Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengelolaan Sarana Prasarana Pendidikan Dalam Meningkatkan Prestasi Siswa (Studi Kasus SDN Bantarsari Kabupaten Cilacap) ardiansyah, Didik Ardiansyah; Atik harum Iskiantoro, Onenyen; Andiansyah , Fitri; Ernawati, Ratna; Tursino, Tursino; Enas, Enas
BADA'A: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 6 No. 1 (2024): :Badaa: Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar
Publisher : Fakultas Tarbiah Institut Agama Islam (IAI) Hamzanwadi Pancor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37216/badaa.v6i1.1571

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh rasa ingin tahu penulis tentang pengelolaan sarana prasarana pendidikan yang dilakukan kepala sekolah SD Negeri Bantarsari. Tujuan Penelitian ini untuk mengetahui proses pengelolaan sarana parasarana pendidikan, kendala serta upaya pengelolaan sarana prasarana pendidikan, dan kinerja guru dalam pemanfaatan sarana prsarana pendidikan di SD Negeri Bantarsari Kabupaten Cilacap. Dalam penenlitian ini penulis menggunakan metode deskrptif dengan pendekatan kualitatif. Sedangkan teknik pengumpulan data yang penulis gunakan ialah teknik wawancara, obeservasi, dan studi dokumentasi. Data yang diperoleh selanjutnya diolah dan diinterpretasikan menjadi kesimpulan penelitian. Setelah dilakukan analisis terhadap data-data penelitian, dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah SD Negeri Bantarsari melaksanakan seluruh tahapan pengelolaan sarana pendidikan. Tahap perencanaan dilakasanakan dalam rapat kordinasi pada awal tahun pelajaran, melakukan analisis dan proyeksi kebutuhan sarana prasarana, dan penetapan program sekolah. Tahap pengadaan dilakukan dengan cara pembelian langsung oleh pihak sekolah dengan menggunakan anggaran yang tersedia dari dana BOS, serta bantuan pada pihak pemerintah daerah/pusat berupa block grand sarana prasarana pendidikan. Tahap pengaturan terdiri kegiatan inventarisasi yang dilaku kan oleh salah seorang guru yang diberi tugas sebagai pencatat sarana parasarana, dan kegiatan pemeliharaan dilakukan oleh seluruh warga sekolah dibawah koordinasi kepala sekolah. Tahap penggunaan, sarana parasarana diatur sedemikian rupa agar para pemanfaat sarana tidak mendapati kesulitan dalam penggunaannya, namun sarana prasarana yang ada belum dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh guru dalam pembelajaran. Tahap penghapusan dimulai dari pemeriksaan, pemilihan, pengajuan penghapusan pada pihak dinas pendidikan, pelaporan pada pihak berwajib (sarana parasarana pendidikan yang hilang), pemusnahan, dan penghapusan pada buku inventaris. Kendala yang dihadapi sekolah dalam pengelolaan sarana prasaran pendidikan adalah keterbatasan anggaran khususnya untuk tahap pengadaan. Upaya yang dilakukan dalam pengadaan dengan memprioritaskan sarana prasarana yang sangat dibutuhkan bagi proses pembelajaran serta menjalin kerjasama dengan pihak sekolah untuk mencari sumber anggran lain agar sekolah tidak bergantung pada dan yang diberikan pemerintah.
PARADOKS GENERASI Z DI LAHAN PERTANIAN: ANALISIS PERSEPSI DALAM MENGHADAPI KRISIS REGENERASI PETANI MUDA DI KOTAWARINGIN TIMUR Ernawati, Ratna; Dwi Pamungkas, Satria; Hirdiyani, Tika; Permadi, Rokhman Permadi
MAHATANI: Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal) Vol 8 No 2 (2025): Mahatani : Jurnal Agribisnis (Agribusiness and Agricultural Economics Journal)
Publisher : Universitas Garut

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52434/mja.v8i2.43038

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji persepsi generasi Z terhadap sektor pertanian di Kabupaten Kotawaringin Timur dan menganalisis faktor sosial, ekonomi, dan psikologis yang memengaruhi persepsi tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode survei terhadap 200 responden berusia 18–28 tahun. Data dikumpulkan melalui kuesioner berskala Likert lima poin dan dianalisis menggunakan regresi logistik ordinal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara umum generasi Z memiliki persepsi positif moderat dengan 48,9% responden menilai pertanian baik, 44,4% cukup baik, dan hanya 6,1% yang menilai sangat baik. Analisis regresi menunjukkan bahwa dua variabel berpengaruh signifikan terhadap persepsi, yaitu lingkungan tempat tinggal dan eksposur digital terhadap konten pertanian. Responden yang tinggal di lingkungan non-pertanian memiliki peluang 49% lebih rendah untuk memiliki persepsi positif dibanding yang tinggal di lingkungan pertanian. Sebaliknya, peningkatan satu tingkat eksposur digital terhadap pertanian meningkatkan peluang persepsi sangat baik sebesar 4,9%. Faktor usia, jenis kelamin, pendidikan, dan pekerjaan orang tua tidak berpengaruh signifikan. Hasil ini menegaskan bahwa eksposur digital dan kedekatan lingkungan pertanian memainkan peran penting dalam membentuk citra dan minat generasi muda terhadap pertanian. Oleh karena itu, penguatan branding digital pertanian dan pengalaman lapangan menjadi strategi penting dalam menarik keterlibatan generasi Z di sektor pertanian.