model 1 (Pola diversifikasi non integrasi, atau hubungan/ pembentukan rantai makanan tanpa teknologi baru); b). memasukkan teknologi ramah lingkungan yang selalu meningkat efektivitasnya sesuai urutan model (model 2 sampai model 5 ). Di Inggris lewat SPO telah menghasilkan: 1). 3.200.000 ton unsur C dapat diserap oleh tanah setiap tahun; 2). Kombinasi savana  dan SPO menghasilkan  unsur C mampu menekan emisi CH4 dari domba; 3). Praktek SPO secara luas dapat menyerap 11 % unsur dari total emisi GRK atau menyerap 23 % emisi C lewat penggaraman C. serta mengurangi emisi unsur C (GRK) yang besar pula sekaligus telah membuat pertanian seluruh dunia lebih tahan terhadap dampak iklim ekstrim   Kata kunci: gas rumah kaca, penggunaan bahan organik, sistem pertanian organik ABSTRACTS The effort to reduce GHG while improving crop yields can be through the provision of organic material (fertilizer and organic material organic farming system / SPO). In Indonesia through: 1). Provision of manure and amelioran (laterite soil) on peat soil in Central Kalimantan, rubber gardens have produced CO2 emissions (15.20% and 21.90%) lower than the control (no treatment), 2). spread manure on the soil surface will suppress the loss of elements of N and P, 3). Returns of agricultural residues into the soil, 4). SPO (including organic SRI rice system); 5). Local Resource-Based Integrated farming; 6). Development of water-saving irrigation system; 7). Techno-ecological farming systems (green) according to the conditions (Model 1 to Model 5): a). Model 1 (non diversified pattern of integration, or ties / formation of the food chain without new technology); b). incorporate environmentally friendly technology that is increasing its effectiveness in the order model (Model 2 to Model 5). In the UK through the SPO has resulted in: 1). 3.2 million tons of elements of C can be absorbed by the soil each year; 2). Combination of savannah and SPO generates C elements can reduce CH4 emissions from sheep, 3). SPO is widely practice can absorb 11% of total GHG emissions element or absorb 23% of emissions by salting C. C. as well as reducing emissions of elements of C (GHGs) are greater at the same time has made the whole world agriculture more resilient to the impact of extreme climate Keywords: greenhouse gases, the use of organic materials, organic farming systems
PEMANFAATAN LAHAN SEMPIT DI SEKITAR RUMAH UNTUK BUDIDAYA BELUT DAN IKAN LELE YANG PROSPEKTIF Priyono - -
Joglo Vol. 21 No. 2 (2009): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Belut dan lele merupakan jenis ikan yang sudah dikenal luas dan lama oleh rakyat Indonesia, karena terdapat beberapa macam varitas ikan local hidupnya di perairan teruatama air tawar di seluruh wilayah Nusantara, disamping manfaatnya yang banyak untuk peningkatan pendapatan dan gizi masyarakat melalui penjualan berbagai macam bentuk berupa ikan segar, ikan kering, tepung, makanan siap saji, bibit dan lain-lain. Walaupun demikian budidaya dan pemasaran jenis ikan tersebut belum optimal secara ekstensif maupun intensif sehingga produksinya belum mampu mencukupi kebutuhan baik dalam negeri maupun ekspor. Adapun tujuan pelaksanaan program IPTEKS ini adalah untuk mengembangkan teknologi tepat guna melalui budidaya belut dan ikan lele pada lahan sempit sekitar rumah penduduk. Kegiatan ini dilaksanakan selama 10 bulan (persiapan tempat hingga pembuatan laporan), bertempat di Desa Mranggen, Kecamatan Polokarto, Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah demonstrasi pada lahan sempit sekitar rumah penduduk Dusun Dagas, Mranggen, Polokarto, Kabupaten Sukoharjo.  