Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Perbandingan Konseptual dan Praktis antara Akad Musyarakah dan Mudharabah dalam Pembiayaan Syariah: Telaah Risiko dan Nilai Keadilan Sardari, Ahmad Asif; Rinaldy, Asfar
Maqrizi: Journal of Economics and Islamic Economics Vol 5 No 1 (2025): Maqrizi : Journal of Economics and Islamic Economics
Publisher : Program Studi Ekonomi Syariah, Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam Institut Agama Islam Negeri Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30984/maqrizi.v5i1.1506

Abstract

Artikel ini bertujuan untuk menganalisis dan membandingkan dua bentuk akad utama dalam pembiayaan syariah, yaitu Musyarakah dan Mudharabah, dengan menekankan pada aspek konseptual, penerapan praktis, efisiensi risiko, serta nilai keadilan dalam distribusi keuntungan dan kerugian. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka terhadap literatur klasik fiqh, fatwa DSN-MUI, serta regulasi dan praktik perbankan syariah kontemporer. Hasil kajian menunjukkan bahwa kedua akad tersebut berlandaskan pada prinsip bagi hasil (profit and loss sharing), namun memiliki perbedaan mendasar dalam struktur risiko, pola partisipasi, dan tanggung jawab modal. Musyarakah menawarkan pendekatan partisipatif berbasis kepemilikan bersama, sementara Mudharabah mengandalkan kepercayaan satu arah antara pemilik modal dan pengelola. Dalam konteks risiko dan keadilan, Musyarakah cenderung lebih seimbang, sedangkan Mudharabah lebih rentan terhadap moral hazard dan asimetri informasi. Kajian ini merekomendasikan perlunya desain kontrak dan tata kelola yang lebih kuat dalam penerapan kedua akad agar tetap sesuai dengan prinsip maqashid al-shariah serta menciptakan sistem pembiayaan syariah yang inklusif dan berkelanjutan.
Kelemahan Kedudukan Pembuktian Keterangan Anak Korban Dalam Perkara Asusila: Muammar, Muammar; Meldandy, Maulana; Sardari, Ahmad Asif
Al-Mizan (e-Journal) Vol. 20 No. 2 (2024): Al-Mizan (e-Journal)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/am.v20i2.4622

Abstract

The weak position of witness testimony of child victims of indecent crimes, due to the position of witness testimony of child victims cannot be fully accounted for in the criminal justice system. This article aims to describe the weak position of witness testimony of child victims of indecent crimes and the reasons for the unreliability of witness testimony of child victims of indecent crimes. This research is based on qualitative research by conducting a study of legislation, court decisions and literature studies. The results showed that the witness testimony of child victims of indecent acts is not considered valid evidence, but still has value as a clue. Article 188 paragraph (1) of the Criminal Procedure Code, the testimony of a child witness who is not sworn can be used as a clue even though it does not fulfil the formal requirements of evidence. In Supreme Court Decision Number 3913 K/Pid.Sus/2019, it is stated that child witness testimony, although it does not have full evidentiary power because it is not sworn, is still considered to strengthen other evidence. To fulfil the minimum requirement of two pieces of evidence, child witness testimony must be supported by other valid evidence. Therefore, the criminal justice system needs to give special treatment to child witness testimony in immoral cases so that it remains valuable in evidence.
Belis dalam Perkawinan Masyarakat Islam Lamaholot di Flores Timur Perspektif Hukum Islam Sardari, Ahmad Asif
Jurnal Al-Qadau: Peradilan dan Hukum Keluarga Islam Vol 5 No 2 (2018)
Publisher : Jurusan Hukum Acara Peradilan dan Kekeluargaan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/al-qadau.v5i2.7098

Abstract

Belis dalam perkawinan masyarakat lamaholot berupa gading gajah yang diberikan oleh pihak calon mempelai laki-laki kepada keluarga calon mempelai perempuan menjadi suatu bentuk penghargaan yang luar biasa kepada perempuan lamaholot. Aturan adat lamaholot, jika  laki-laki beserta keluarganya telah menunaikan, memberikan atau mengantarkan belis ke kediaman orang tua perempuan, dan dari keluarga pihak perempuan pun telah memberikan balasan dari belis tersebut berupa kain sutra, lipa (sarung), kwatek (kain tenun), pakaian, gelang, kalung dan emas yang diisi penuh dalam lemari, maka mereka telah dinyatakan sah secara adat menjadi pasangan suami istri, meskipun belum terjadi akad nikah secara Islam melalui wali dari pihak perempuan. Belis termasuk dalam kategori hadiah, meskipun dalam aturan adat lamaholot, belis merupakan syarat pemberian mutlak yang harus ditunaikan seorang laki-laki jika ingin menikahi perempuan lamaholot, tapi berdasarkan syariat Islam, belis bukanlah merupakan ketentuan wajib atau syarat mutlak jika ingin melakukan proses pernikahan. Adapun hibah dalam syariat Islam hukumnya adalah sunnah.Belis in the marriage of lamaholot community is in the form of elephant ivory provided by the prospective bridegroom to the family of the prospective bride to be a form of extraordinary appreciation to the lamaholot female. The lamaholot customary rules, when a man and his family have fulfilled, provided or delivered belis to the residence of a woman's parents, and from the woman’s family has offered a reply from the belis in the forms of silk cloth, lipa (sarong), kwatek (woven cloth), clothes, bracelets, necklaces and gold filled in the closet, they have been legally declared customary to become a husband and a wife, even though the marriage contract has not yet taken place through a female guardian. Second, belis belongs to the prize category, although in lamaholot customary rules, belis is an absolute requirement that a man must fulfill when he wishes to marry a lamaholot woman, yet based on the Islamic law, belis is not a mandatory requirement or an absolute requirement when wishing to carry out the marriage process. As for hibah in Islamic law it is sunnah.
Analisis I’jaz Balaghi dalam Ayat-ayat Tentang Pendidikan Tauhid Sardari, Ahmad Asif; Rinaldy, Asfar
Jurnal Tafsere Vol 13 No 2 (2025)
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/jt.v13i2.63267

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek i’jaz balaghi (keindahan retoris dan keunggulan bahasa) dalam ayat-ayat Al-Qur’an yang mengandung nilai pendidikan tauhid. Melalui pendekatan tafsir balaghi, penelitian ini menelaah tiga kelompok ayat utama, yaitu Surah Al-Ikhlas, Surah Luqman ayat 13–19, dan Surah Al-Baqarah ayat 21–22. Hasil kajian menunjukkan bahwa i’jaz balaghi dalam ayat-ayat tersebut terletak pada pilihan diksi yang padat makna, keseimbangan struktur kalimat, serta keindahan retorika yang tidak dapat ditandingi oleh karya manusia. Unsur i’jaz tersebut mengandung nilai-nilai pendidikan tauhid, seperti pengesaan Allah, penolakan terhadap syirik, dan pembentukan kesadaran spiritual dalam kehidupan manusia. Dengan demikian, i’jaz balaghi bukan hanya bukti kemukjizatan linguistik Al-Qur’an, tetapi juga media pendidikan akidah yang efektif dan mendalam.