Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Formulasi Sediaan Gel Pewarna Rambut dari Ekstrak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Lithiflika, Ghinaa Fairuuz; Mahmudah, Febrina; Rusli, Rolan
Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology 2024: Suppl. 6, No. 1 (Special Issue for Mulawarman Pharmaceutical Conference)
Publisher : Indonesian Journal of Pharmaceutical Science and Technology

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/ijpst.v6i1.53518

Abstract

Pewarna rambut merupakan sediaan kosmetik yang digunakan untuk mewarnai rambut. Pewarna rambut yang beredar di pasaran menggunakan pewarna sintetik sebagai zat pewarnanya, sehingga penelitian ini dilakukan bertujuan untuk membuat sediaan gel pewarna rambut dari ekstrak bunga rosela dan mengetahui efektifitas serta stabilitas warna rambut dari sediaan gel pewarna rambut ekstrak bunga rosella. Ekstrak bunga rosela yang digunakan dalam formula sediaan gel pewarna rambut adalah 3%, 5%, dan 7%. Penelitian ini dilakukan dengan formulasi sediaan gel pewarna rambut, lalu dievaluasi karakteristik fisik yang meliputi uji organoleptis, homogenitas, pH, dan viskositas. Selanjutnya dilakukan uji efektifitas warna dan stabilitas warna rambut terhadap pencucian dan cahaya. Hasil penelitian menunjukkan sediaan gel pewarna rambut ekstrak bunga rosella memiliki warna coklat kemerahan, bertekstur kental hingga cair, dan beraroma khas ekstrak. Nilai viskositas gel pewarna rambut pada rentang 186,67 – 46,67 dPa.s. Nilai pH  gel pewarna rambut berada dalam rentang 5,09 – 6,99.  Efektifitas pewarna rambut menghasilkan rambut berwarna very light blonde hingga blonde. Warna rambut stabil pada beberapa kali pencucian dan terhadap cahaya UV 366 nm.
Penyuluhan Peningkatan Kepatuhan Pasien dengan Pengobatan TB di Puskesmas Karang Asam, Kota Samarinda, Kalimantan Timur Maulidya, Vina; Silaban, Ruth Inathashinta; Lujuk, Herlina; Irawati, Irawati; Mahmudah, Febrina; Annisa, Nurul
Jurnal Abdidas Vol. 6 No. 5 (2025): Oktober 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/abdidas.v6i5.1253

Abstract

Tuberkulosis (TB) adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium tuberculosis (M. Tuberculosis). TB menjadi ancaman kesehatan serius masyarakat. Saat ini, Indonesia menempati peringkat kedua. Upaya paling efektif untuk menyembuhkan TB, menghentikan penyebaran bakteri penyebab TB, mencegah kematian, dan menghindari resistensi obat adalah dengan menjalani pengobatan TB. Kegiatan promosi kesehatan ini bertujuan untuk mengetahui kepatuhan dari pengobatan pasien TB di Puskesmas Karang Asam, Kota Samarinda. Metode kegiatan dilakukan pada Juni 2025 dengan pendekatan partisipatif edukatif yang mencakup penyuluhan interaktif kepada 22 pasien. Hasil Kegiatan diambil dari 22 pasien pada bulan Januari-Juni 2025. Selanjutnya didapatkan data karakteristik berdasarkan usia yaitu 2-5 tahun 14%, 6-18 tahun 23%, 19-50 tahun 27%, 51> tahun 36%. Kemudian untuk jenis kelamin didapatkan hasil yaitu laki-laki 64% dan perempuan 36%. Serta terkait dari kepatuhan pasien dalam pengobatan diketahui bahwa pasien tidak patuh sebanyak 9,1% dan pasien patuh sebanyak 90,9%. Kesimpulan dalam kegiatan ini terdapat pasien yang tidak patuh terhadap pengobatan. Pentingnya dilakukan edukasi kesehatan secara berkala sebagai langkah untuk pengendalian faktor risiko kegagalan dari pengobatan penyakit TB di tingkat layanan Puskesmas.
Assessment of Sub-Chronic Toxicity of a Polyherbal Infusion of Peperomia pellucida, Moringa oleifera, and Biancaea sappan in Male Mice (Mus musculus) Akbar, Heldi Fadillah; Mahmudah, Febrina; Ahmad, Islamudin
Journal of Pharmaceuticals and Natural Sciences Vol. 3 No. 1 (2026): J. Pharm. Nat. Sci.
Publisher : B-CRETA Publisher (CV. Borneo Citra Kreatama)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70392/jpns.v3i1.46

Abstract

This study evaluated the sub-chronic toxicity of a polyherbal infusion composed of Peperomia pellucida, Moringa oleifera, and Biancaea sappan in male mice. Thirty healthy male mice aged 6–8 weeks, weighing 20–30 g, were orally administered doses of 560, 650, and 1300 mg/kg body weight daily for 28 days, with satellite groups observed for up to 42 days. Clinical monitoring and body weight measurements revealed no signs of toxicity or growth impairment. However, organ index analysis demonstrated dose-dependent increases in liver and kidney weights, and histopathological examination confirmed hepatocellular degeneration and tubular damage at the highest dose. These findings indicate that the infusion is generally safe at low to moderate doses, but prolonged high-dose consumption may compromise hepatic and renal integrity. The study provides important toxicological evidence supporting the establishment of safe dosage ranges for polyherbal formulations and contributes to the scientific validation of traditional medicine practices.