Kegiatannya meliputi penjelasan teori dan praktek/pelatihan, diskusi, penugasan, pendampingan yang menyangkut budidaya belut dan ikan lele kepada peserta / anggota kelompok tani, uraiannya: 1). Penebaran benih belut sebanyak 31 kg berukuran 7-8 cm yang ditempatkan pada 4 buah kolam pembesaran dalam plastik masing-masing berukuran 3x1, 5x1 m dan 1 buah kolam pembesaran dalam bak beton masing-masing berukuran 4x2x1m,yang masing-masing kesemuanya susunan media kolam (sekaligus sebagai makanan) tebalnya dari bawah (dasar) ke atas terdiri pasir / jerami 2 cm, lumpur 10 cm, jerami 10 cm, gedebog 10 cm, pupuk kandang 10 cm, lumpur 10 cm, air 10 cm; 2). Penebaran benih lele (ukuran 4-5 cm sebanyak 500 ekor) pada 1 buah kolam pembesaran dalam bak beton berukuran 3x1, 5x1 m dengan media cukup air tawar setinggi 80 cm. Makanan tambahan belut berupa sisa-sisa daging/tulang binatang yang sehat dan sisa-sisa bahan/makanan dari dapur, sedangkan makanan lele berupa sebagian kecil pellet (awal pertumbuhan), serta sebagian sayuran kangkung mentah. Panen dilaksanakan umur 3,5 bulan untuk lele, sedangkan belut berumur 10 bulan. Hasilnya : 1). Untuk lele sebanyak 416 ekor lele (83,2% hidup) berukuran masing-masing sepanjang 28-30 cm dengan total beratnya 416x297 g = 123,562 g = 123,562 kg. Sedangkan benih yang mati 84 ekor lele (16,8%). Derajat kehidupan benih berukuran 4-5 cm = 83,2% termasuk sangat baik, karena standarnya derajat kehidupannya 70 – 80%; 2). Untuk keseluruhan belut 150,05 kg. Kata kunci : Pemanfaatan lahan sempit, budidaya belut dan lele, prospektif
MASIH RENDAHKAH PARTISIPASI WANITA INDONESIA DALAM PEMBANGUNAN NEGARA ? WHAT INDONESIA LADIES PARTICIPATED DEVELOPING THEIR COUNTRY WAS STILL LAOW ? Priyono - -
Joglo Vol. 16 No. 1 (2004): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT   Human right or emancipation of men and women in Indonesia is the same. But many applicatings often occur many differences. Because many problems or many factors have affected them. Those many factors i.e : gender problem, the employment, social-culture, etc. Although many womans work professional on the job, namely director of many factories, the head of district, many rectors, many vice rectors or many deans of universities, ministry or president on their country , etc. But now everyone still ask about participating many womans to develop on their country or state development ? Or think still low ? Key words : Human right or emancipation, women participating, state development
PEMBERDAYAAN PETANI MELALUI PENDAYAGUNAAN LAHAN YANG EFEKTIF DAN SISTEM AGRIBISNIS MODERN Priyono - -
Joglo Vol. 15 No. 2 (2003): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Effect the population density in Indonesia to their land reduce until 0,4 ha per person. Because their land is used to develop many factories, offeces, shopping centres, houses, roads, etc. The farmers rising problem about decreasing plant production such as rice, corn, soya bean, peanut, etc. Because they are needed to solve the problem, to give their motivation and the real thing, to improve their economics and their life by using effective land use and agrobussiness modern system. The read forms are : 1) increase self respect and prestige of farmers by land use reform/agrarian reform, 2) by using narrow land in order to increase the effective and sustainable use, 3) to be expects in post harvest and processing in agriculture product, also to be good capable in marketing, 4) to give learning and taining, to conctruct in agrobussiness modern too, 5) regulate the rule trading agriculture commodities which are more benefits, 6) to provide hardware and software agriculture commodities, 7) to control stability price and care more benefits for farmers. Key word : Rise the efforts farmers, land use, and agrobussiness modern system
ANALISIS SWOT UNTUK MANAJEMEN KEGIATAN KEMAHASISWAAN Priyono - -
Joglo Vol. 16 No. 2 (2004): Joglo
Publisher : Joglo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT In many instances, using the design approach would be unwarranted and perhaps even inappropriate. This would be particularly true in situations where a firm needs to develop its strategies through a learning process. The SWOT analysis, for example, could become a process dominated by a few individuals in a closed room, similar to a classroom case study discussion. Key Words : The analysis SWOT, strategy, learning process